logo alinea.id logo alinea.id

Soal Islamofobia di Eropa, ini kata PM Belanda

Yang terjadi, menurut PM Rutte, bukan sikap anti-Islam atau antiwarga asing, melainkan migrasi yang tinggi dan tidak terkendali.

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 07 Okt 2019 18:49 WIB
 Soal Islamofobia di Eropa, ini kata PM Belanda

Perdana Menteri Belanda Mark Rutte meminta agar orang-orang tidak terlalu mengkhawatirkan isu meningkatnya Islamofobia di Eropa. Menurut dia, permasalahan yang sedang terjadi bukan anti-Islam atau antiwarga asing, melainkan persoalan tingkat migrasi yang tinggi dan tidak terkendali.

"Itu memang bagian dari globalisasi dan kita harus beradaptasi dengan ini, tetapi kemudian banyak dari migran itu datang ke negara Eropa, tidak memahami satu sama lain dan memiliki sistem nilai yang berbeda. Hal itu menimbulkan masalah," tutur PM Rutte dalam diskusi bertajuk "A Conservation with Prime Minister of the Netherlands Mark Rutte" di Le Meridien, Jakarta, pada Senin (7/10).

Namun, dia menegaskan bahwa masalah yang lahir itu bukan karena rasialisme atau penolakan terhadap warga asing, melainkan karena migrasi yang terjadi terlalu cepat.

"Faktanya, Uni Eropa sudah mencoba mengendalikan migrasi. Contohnya ketika lebih dari satu juta pengungsi Suriah datang ke Jerman ... Kita harus memikirkan solusi untuk mengatasi permasalahan ini," lanjut dia.

Menurut Rutte, ketika sejumlah banyak orang datang ke suatu negara, negara itu pun butuh waktu untuk menyesuaikan diri.

Rutte menjelaskan, hingga kini, setiap Kamis dia menyempatkan diri untuk mengajar mata pelajaran kewarganegaraan dan Bahasa Belanda selama dua jam. Dia bercerita mengenai pengalaman para muridnya yang mencoba melamar pekerjaan magang. 

"Ada beberapa murid yang kesulitan mencari pekejaan hanya karena nama mereka Muhammad atau Fatimah, bukan Jan atau Mikel," ujar Rutte. "Perusahaan seharusnya tidak memperkerjakan Anda karena nama depan Anda, mereka seharusnya menghargai keberagaman."

PM Rutte menyatakan, dia dan pemerintahannya akan terus berupaya membantu mereka yang terdiskriminasi dengan membuat UU yang menentangnya.

Sponsored