Dunia / Perancis

Perancis akui melakukan penyiksaan sistematis saat perang kemerdekaan Aljazair

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Perancis mengakui penyiksaan sistematis yang terjadi selama perang kemerdekaan Aljazair.

Perancis akui melakukan penyiksaan sistematis saat perang kemerdekaan Aljazair Presiden Perancis Emmanuel Macron. Facebook/Emmanuel Macron

Perancis, untuk pertama kalinya mengakui bertanggung jawab atas penyiksaan sistematis selama perang kemerdekaan Aljazair pada pertengahan 1950-an.

Presiden Emmanuel Macron pada Kamis (13/9) mengatakan bahwa Maurice Audin, seorang aktivis komunis pro-kemerdekaan yang hilang pada tahun 1957, meninggal akibat penyiksaan. 

Macron, yang melakukan kunjungan ke janda mendiang Audin pada Kamis kemarin dikabarkan juga akan mengumumkan pembukaan arsip tentang hilangnya warga sipil dan tentara, baik dari pihak Perancis maupun Aljazair.

Selama perang tahun 1954-1962, yang disebut-sebut menewaskan sekitar 1,5 juta orang Aljazair, pasukan Perancis melawan pejuang kemerdekaan yang diorganisir oleh Front Pembebasan Nasional. Aljazair telah menjadi koloni Perancis selama 130 tahun. 

Kepada janda Audin, Macron mengatakan, "Yang saya lakukan adalah mengakui kebenaran."

Merespons apa yang dilakukan Macron, Josette Audin mengungkapkan, "Saya tidak pernah menyangka bahwa hari ini akan datang."

Selama perang, pemerintah Perancis menyensor surat kabar, buku, dan film yang menyebutkan telah terjadi penyiksaan. Pasca-perang, kekejaman yang dilakukan pasukan Perancis tetap menjadi hal tabu untuk disinggung.

Menurut sejarawan Sylvie Thenault, pengakuan Perancis atas kematian Audin yang diakibatkan oleh "sistem" merujuk pada pengakuan kesalahan yang lebih luas.

Macron merupakan presiden pertama Perancis yang lahir setelah konflik. Saat berkampanye tahun lalu, pria berusia 40 tahun tersebut memicu kontroversi karena menyatakan bahwa penjajahan Perancis atas Aljazair adalah kejahatan terhadap kemanusiaan.

 

Sumber: Aljazeera


Berita Terkait