Gaya Hidup / Rambut

Waspada, stres bisa memicu rambut rontok

Stres tak henti melanda, memicu berbagai reaksi. Salah satunya rambut rontok.

Waspada, stres bisa memicu rambut rontok Ilustrasi kerontokan / Pixabay

Setiap orang mengalami stres yang terus menerus dalam hidup. Baik dipicu tuntutan profesional atau pribadi, penyakit dan trauma dapat mendatangkan malapetaka pada kesehatan mental.

Terkadang stres dapat memicu tubuh bereaksi dengan cara yang dapat membuat frustasi dan memalukan. Termasuk di antaranya seperti kuku rapuh, jerawat, dan rambut rontok.

Seperti dikutip dari Huffington Post, Kamis (5/7), kondisi rambut rontok yang dihasilkan dari stres fisik dan emosional disebut telogen effluvium, di mana stres dalam jumlah besar mendorong folikel rambut beristirahat. Akibatnya, rambut mulai luruh, menyebabkan munculnya penipisan yang dapat menonjol pada titik-titik tertentu di kepala.

"Folikel rambut memiliki siklus hidup sendiri, yakni pertumbuhan, transisi, istirahat, dan luruh dari batang rambut," kata Julia Tzu, seorang dokter kulit dan pendiri serta direktur medis di Wall Street Dermatology.

Stres mengubah persentasi rambut dalam tahap pertumbuhan dan menggesernya pada tahap istirahat atau disebut pula fase telogen.

Menurut Lauren Ploch, dokter kulit di Georgia Dermatology and Skin Cancer Center, telogen effluvium tidak selalu memicu kerontokan atau kebotakan permanen.

"Kondisi kebotakan total tidak terjadi kecuali ada proses peradangan yang mendasari" seperti alopesi areata, kata Ploch.

Dijelaskan Ploch, "Telogen effluvium biasanya terjadi dalam tiga bulan pertama pasca sebuah stres berat. Biasanya, kerontokan rambut adalah pertanda bahwa rambut baru tumbuh lagi di dasar rambut yang hilang sehingga pertumbuhan rambut baru seharusnya terlihat tiga hingga enam bulan pasca kerontokan awal."

Kapan seseorang perlu khawatir dengan kerontokan rambut?

Rata-rata orang kehilangan 50 hingga 100 helai rambut per hari. Itu dinilai normal. Jika dibandingkan dengan jumlah total rambut di kepala, jumlah tersebut bukan masalah. Namun peluruhan dianggap mengkhawatirkan ketika terjadi berlebihan.

"Jika Anda memerhatikan ada lebih banyak helai rambut yang luruh ketika mencuci atau menyisirnya atau jika Anda melihat ketebalan berkurang di satu area atau di seluruh kulit kepala, maka Anda harus menemui dokter," jelas Tzu.

Ketika tubuh kita mengalami stres, pada dasarnya (tubuh) masuk ke dalam mode bertahan hidup dan mengalihkan sumber daya dari fungsi yang tidak penting bagi hidup seperti pertumbuhan rambut dan kuku, urai Ploch.

Tzu dan Ploch sependapat bahwa ibu baru cenderung mengalami kerontokan rambut, mengingat tingkat stres fisiologis yang datang saat melahirkan.

Postpartum alopesi, jenis rambut rontok yang berbeda, dapat terjadi karena penurunan kadar estrogen secara tiba-tiba pada masa persalinan. Pergeseran hormonal yang drastis ini mengejutkan folikel rambut hingga mereka berhenti selama sekitar empat bulan. Meski demikian, rambut perempuan yang baru melahirkan dapat kembali tumbuh normal pasca satu tahun bersalin.

Situasi lain yang dapat memicu kerontokan rambut adalah trikotilomania, yakni kondisi kesehatan mental yang ditandai oleh dorongan kompulsif untuk menarik rambut dari berbagai bagian tubuh. Ini dikaitkan dengan tingkat kecemasan yang tinggi.

Cara mudah menghentikan kerontokan rambut

Mengubah gaya hidup dapat membantu menyelesaikan persoalan kerontokan. Selain dengan tidur cukup dan menghabiskan waktu dengan melakukan hobi, Ploch menekankan nutrisi yang cukup.

"Makan diet seimbang yang kaya vitamin dan mineral. Hati-hati dengan suplemen," tegas Ploch, mengacu pada memo yang dirilis FDA pada tahun 2017, tentang bagaimana biotin dapat memicu efek samping. Ploch menyarankan untuk menjaga asupan biotin hingga 35 mikrogram atau kurang setiap hari.

Biotin, sebuah vitamin B yang bisa ditemukan secara alami dalam jumlah kecil pada makanan seperti telur, susu, dan pisang.

Yang penting untuk diingat, mengobat kerontokan rambut harus dimulai dari menemukan cara-cara sehat untuk mengatasi stres yang memicunya. Olahraga teratur, tidur yang cukup, dan diet sehat adalah beberapa cara yang wajib dilakukan. 

Makan cokelat, berkumpul dengan keluarga dan teman, serta mendengarkan musik juga kerap menjadi alternatif untuk mengusir perasaan negatif. Namun jika stres mulai mengganggu kehidupan Anda secara berlebihan, tidak ada salahnya mendiskusikannya dengan dokter.