sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

10 year challenge: Jebakan nostalgia dan privasi data

Challenge di media sosial beberapa di antaranya relatif menghibur dilakukan, tapi sisanya justru berbahaya.

Purnama Ayu Rizky Annisa Saumi
Purnama Ayu Rizky | Annisa Saumi Kamis, 24 Jan 2019 11:39 WIB
10 year challenge: Jebakan nostalgia dan privasi data

Apakah data terlindung?

Sementara itu, pengamat media sosial Ismail Fahmi mengatakan, tak perlu khawatir dengan pengambilan data, karena ikut-ikutan #10yearchallenge.

“Kemungkinan pengambilan data ada, tapi Facebook kan sudah tahu data sehari-hari pengguna. Jadi go on saja,” katanya saat dihubungi, Rabu (23/1).

Ismail menjelaskan, Facebook menjual kecerdasan mesinnya, bukan data penggunanya. Yang tidak boleh, kata dia, bila data diambil pihak ketiga, seperti kasus Cambridge Analytica.

“Selama (data) itu masih digunakan Facebook, tak masalah,” ujar Ismail yang menyelesaikan disertasinya di University of Groningen.

Senada dengan O’Neill, Ismail mengatakan, teknologi pengenalan wajah memiliki manfaat bagi negara dalam hal keamanan. Sebaliknya, keuntungan itu tidak terlalu berguna bagi warganet.

Lebih lanjut, Ismail berpendapat, pengambilan wajah untuk kepentingan perusahaan merupakan hal yang ilegal dilakukan. Menurutnya, harus ada kesepakatan antara kedua belah pihak saat mengambil data.

“Tapi kan kita enggak pernah tahu siapa yang menambang data kita,” ujar Ismail.

Sponsored

Artis Maia Estianty membandingkan foto dirinya saat ini dan 10 tahun lalu. (instagram.com/maiaestiantyreal).

Sementara itu, pengajar hukum siber di Universitas Padjajaran Bandung Sinta Dewi Rosadi mengatakan, konsen saja tidak cukup untuk melindungi data pengguna media sosial.

“Jadi, data itu diambil harus sangat minimal,” kata Sinta ketika dihubungi, Rabu (23/1).

Sinta melanjutkan, data pribadi tersebut sah-sah saja digunakan, tapi tetap terbatas untuk kepentingan pengguna. Untuk keamanan data dan privasi sendiri, warganet saat ini baru bisa berpegang pada ratifikasi hak asasi manusia terkait keamanan data.

“Privasi ada beberapa macam, mulai dari privasi terhadap anggota badan, alat komunikasi kita, sampai ke data pribadi. Privasi pada data pribadi ini yang sedang digodok oleh pemerintah,” kata ketua Cyber Law Unpad tersebut.

Sinta dan Ismail sepakat, teknologi pengenalan wajah tak memiliki dampak positif bagi penggunanya. “Malah sangat mengganggu ya,” kata Sinta.

Sementara, penggunaan data wajah pengguna bagi algoritma mesin untuk belajar, kata Sinta belum memiliki aspek hukum yang jelas.

10 year challenge ramai dimainkan pengguna media sosial belakangan ini.

“Memang tidak bisa kita hindarkan hukum selalu tertinggal dengan teknologi. Regulasinya baru sebatas konsen dengan pengguna saja,” katanya.

Sinta juga menambahkan, walau terdapat privacy policy, menurutnya bukan rahasia lagi jika Facebook membagi data mereka dengan pihak ketiga. Baik Sinta maupun Ismail juga sepakat jika hal terburuk yang terjadi dengan adanya profiling behavior adalah digunakannya data tersebut untuk kepentingan iklan.

“Data pengguna juga bisa dijual ke perusahaan asuransi,” kata Sinta.

Sinta berpesan agar pengguna media sosial lebih berhati-hati lagi membagikan informasi. Jangan sampai privasi hilang hanya, karena ingin eksis.

Berita Lainnya
×
tekid