sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Guruku Momster, kala ibu mendadak guru

Buku Guruku Momster setebal 150 halaman, memuat cerita-cerita saat mendampingi anak mereka sekolah di rumah.

Kartika Runiasari
Kartika Runiasari Sabtu, 10 Okt 2020 21:50 WIB
Guruku Momster, kala ibu mendadak guru
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 406.945
Dirawat 58.868
Meninggal 13.782
Sembuh 334.295

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), Belajar dari Rumah atau School From Home (SFH), apapun sebutannya, diperkirakan masih akan terus berlangsung. Ini jadi salah satu konsekuensi dari pandemi Covid-19 yang belum juga usai. Anak-anak dipaksa terus melanjutkan sekolah di rumah, berhadapan dengan orangtua—terutama ibu, yang mendadak menjadi guru mereka. 

Pada kenyataannya, proses pembelajaran di sekolah dengan orang tua selaku pengajar tak bisa seprofesional guru di sekolah. Pembelajaran tak selalu berjalan mulus. Namun, tetap ada sisi positif dan hikmah yang bisa dipetik. 

Suka duka pembelajaran di rumah ini yang memacu sepuluh ibu menerbitkan kisah PJJ dalam buku bertajuk Guruku Momster. Buku setebal 150 halaman ini memuat cerita-cerita saat mendampingi anak mereka sekolah di rumah. Sepuluh ibu ini berasal dari berbagai latar belakang berbeda. Mulai dari jurnalis, eks-jurnalis, perencana keuangan, karyawan swasta, guru TK dan SMP hingga ibu rumah tangga. Mereka, mendadak guru di hadapan sang buah hati yang kesemuanya masih bersekolah Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar. 

Hanya dalam waktu sebulan, penulisan buku dapat diselesaikan meski tanpa tatap muka. Bermodal koordinasi via WhatsApp Grup, sepuluh ibu yang berdomisili di ibukota, Bogor, Depok, Tangsel, dan Banjarmasin ini akhirnya meluncurkan buku ini pada 26 September lalu. Tepat di Hari Kontrasepsi Sedunia atau World Contraception Day (WCD).

Tidak sedikit diantara mereka yang memutuskan untuk ‘cuti’ sekolah alias membatalkan sekolah. Terutama untuk anak mereka yang usia TK. Seperti dialami Ruisa Khoiriyah, Andina Meryani, dan Fatya Alfaraby. Sebaliknya, Kartika Runiasari dan Vega Aulia memutuskan tetap menyekolahkan anaknya di TK meski menyadari pembelajaran anak TK di rumah kurang begitu efektif.

"Sekolah saat pandemi bagi anak usia TK sepertinya tak begitu krusial. Pembelajaran calistung (baca, tulis, hitung), bernyanyi, fisik-motorik menjadi kegiatan yang bisa mengandalkan kemampuan wali murid. Di sinilah saya dilanda kegalauan," curhat Kartika.

Buku ini juga menceritakan kisah Dwi Tupani yang concern jika kemandirian si anak tidak terasah karena sudah terbiasa dan nyaman didampingi oleh ibunya selama sekolah di rumah. "Pembelajaran dari rumah juga membuat persiapan sekolah lebih singkat. Anak tidak terlambat sekolah meski bangun kesiangan. Sarapan pun bisa disambi di sela-sela jam pelajaran," ujar Pani dalam buku tersebut.

Ada pula kisah Andina Meryani yang peduli pada pemakaian gawai berlebihan di masa sekolah online. Betapa tidak, harus diakui salah satu ‘efek samping’ dari PJJ ini adalah anak-anak justru jadi terekspos demikian besar dengan layar gadget, satu hal yang sebelumnya sangat dibatasi oleh para orang tua. 

Sponsored

Lalu bagaimana pula dengan kisah Dian Roza? Anaknya yang belajar di sekolah alam ternyata merasakan perbedaan cukup besar saat belajar di rumah. Bagaimana respon sekolah alam menghadapi kenyataan untuk menyelenggarakan sekolah online di era pandemi ini? Banyaknya tantangan sekolah alam yang terpaksa online ini membuat berat badan ibu dua anak ini susut 5 kilogram.

Ada juga kisah Rosdianah Dewi dan Ratna Melisa. Keduanya tidak hanya sebagai guru di rumah namun juga mengajar di sekolah. Bagaimana kiat mereka mengelola metode pembelajaran untuk anak didik masing-masing, sambil juga harus mendampingi anak sendiri?

Adapun Ramdania El Hida justru khawatir anak-anak terlalu nyaman sekolah di rumah dan enggan kembali sekolah jika situasi kembali normal. Sebagai penggagas buku, Nia begitu ia akrab disapa sangat berharap akan ada terobosan baru dari pemerintah. 

"Benar memang, kita perlu kurikulum darurat," ujar ibu dua anak ini dalam Video Youtube 'Launching buku Guruku Momster'.

Secara teknis, sekolah online masih menghadapi banyak tantangan. Sebut saja daerah dengan sinyal internet yang buruk dan kemampuan ekonomi orangtua yang terbatas. Bagaimanapun tetap ada sisi lain yang muncul dari PJJ yang menimbulkan haru. 

Setidaknya, sepuluh ibu yang menuangkan segala kegelisahan sekolah online ini mengharapkan kisah ini membuat pembaca tetap semangat menjalani hidup di era pandemi. Anak-anak menjadi pelaku sejarah sekolah di rumah yang berlangsung berbulan-bulan. Kelak mereka yang akan menceritakan kisahnya kepada generasi mendatang. Sebuah kenangan yang tentu akan terus diingat. Kala mereka belajar bersama orang tua dengan segala kisah senang, haru, dan seru. Inilah momen yang patut disyukuri. Membersamai buah hati 24 jam sehari, 7 hari seminggu.

Berita Lainnya