sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Catat! Ini 5 perbedaan reseller dan dropship

Perbedaan reseller dan dropship adalah bagaimana cara keduanya menyimpan stok barang.

Tim copywriter
Tim copywriter Selasa, 19 Apr 2022 16:58 WIB
Catat! Ini 5 perbedaan reseller dan dropship

Perbedaan reseller dan dropship adalah bagaimana cara keduanya menyimpan stok barang. Sedangkan, persamaan dari kedua bisnis ini adalah sama-sama menggunakan software pembayaran terpercaya agar proses transfer online aman.

Menjamurnya marketplace, e-commerce, dan media jualan online lainnya membuat berkembangnya model bisnis-bisnis online lain, misalnya saja reseller dan dropship ini.

Kedua jenis bisnis online ini juga memungkinkan kita untuk bisa menjalankannya sekalipun belum memiliki modal.

Keuntungan lainnya dari dua jenis bisnis online ini adalah kita sebagai pedagang juga tidak perlu menyimpan stok barang sehingga tidak membutuhkan gudang penyimpanan. Namun, ternyata ada perbedaan lainnya dari dua bisnis online ini. Berikut ini ulasannya.

Perbedaan reseller dan dropship

Reseller adalah model bisnis online di mana kita bekerja sama dengan pemilik toko untuk memasarkan produk dari penjual tangan pertama, sehingga harga jual yang kita tawarkan kepada customer tidak terlalu jauh berbeda dengan toko asal.

Bahkan, tak jarang juga para pemilik toko ini bisa diajak bekerja sama untuk memberikan harga spesial bagi para reseller.

Sementara itu, dropship merupakan model bisnis di mana kita memasarkan suatu produk secara online tanpa menyimpan stok barang tersebut.

Sponsored

Agar lebih paham, berikut ini perbedaan reseller dan dropship secara terperinci.

Stok barang

Walaupun bisa dimulai dari modal yang sedikit atau bahkan sama sekali tanpa modal, tetapi ada beberapa kebijakan dari produsen atau distributor yang diberikan kepada mereka yang ingin menjadi reseller.

Terkadang, untuk mendapatkan harga jual yang miring dengan keuntungan yang lumayan, kita sebagai reseller dituntut untuk membeli barang terlebih dahulu dalam jumlah tertentu tergantung kebijakan produsen atau distributor.

Sebut saja harus membeli gamis sebanyak 1 lusin atau hijab sebanyak 1 lusin tanpa boleh memilih warna.Namun, dengan trik membeli barangnya terlebih dahulu ini kita jadi lebih leluasa dalam memberikan harga jual karena telah mendapatkan potongan harga khusus dari produsen atau distributor.

Selain itu, seorang reseller juga melakukan proses pengemasan dan pengiriman barang kepada customer secara langsung.

Lain halnya dengan seorang dropshipper yang hanya berperan dalam melakukan pemasaran produk secara online. Saat ada customer yang tertarik untuk membelinya maka dropshipper akan meneruskan pesanan tersebut kepada produsen. Seluruh proses mempersiapkan produk, mengemas, dan mengirimkan produk dikerjakan oleh produsen atau distributor, kita hanya fokus pada teknik dan strategi pemasarannya saja.

Jadi, jika kamu sebagai dropshipper, kamu tidak perlu menyimpan stok barang terlebih dahulu.

Modal

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa seorang reseller harus membutuhkan modal sekalipun tidak dalam jumlah yang besar. Sebab, hampir seluruh kebijakan para produsen atau distributor yang mewajibkan reseller untuk membeli produk dalam jumlah tertentu untuk mendapatkan potongan harga.

Oleh karena itu, kita sebagai reseller harus menyediakan ruang khusus untuk menyimpan stok barang. Sedangkan, jika kamu ingin berbisnis dengan sistem dropship, kamu tidak perlu membutuhkan modal yang besar bahkan tidak mengeluarkan modal sama sekali.

Kamu hanya perlu menjual barang dan nantinya pihak penjual yang akan mengirimkan produk tersebut pada customer. Kamu bisa mengambil untung dari barang yang kamu berhasil jual tersebut. Meskipun, bisnis online yang kita jalani ini masih terbilang baru dengan arus transaksi yang masih belum terlalu banyak, tetap saja kita memerlukan media untuk mengelola keuangan bisnis.

Yang paling utama terlihat adalah kita membutuhkan software akuntansi khusus untuk melakukan transfer online dan mencatat seluruh riwayat transaksi dengan tingkat akurasi yang tinggi. Sebagai software pembayaran, Spenmo merupakan salah satu software akuntansi terbaik yang bisa menghadirkan fitur transfer online, invoice pembayaran, pembayaran terjadwal, hingga pembuatan laporan keuangan.

Pekerjaan kita untuk mengontrol stok barang dan arus cash flow jadi lebih mudah dan tidak memerlukan waktu yang cukup banyak untuk mengeceknya.

Profit

Berbicara soal keuntungan, mungkin saja reseller yang akan meraup keuntungan yang lebih maksimal dibandingkan dropshipper karena kita bisa dengan leluasa menentukan harga jual. Seluruh produk yang kita dapatkan dari produsen atau distributor dengan harga istimewa atau potongan harga tersebut yang merupakan untung untuk kita dalam menentukan harga jual.

Bisa saja kita mematok harga jual yang lebih tinggi dibandingkan harga dari produsen atau distributor. Sedangkan, keuntungan yang diterima dropshipper tidak terlalu tinggi. Sebab, mereka menjual barang dengan harga asli dan tidak ada potongan harga dari penjual.

Mungkin mereka hanya akan menerima keuntungan sebesar Rp5.000 hingga Rp10.000 per produk. Berbeda dengan reseller yang bisa mengantongi keuntungan hingga Rp20.000 hingga Rp50.000 per produknya.

Strategi marketing

Kedua bisnis ini sama-sama bisa dijalankan secara online. Namun ada pressure tersendiri yang sangat berbeda.

Seorang dropshipper bisa menerapkan strategi digital marketing tanpa khawatir merugi karena tidak menyimpan stok barang sama sekali. Kita hanya cukup menawarkan produk melalui media sosial seperti Instagram, Facebook, Twitter ataupun TikTok. Kita juga bisa menawarkan melalui pesan di grup WhatsApp ataupun membuat toko di marketplace dan e-commerce.

Adapun reseller yang telah menyimpan sejumlah stok barang, mungkin saja menerapkan sistem strategi digital marketing. Akan tetapi, ada pressure lebih di mana produk atau stok barang yang ada di gudang harus segera laku agar bisa balik modal dan memutarkan modal tersebut untuk pengadaan barang.

Jadi, tak heran bila seorang reseller biasanya harus melakukan strategi lain, seperti menawarkan produknya ke keluarga, tetangga, kerabat terdekat, atau tidak jarang membuka toko secara offline.

Risiko

Sejalan dengan keuntungan yang didapatkan lebih besar dibandingkan dropshipper, maka seorang reseller juga memiliki tingkat risiko yang lebih besar dibandingkan dropshipper.

Risiko terbesar yang akan dihadapi seorang reseller adalah apabila produk yang mereka beli atau simpanan stok barang di gudang sulit untuk laku.

Beda cerita dengan seorang dropshipper yang tidak mengeluarkan modal sama sekali untuk membeli produk. Apabila produk tidak laku, seorang dropshipper tidak mengalami kerugian karena tidak memiliki stok barang. Dampaknya hanya tidak adanya pemasukan yang diterima saja.

Keuntungan dropship dan reseller

Namanya bisnis tentunya bisa mendatangkan keuntungan walaupun tidak banyak. Tak terkecuali dua bisnis online ini. Berikut ini adalah keuntungan dropship, di antaranya:

  • Kita tidak perlu menyimpan stok barang di gudang.
  • Kita tidak perlu membuat catatan stok barang dan pembukuan.
  • Kita bisa bekerja sama dengan banyak supplier, produsen, atau distributor.
  • Kita terhindar dari risiko kerugian akibat produk tidak terjual.
  • Kita tak perlu melakukan proses pengemasan dan pengiriman barang.

Sementara itu, keuntungan menjadi seorang reseller, di antaranya:

  • Kita sendiri yang menentukan harga jual produk, sehingga ada kemungkinan harga jual tersebut memiliki selisih yang cukup banyak dibandingkan harga belinya dari produsen atau distributor.
  • Kita bisa menghindari risiko feedback negative dari customer terkait kualitas produk.
  • Kita mengetahui bentuk fisik dari produk yang kita tawarkan kepada customer.
  • Kita benar-benar belajar mengelola bisnis meskipun dalam skala yang kecil.

Baik dropshipper maupun reseller, keduanya tentu memiliki keuntungan dan kekurangannya sendiri sebagai bisnis online. Hal itu bergantung pada strategi yang kamu terapkan. Semoga bisnis online berjalan lancar, ya!

Berita Lainnya