sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Turki dan Iran sepakat wujudkan akhir perang Suriah

Dalam lawatannya ke Turki, presiden Iran menyatakan siap bekerja sama lebih erat dengan Ankara untuk mengakhiri perang Suriah.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Jumat, 21 Des 2018 17:16 WIB
Turki dan Iran sepakat wujudkan akhir perang Suriah
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 404.048
Dirawat 60.569
Meninggal 13.701
Sembuh 329.778

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Iran Hassan Rouhani pada Kamis (20/12) berjanji untuk bekerja sama lebih erat demi mengakhiri pertempuran di Suriah. Namun, keduanya tidak berkomentar mengenai kebijakan Donald Trump yang menarik seluruh pasukan AS dari negeri yang dipimpin Bashar al-Assad itu.

Seorang pejabat AS yang berbicara secara anonim menyebutkan bahwa keputusan Trump untuk hengkang dari Suriah menandai akhir kampanye udara AS terhadap kelompok teroris ISIS.

Rouhani dan Erdogan menggelar konferensi pers bersama setelah bertatap muka di Ankara.

"Nasib Suriah harus ditentukan hanya oleh rakyat Suriah. Setiap orang harus menghormati integritas teritorial Suriah dan kami (Iran dan Turki) sepenuhnya menyetujui hal ini," ungkap Presiden Rouhani.

Rouhani mengatakan bahwa Iran, Turki, dan Rusia akan melanjutkan negosiasi Astana tentang masa depan Suriah, di mana pertemuan berikutnya akan digelar di Rusia. 

Teheran dan Moskow telah memberikan bantuan militer penting kepada rezim Assad, sementara Turki mendukung kubu oposisi.

Turki, terlepas dari perbedaan sikap dengan Iran dan Rusia terkait Suriah, telah bekerja sama erat dengan kedua negara untuk menemukan solusi politik atas krisis Suriah melalui negosiasi Astana yang dimulai tahun lalu.

Belum lama ini, Turki memperingatkan bahwa mereka akan meluncurkan operasi tempur di seberang perbatasan selatannya ke timur laut Suriah untuk melawan aliansi kelompok Kurdi dan Arab yang dikenal dengan sebutan Pasukan Demokrat Suriah atau SDF. 

Sponsored

SDF bersekutu dengan AS dalam pertempuran melawan ISIS.

Kemitraan AS dengan SDF telah memicu amarah Ankara, yang memandang Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) yang didukung AS sebagai perpanjangan tangan dari kelompok bersenjata yang bertempur di Turki.

Sanksi AS terhadap Iran

Selain itu, dalam pertemuan di Ankara, Rouhani berterima kasih kepada Erdogan atas dukungannya dalam melawan sanksi sepihak dan ilegal yang dijatuhkan AS.

"Tindakan AS terhadap Iran ini 100% aksi terorisme," tutur Rouhani.

Pada Agustus lalu, AS kembali mengenakan sanksi putaran pertama yang menargetkan sektor perbankan Iran. Sanksi putaran kedua yang membidik sektor energi Iran mulai berlaku pada 5 November 2018. Namun, dalam pelaksanaannya, AS memberi penangguhan 180 hari kepada delapan pembeli terbesar minyak Iran, termasuk salah satunya Turki.

Erdogan dan Rouhani juga menyepakati kerja sama berkelanjutan di bidang industri, transportasi, energi, pariwisata dan budaya.

Sementara itu, Erdogan menuturkan bahwa Turki dan Iran harus memperkuat hubungan bilateral mereka untuk mencapai volume perdagangan bilateral yang ditargetkan, yakni senilai US$30 miliar.

Orang nomor satu di Turki itu pun menekankan bahwa kerja sama Ankara-Teheran membuahkan hasil selama proses pembicaraan damai di Astana. "Kami perlu meningkatkan upaya kami untuk menjamin perdamaian permanen yang akan merangkul Suriah dan seluruh rakyat Suriah."

Sumber : Al Jazeera

Berita Lainnya