sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Gladis Putih, betina pendendam di Selat Gibraltar kembali berulah

Gladis Putih mungkin telah mengajari paus pembunuh lainnya untuk menyerang kapal sebagai “balas dendam”.

Fitra Iskandar
Fitra Iskandar Kamis, 09 Nov 2023 11:45 WIB
 Gladis Putih, betina pendendam di Selat Gibraltar kembali berulah

Citra paus hitam-putih yang besar namun imut dan menggemaskan nampaknya bisa menipu. Setidaknya kesan itu bisa berubah karena ulah segerombolan orca yang dipimpin betina yang dijuluki Gladis Putih di selat Gibraltar. Betina itu disebut menjadi buas dan agresif karena menyimpan dendam. Tetapi sebagian mengatakan mereka hanya bermain-main.

Korban serangan gerombolan Gladis Putih ini kembali bertambah. Mereka menyerang hingga menenggelamkan sebuah kapal pesiar setelah menghantamnya selama hampir satu jam pada 31 Oktober lalu. 

Dilaporkan, Grazie Mamma, kapal pesiar layar berukuran sedang milik perusahaan pelayaran Polandia Morskie Mile itu diserang oleh orca yang tidak diketahui jumlahnya selama sekitar 45 menit di lepas pantai Maroko. 

Ini adalah serangan keempat di wilayah tersebut dalam dua tahun terakhir.

Awak kapal pesiar berhasil lolos dari amukan gerombolan orca itu, kata perusahaan Polandia yang mengoperasikan kapal tersebut. Beruntung, mereka tidak terluka, dan sehat” setelah kejadian tersebut.

“Meskipun ada upaya untuk membawa kapal pesiar ke pelabuhan oleh kapten, kru dan penyelamat dari Pencarian dan Penyelamatan, kapal tunda pelabuhan dan Angkatan Laut Maroko, unit [kapal pesiar] itu tenggelam di dekat pintu masuk pelabuhan Tanger," terang perusahaan kapal tersebut.

Aksi gerombolan Gladis Puth

Kelompok orca 'Gladis Putih', diperkirakan menjadi pelaku di balik penyerangan terhadap pelaut di wilayah tersebut setidaknya sejak tahun 2020.

Sponsored

Gladis Putih mungkin telah mengajari paus pembunuh lainnya untuk menyerang kapal sebagai “balas dendam” setelah tertabrak kapal atau terjerat jaring ikan, lapor Telegraph.

Fenomena ini sejauh ini hanya terjadi di Selat Gibraltar dan pantai Portugis, kecuali satu contoh kapal pesiar di Skotlandia yang ditabrak oleh seekor paus pembunuh yang berjarak lebih dari 2.000 mil jauhnya.

Terdapat 47 laporan interaksi dengan orca di wilayah tersebut pada tahun ini, meskipun tidak semuanya berakhir dengan serangan terhadap kapal.

Pada tahun 2020 dan 2021, “musim” serangan orca terjadi antara bulan Juni dan Oktober, namun tahun lalu Cruising Association mencatat aktivitas paus pembunuh terus berlanjut sepanjang musim dingin dengan tingkat yang berkurang.

Banyak interaksi mengikuti skenario yang sama, dengan orca menanduk atau menggigit kemudi sebelum kehilangan minat saat perahu berhenti bergerak.

Pada tanggal 2 Mei, enam orca menabrak kapal pesiar Bavaria 46 di Selat Gibraltar, dekat Tangier.

 Serangan selama satu jam itu membuat pasangan Janet Morris, 58, seorang konsultan bisnis, dan Stephen Bidwell, 58, seorang fotografer, di Cambridge, Inggris, 'takjub'.

Janet Morris dan Stephen Bidwell, dari Cambridge itu, sedang menikmati hari kedua dari kursus berlayar selama seminggu di Selat Gibraltar ketika mereka merasakan adanya benturan di lambung kapal.

“Saya tidak percaya ketika saya melihatnya – ini sangat jarang terjadi. Kami sedang duduk diam,” Janet, seorang konsultan bisnis, mengatakan kepada Daily Mail tentang momen  itu.

Video kejadian tersebut menunjukkan kelompok orca agresif tersebut berulang kali berenang ke lambung dan kemudi kapal pesiar Bavaria setinggi 46 kaki.

Para kru berjuang untuk mengusir paus sambil juga berjuang melawan angin kencang dan gelombang besar.

Di tengah ketakutan, orang-orang berusaha tenang dan tidak melarikan kapal, karena berpikir Orca akan menikmati momen memburu mereka, jika mereka bergerak-gerak panik.

Setelah satu jam kawanan Orca itu berhenti menyerang, dan mereka pun kembali ke pelabuhan, karena kapal mengalami kerusakan di bagian kemudi.

“Ini adalah pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan,” kata Bidwell.

“Saya terus mengingatkan diri sendiri bahwa kita memiliki perahu seberat 22 ton yang terbuat dari baja, namun melihat tiga paus datang sekaligus, dengan cepat dengan siripnya keluar dari air adalah hal yang menakutkan,” katanya.

Intensi gerombolan paus itu merusak kapal masih menjadi perdebatan. Banyak ahli yang menganggap perilaku orca tersebut hanya main-main, namun ada ilmuwan yang berpendapat bahwa serangan tersebut dimulai karena White Gladis mengalami trauma.

4 Manusia yang terbunuh orca 

Sejauh ini berdasarkan catatan, terdapat empat insiden serangan orca yang mengakibatkan empat orang tewas. Namun, keempat insiden itu terjadi di penangkaran. 

Tiga dari empat kematian itu, melibatkan orca yang diberi nama Tilikum. Orca itu menyebabkan kematian pelatihnya di sebuah taman di Canada (1991), di Sea World Orlando pada 2010, dan satu korbannya adalah pria yang secara ilegal masuk ke Florida Park (1999). Kisahnya diangkat dalam dokumenter berjudul Blackfish pada 2013.

Orca juga biasa disebut paus pembunuh. Meski namanya terdengar mengancam, paus pembunuh hewan itu dinilai tidak mempunyai naluri untuk menganggap manusia sebagai makanannya.

Hanne Strager, seorang ahli biologi dan peneliti paus asal Denmark, mengatakan orang-orang di lepas pantai Norwegia telah berenang di dekat paus pembunuh selama beberapa dekade.

"Paus pembunuh tampaknya sama sekali tidak tertarik pada manusia. Mereka tertarik pada makanan, yang bagi mereka di daerah itu adalah ikan haring," katanya. "Saya pikir mereka hanya menganggap manusia adalah sesuatu yang aneh, tentu saja bukan makanan, dan bukan sesuatu yang mengganggu mereka."

Itulah sebabnya orca tidak menyerang — mereka tidak menganggap manusia sebagai makanan.

“Jika Anda melihat di seluruh dunia, berbagai jenis populasi memiliki spesialisasi dalam memakan berbagai jenis mangsa,” kata Andrew Trites, direktur Unit Penelitian Mamalia Laut di Universitas British Columbia, seraya menambahkan bahwa beberapa populasi orca terutama memakan ikan, sementara yang lain memakan mamalia laut.

“Mereka tetap berpegang pada apa yang mereka ketahui, dan manusia tidak pernah menjadi bagian dari makanan mereka,” katanya kepada Insider. 

Trites menambahkan bahwa menurutnya kecil kemungkinan seekor orca salah mengira manusia sebagai anjing laut mengingat kemampuan intelektual paus. 

Orca yang mengincar perahu juga tampaknya tidak tertarik pada manusia, kata Strager. Pertemuan tersebut biasanya melibatkan orca yang mendekati perahu dari belakang dan memukul kemudi, terkadang hingga kemudi rusak dan perahu tidak dapat bergerak.

Salah satu awak kapal yang berada di kapal yang ditenggelamkan oleh paus mengatakan kepada Strager bahwa begitu kapal tersebut mulai tenggelam, para orca kehilangan minat terhadapnya dan pergi. 

Mereka tampaknya tidak tertarik dengan apa yang ada di kapal tersebut, hanya tertarik pada kapal itu sendiri.

Strager dan Trites termasuk di antara para ahli yang berpendapat bahwa penjelasan yang paling mungkin atas perilaku tersebut adalah karena orca sedang bermain. 

Strager membandingkannya dengan cara manusia bermain-main dengan bungkus gelembung dengan memecahkannya. Dengan kata lain, orca mungkin hanya menganggap perahu sebagai mainan besar.(stuff, insider, natgeo, nypost)

Berita Lainnya
×
tekid