close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Foto. AP
icon caption
Foto. AP
Dunia
Senin, 21 Juni 2021 20:39

Olimpiade Tokyo 2020 hanya boleh ditonton orang Jepang

Penonton tidak akan dites sebelum memasuki stadion. Mereka hanya tidak boleh teriak-teriak dan harus tetap pakai masker.
swipe

Olimpiade Tokyo 2020 jalan terus meski pandemi Covid-19 masih membayangi dunia. Seperti gelaran Euro 2020, Tokyo pun akan membuka arena pertandingan untuk dihadiri penonton.

Namun, sudah dipastikan Pesta Olahraga terakbar di dunia ini tidak akan disaksikan secara langsung oleh penonton dari luar negeri. Sedangkan, penonton dalam negeri akan diizinkan.Hanya saja kapasitasnya akan diatur tidak melebihi 50 persen kursi penonton.  Atau setiap sesi, boleh dihadiri sampai 10 ribu orang, selama tidak melebihi 50% kapasitas.

Sejumlah protokol kesehatan pun diterapkan seperti melarang fans untuk berbicara keras atau berteriak. Penonton juga diwajibkan menggunakan masker selama berada di arena. 

Olimpiade Tokyo 2020 akan mulai pada 23 Juli, sementara Paralimpik menyusul sebulan kemudian, yaitu 24 Agustus. Apakah Paralympics juga akan membuka arena untuk penonton? International Olympic Commitee (IOC) dan International paralympic Commitee (IPC), pemerintah Kota Tokyo dan pemerintah Jepang, dalam keterangan bersamanya mengatakan bahwa keputusan mengenai kebijakan penonton pada Paralimpik baru akan diumumkan pada 16 Juli.

Keputusan ini bertolak belakang dengan laporan yang dirilis ahli kesehatan Jepang bahwa menggelar pertandingan tanpa penonton lebih kecil risiko dan merupakan opsi yang diinginkan.

CEO  Tokyo 2020, Seiko Hasimoto mengatakan bahwa keputusan membuka arena untuk dihadiri penonton bukanlah hal yang berlebihan. Sebab, sejumlah tempat di dunia menunjukkan mereka bisa menggelar acara olahraga dengan penonton.

"Semua belahan dunia menghadapi isu yang sama, dan kita harus bekerja sama untuk mengatasinya," ujarnya.

Delegasi dan sponsor akan dikategorikan sebagai penyelenggara. Mereka tidak menjadi bagian dari pembatasan 10 ribu penonton.

Lima pihak yang terkait dalam penyelenggaran ini akan tetap memantau situasi. Bila memang di tengah perhelatan angka Covid-19 melonjak dan mempengaruhi sistem kesehatan di Jepang, bisa jadi akan ada kebijakan baru seperti memberlakukan pembatasan-pembatasan termasuk soal jumlah penonton.

Sebelumnya kekhwatiran merebak bahwa ajang olahraga itu akan berdampak buruk pada angka infeksi Covid-19 di Jepang. Sebab itu Perdana Menteri Yoshihide Suga pekan lalu mengimbau kepada warganya untuk menonton dari rumah, ketimbang datang ke lapangan.

Sementara Sabtu lalu, lima pekan sebelum Olimpiade dimulai, Tokyo mencabut keadaan darurat yang diberlakukan sejak April karena kenaikan tingkat infeksi. 

Meski secara umum keadaan darurat dicabut, namun sejumlah area, termasuk Tokyo, masih dalam pemantauan hingga 11 Juli.

Saat ini, tidak ada rencana untuk melakukan tes terhadap penonton sebelum mereka masuk ke venue. Penyelenggara hanya meminta mereka untuk memakai masker dan mengikuti protokol yang berlaku.

Perkembangan Covid-19 di Jepang menurut Our World Data rata-rata kasus harian mencapai 1.400. Angka ini sudah berkurang jika dibandingkan dengan pertengahan Mei yang menembus 6 ribu kasus.

Sementara di Tokyo jumlah kasus baru untuk 20 Juni tercatat 376 dan rata-rata kasus baru dalam sepekan adalah 388 kasus baru perhari. Angka ini stabil selama 10 hari terakhir.

Olimpiade Tokyo 2020 akan diikuti 15 ribu atlet dari berbagai negara. Jika ditotal dengan jumlah ofisial dari luar negeri yang terlibat menjadi 78 ribu orang. Para atlet ini akan berlaga di 33 cabang olahraga yang dipertandingkan.

Dalam Olimpiade kali ini, Indonesia sendiri mengirimkan 26 atlet. Masing-masing untuk cabang olahraga bulu tangkis (11), angkat besi (5), panahan (2), atletik (2), rowing (2), menembak (1), surfing (1), dan renang (2).

img
Fitra Iskandar
Reporter
img
Fitra Iskandar
Editor

Tag Terkait

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan