sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Klaim Trump klorokuin disetujui jadi obat Covid-19 keliru

Klorokuin telah digunakan untuk mengobati malaria, lupus, dan rheumatoid arthritis atau peradangan sendi.

Valerie Dante
Valerie Dante Sabtu, 21 Mar 2020 14:14 WIB
Klaim Trump klorokuin disetujui jadi obat Covid-19 keliru
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini

Dalam pengarahan media di Gedung Putih, Washington, pada Kamis (19/3), Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa Food and Drug Administration  (FDA) atau Badan Pengawas Obat dan Makanan AS telah menyetujui klorokuin untuk mengobati Covid-19.

Klorokuin telah digunakan untuk mengobati malaria, lupus, dan rheumatoid arthritis atau peradangan sendi.

"Obat tersebut menunjukkan hasil yang sangat baik. Dan kita dapat membuat obat itu tersedia segera. FDA begitu hebat, mereka telah melalui proses persetujuan, (obat itu) sudah disetujui," kata Trump.

Dia menambahkan, biasanya FDA membutuhkan waktu lama untuk menyetujui obat seperti itu.

Namun, faktanya klorokuin belum disetujui oleh FDA untuk mengobati coronavirus jenis baru. Dalam pernyataan terpisah, FDA menegaskan bahwa sejauh ini belum ada terapi atau obat yang disetujui lembaga itu untuk mengobati, menyembuhkan, atau mencegah Covid-19.

Selama beberapa dekade, klorokuin digunakan untuk mengobati malaria. Secara teknis, dokter dapat meresepkannya kepada pasien positif coronavirus, praktik ini dikenal sebagai off-label prescribing.

Trump dinilai telah secara salah mengklaim bahwa FDA sudah menyetujui obat tersebut untuk mengatasi pandemik coronavirus jenis baru. Padahal nyatanya keamanan dan efektivitasnya belum terbukti dapat menangani virus tersebut.

Selang beberapa menit setelah pengarahan media Trump berakhir, Komisaris FDA Stephen Hahn mengeluarkan pernyataan yang menekankan bahwa klorokuin masih perlu melalui uji klinis untuk menentukan apakah obat tersebut dapat membantu pasien Covid-19.

Sponsored

Hahn mengatakan bahwa FDA tengah bekerja sama dengan pemerintah dan sejumlah entitas akademis untuk menyelidiki apakah klorokuin dapat digunakan untuk mengobati pasien Covid-19 dengan gejala ringan hingga sedang. Mereka mencoba mencari tahu apakah klorokuin mampu mengurangi durasi gejala dan membantu mencegah penyebaran virus.

"Kami harus memastikan produk ini efektif. Jika tidak, kami berisiko memberikan obat yang tidak berfungsi kepada pasien," jelas dia.

Uji coba obat umumnya membutuhkan ratusan hingga ribuan pasien. Bahkan jika prosesnya dipercepat, perlu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan untuk menyelesaikannya.

Perusahaan farmasi, Bayer, pada Kamis mengumumkan akan menyumbangkan tiga juta tablet obat klorokuin fosfat yang mereka jual dengan nama Resochin kepada pemerintah AS.

"Data baru dari penelitian praklinis yang dilakukan di China menunjukkan potensi penggunaan Resochin dalam mengobati pasien positif coronavirus," jelas Bayer dalam pernyataannya. (CNN dan Associated Press)

Berita Lainnya