sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Pemerintah Yaman dan separatis STC berdamai

Perdamaian tercapai lewat penandatanganan kesepakatan pembagian kekuasaan di Riyadh, Arab Saudi, pada Selasa (6/11).

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Rabu, 06 Nov 2019 12:38 WIB
Pemerintah Yaman dan separatis STC berdamai

Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan separatis yang didukung Uni Emirat Arab (UEA) telah menandatangani kesepakatan pembagian kekuasaan untuk menghentikan pertikaian.

Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman menggambarkan apa yang disebut "Perjanjian Riyadh" itu sebagai langkah penting menuju solusi politik untuk mengakhiri perang berdarah selama empat tahun di Yaman.

"Perjanjian ini akan membuka periode baru stabilitas di Yaman. Kerajaan Arab Saudi mendukung Anda," kata pangeran berinisial MBS tersebut dalam upacara penandatanganan di Riyadh. "Ini sebuah hari yang menyenangkan karena kedua belah pihak bersatu."

Kesepakatan tersebut akan memicu perombakan pemerintahan untuk memasukkan anggota kelompok separatis dengan perwakilan yang setara. Sementara itu, angkatan bersenjata mereka akan ditempatkan di bawah kendali pemerintah.

Peter Salisbury, pakar Yaman di Crisis International Group, think tank yang berbasis di Brussels, mengatakan bahwa perjanjian tersebut memecahkan dua isu jangka pendek dengan catatan itu berhasil diterapkan.

Pertama, mencegah terjadinya perang dalam perang antara kelompok separatis di selatan dan pemerintahan Abdu Rabbu Mansour Hadi. Kedua, itu dapat memberikan lebih banyak kredibilitas bagi negosiasi ke depannya antara pemerintah dengan kelompok Houthi.

Pada Agustus, gerakan separatis yang didukung UEA, yang menginginkan pemerintahan sendiri di Yaman selatan, merebut lokasi pemerintahan sementara di Kota Aden.

Minggu-minggu yang diwarnai pertikaian berdarah memicu kekhawatiran pelemahan lebih lanjut terhadap blok pemberontak anti-Houthi dan merusak peluang untuk menemukan solusi negosiasi bagi perang saudara.

Sponsored

Utusan khusus PBB untuk Yaman Martin Griffiths mengucapkan selamat kepada kedua belah pihak atas kesepakatan tersebut.

"Penandatanganan perjanjian ini merupakan langkah penting bagi upaya kolektif kita untuk memajukan penyelesaian damai bagi konflik di Yaman," sebut Griffiths. "Mendengarkan para pemangku kepentingan di selatan penting bagi upaya politik untuk mencapai perdamaian di negara ini."

Melawan Houthi

Dewan Transisi Selatan (STC), separatis yang didukung UEA dan pemerintah Yaman yang disokong Arab Saudi sebelumnya telah menyetujui kesepakatan awal yang dirancang untuk mengakhiri pertikaian.

STC adalah kelompok Yaman yang bergabung dengan aliansi militer pimpinan Arab Saudi, yang pertama kali melakukan intervensi di Yaman pada Maret 2015 untuk memulihkan pemerintahan Hadi tidak lama setelah terusir dari Sanaa oleh pemberontak Houthi.

Riyadh telah berusaha untuk memfokuskan kembali koalisi yang dipimpinnya untuk memerangi Houthi, setelah kelompok itu berulang kali meluncurkan rudal dan serangan pesawat tanpa awak ke sejumlah kotanya dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam beberapa pekan terakhir, Arab Saudi meningkatkan kehadiran militernya di Yaman selatan dengan membawa pasukan tambahan, kendaraan lapis baja, tank dan sejumlah perlengkapan militer lain. 

Arab Saudi menguasai Aden pada awal bulan ini setelah UEA menarik sebagian pasukannya dari kota itu.

Perang di Yaman telah merenggut puluhan ribu nyawa, mendorong jutaan orang ke jurang kelaparan dan melahirkan krisis kemanusiaan yang paling menghancurkan di dunia.

Sumber : Al Jazeera