close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Bambang Asrini
icon caption
Bambang Asrini
Kolom
Rabu, 14 Desember 2022 13:14

Lima seniman, lima ekspresi mural daulat pangan

Seni tak terpisahkan dengan kondisi kebangsaan dan mendesaknya fenomena penyadaran publik menyoal Daulat Pangan Lokal.
swipe

If my art has nothing to do with people's pain and sorrow, what is 'art' for?
-- Ai Weiwei

Sejak era modern hadir ratusan tahun lampau, tak pelak seni rupa acapkali mengambil peran mewakilkan keberadaannya untuk memahami realitas dunia yang rapuh. Di mata batin seniman, serpihan-serpihan hidup yang penuh luka divisualkan.

Kadang seni memintal abstraksi absurditas hidup yang fana; yakni entitas sangat intim sang seniman sekaligus spirit memberi pencerah pada sang liyan. Semacam tindak asketis mewujudkan empati mendalam secara komunal tatkala krisis kemanusiaan menghampiri.  

Sudjojono, sang “ahli gambar itu” berteriak berlarat-larat bahwa seni layak berpihak pada realitas penderitaan, yang tentu dekat pada kebenaran saat sang maestro seni kita itu menjadi saksi Republik ini baru berdiri dan penderitaan meruyak dimana-mana. Terutama fenomena kelaparan dan penyakit busung lapar di depan mata. “Kebagusan dalam seni zonder kebenaran adalah jelek, njelehi!” katanya lantang. Demikian pula Ai Weiwei, aktivis dan seniman kontemporer Tiongkok itu, di abad 21 ia menggugat untuk apa ada seni jika seniman tidak berempati pada derita sang liyan?

Harian Kompas pada 8 Desember, benar-benar mengejutkan, di halaman depan menyajikan narasi fakta-fakta, bahwa lebih dari separuh penduduk Indonesia sekitar 183,7 juta orang atau 68% populasi ternyata tidak mampu memenuhi kebutuhan gizi harian mereka. Pangan bergizi masih sulit dijangkau warga Indonesia. 
Apa jadinya generasi penerus kita jika gizi tak tercukupi, masa depan jelas-jelas terhantui malapetaka, sebab generasi penerus menjadi tak sehat- mengalami stunting, tubuh bertumbuh dewasa tak normal-kerdil yang mengakibatkan tak produktif. Sebuah ancaman serius bagi kedaulatan sumber daya manusia di Republik ini. 

Persoalan pangan seperti evil circle, sebab tata-kelola pangan yang kompleks tak kunjung bisa dibenahi, sejak era Orde Baru disebabkan berbagai kebijakan politik tak terintegrasi dan tak terorkestrasi. Sejumlah persoalan pelik pada pelaksanaan distribusi dan kendala jarak antar pulau belum lagi dimanfaatkan spekulan termasuk polemik isu impor bahan pokok belakangan ini. 

Yang paling gawat; sebagian pengamat pangan mewaspadai dan menengarai adanya dinamika “para oportunis politik” agar tak terjadi kestabilan harga dan bahan makanan pokok, menjelang tahun gaduh kontestasi para capres di 2023-2024. 

Tak hanya itu, menurut Khudori, seorang pengamat pangan dalam sesi Artist Talk pada 11 Desember 2022, di Pusat Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat sebagai bagian acara Live Mural Daulat Pangan Lokal yang merupakan kerja-kerja kolaboratif Badan Pangan Nasional (Bapanas), Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan komunitas seni Jakarta Art Movement (JAM); menyatakan bahwa kerawanan pangan memang sedang menghampiri dan itu pasti. 

Pokok persoalan tak hanya kebijakan politik, namun kultur warga yang mengonsumsi makanan monolitik (seragam), yakni beras. Roda pembangunan yang tak terkontrol dengan regulasi di lingkup realitas lapangan juga abai aspek pembangunan berkelanjutan; dengan contoh kongkrit: lahan sawah terkonversi menjadi wilayah industri dan ironisnya generasi muda pada saat sama tak terpikat menjadi petani, peternak dan nelayan sebagai penjaga lumbung makanan kita.

Fenomena lain yang mendesak, kesadaran bahwa dari perspektif global, pasokan bahan makanan pokok—seperti gandum terhambat sebab konflik (perang) disejumlah negara, iklim ekstrim bumi yang mengancam panen raya pun negara-negara pengekspor bahan pangan pokok kemungkinan memproteksi kebutuhan dosmestiknya sendiri dalam situasi krisis global. Selain, elemen fertilizer/ pupuk yang tersendat sebab proses pembuatannya membutuhkan energi/materi pokok dari alam (batu-bara dan gas) yang tak terakses oleh negara produsen pupuk.   

Di sanalah, ekspresi seni mural menjadi satu alternatif sikap berkesenian. Isu tentang kedaulatan pangan mendesak dibincangkan, dan seni mural dengan karakter khasnya membawa semangat kemudaan, egaliter, terbuka dan mampu diakses di ruang-ruang publik luar ruang untuk merespon peristiwa yang paling urgen membangun kesadaran bersama warga masyarakat tentang keamanan soal pangan .

Lima seniman unjuk ekspresi
Lima seniman diundang oleh penulis sekaligus kurator dan menimbang bahwa jenis mural ala street art lebih cepat sekali menjawab “kebenaran” ala Sudjojono itu, yang mengungkap kondisi riil, fenomena-fenomena menyoal “bencana manusia dan penderitaan-penderitan yang diperbuatnya sendiri”.

Seni propaganda adalah sebuah counter-culture tatkala seni terhenyak pada sudut tempat duduk yang nyaman; ber-ilusi tetang “dunia yang ideal”-art for art shake yang diulang-ulang dengan parasnya yang membeda namun substansinya sama;  dan penuh dengan perenungan-perenungan eksistensial dan menolak menoleh pada fenomena riil hari ini.

Selama dua bulan sejak akhir Oktober 2022, penulis membuka percakapan-percakapan mendalam dan mengobservasi bersama lima seniman mural; mendiskusikan kemungkinan-kemungkinan sejumlah konsep desain mural dan lokasi. 

Pada satu tahap melibatkan pengamat pangan, yang kemudian menjadi kurator, yakni Khudori dan seorang Profesor tentang ketahanan pangan di Badan Pangan Nasional, Prof. Risfaheri. Tak lupa penulis sekaligus kurator diterima langsung Kepala Badan Pangan, Arief Prasetyo Adi bahwa Bapanas tak mungkin kerja sendiri, sebab realitas daulat pangan memunculkan keharusan kolaborasi dan Bapanas menjadi pemicu orkestrasi multisektor dan aktor dari seluruh lapisan warga, termasuk komunitas seniman. 

Tentang kebebasan berekpresi dan misi menyuarakan pesan-pesan, bekerja bareng dengan komunitas-komunitas seni, termasuk pihak Dewan Kesenian Jakarta pun perbincangan mendalam bentuk-bentuk visual yang efektif dan bisa diterima oleh anak muda sangat diapresiasi Bapanas. Bagaimanapun, jenis seni mural beraroma propaganda waktunya memberi pencerahan-pencerahan. 

Seperti salah seorang partisipan seniman, Bujangan Urban, seniman yang tiga dekade ini suntuk memberi penanda di tembok-tembok jalanan kota tenar dengan eksplorasi bunga-bunga ibukota dengan simbol kemudaan dan warna-warni cerah mewakili ekspresi kemajemukan nak muda. 

Bujangan Urban, seolah tak bosan, mengulik fundamen keamanan pangan dengan kutipan provokatif pidato Soekarno dengan pernyataannya,“Soal Persediaan Makanan Rakyat Ini Bagi Kita Adalah Hidoep Dan Mati”, yang teks itu semata-mata merupakan kebenaran sejarah, kondisi negeri dan kebenaran estetika.

Ingatan kita segera terbang bahwa hampir diseluruh pelosok jagad, sebuah rezim politik, termasuk Soekarno sendiri tumbang disebabkan tingkat inflasi dan harga bahan pokok yang tinggi dan rakyat semata yang terimbas paling menderita.

Pada seniman lain yang berpartisipasi, yang termuda, yakni Alfi seorang perempuan muda, sarjana arsitektur mengolah dengan cerdas gaya satirikal tentang imej sosok kucing berbiaya mahal pemeliharaannya, yang berjenis ras luar, Maine Coon yang memiliki bulu lebat, halus dan lembut serta  berwarna coklat.

Alfi mengaksplorasi ide tentang sentilan-sindiran halus, gaya bahasa dengan majas yang menjadi kosa-kata tradisi lokal kita sebenarnya, yakni semenjak ribuan tahun, misalnya serupa syair atau pantun.

Sosok kucing bagi sebagian kelas menengah-atas perkotaan adalah merupakan hak-keistimewaan kepemilikan untuk mencintai binatang peliharaan seolah anggota keluarga --pet, dari tata-bulu dengan fasilitas salon khusus (styling-gunting, kuku dan tata bulu), dokter hewan/veterinary surgeon yang mengatur keseimbangan nutrisi bahkan sampai control makanan nonpengawet yang menjamin  bulu kucing tak rontok.

Dengan lambang citra kesuksesan dan kemapanan warga kelas menengah-atas kota, Alfi cukup menyampirkan sindiran halus dengan teks gaya anak muda “Semua Berhak Mendapatkan Pangan Yang Sehat!” telah menohok dalam benak kita. Binatang saja diberlakukan dengan pemenuhan gizi yang premium, bagaimana dengan saudara-saudara kita yang berkekurangan gizi di wilayah Indonesia bagian Timur?—sesuai data dan grafik di Bapanas, tentang kerawanan pangan terjadi di Indonesia Timur dengan peta berwarna merah.

Anak muda bertani, agitasi kota dan sagu Papua
Seniman dari Jogjakarta berekspresi lain, yakni Isrol Medialegal yang memilih tiga sosok anak-muda menggotong bibit-benih padi, singkong, ikan dan tergambar pula secara transparan seeekor ayam. Isrol dengan elok memakai teknik stencil plus mural mengandaikan tingkat ketersediaan makanan, seperti lumbung yang menjamin kecukupan pasokan bahan pokok akan bermasalah jika tak ada generasi penerus petani, peternak dan nelayan. 
Padi-singkong, ayam dan ikan adalah triumvirat wujud kewaspadaan, tatkala anak-anak muda memilih tepung dan makanan berbasis olahan menu mie menjadi selera 60% populasi anak muda mengonsumsi makanan di desa dan kota.

Para petani millenial menjadi imajinasi Isrol, sekaligus mengatakan dengan gambar-gambar berwarna-warni bahwa menjadi petani sudah pasti keren tak kalah dengan menjadi seorang YouTuber! Isrol juga menambahkan teks: Menanam Kehidupan! Sebuah dialektika seni dan hidup terhampar di tembok di kompleks Teater Kecil, di Taman Ismail Marzuki bahwa jika seni memberi pencerah, maka seharusnya hidup berhulu dengan pangan dalam kecukupan.    

Penulis mengingat, buku seminal Graham Wallas, tentang proses kreatifitas seseorang dari buku The Art of Thought, di awal abad 20; yang menyampaikan bahwa seni sejatinya adalah proses personal sekaligus komunal yang bersisihan dengan proses saturasi yang terkait dengan informasi dan riset, kemudian inkubasi yaitu proses reflektif ambang bawah sadar dan fase kristalisasi.

Pada tahap inkubasi disana, ambang bawah sadar secara komunal kita, sebagai bangsa beririsan dan mengalami perjalanan reflektif yang sangat intim. Inilah yang memprovokasi Isrol, pikiran-pikiran tentang yang Indonesia dan yang personal, tentang Petani-Peternak dan Nelayan, mampu mengurai, memaknai ulang sekaligus membaca secara nalar dan rasa atas fenomena atau peristiwa-peristiwa tentang daulat pangan tersebut.

Yang lain, dosen Institut Kesenian Jakarta dan seniman mural, Guntur Jongmerdeka memilih gaya pop-art, mengingatkan kita tentang seniman pop yang tenar di Amerika Serikat era 70-80-an, Roy Lichtenstein di muralnya yang menyerupai tindak agitatif pun posterik. Imej-imej kereta api cepat sebagai simbol akselerasi pembangunan, warna-warna mencolok komikal pun teks-teks gamblang yang dipandu lambang timbangan “Rupiah Stabil, Pangan Indonesia Bangkit!

Guntur dengan piawai membuat sebuah narasi pelik nan panjang aspek ditribusi dalam “mata rantai tiga ayat suci Ketahanan Pangan” yaitu Ketercukupan, Aksesibilitas dan Konsumsi, hanya dalam satu frame. 

Gaya komikalnya ini memikat mata dan menggedor benak, tentang lebih pada prolematika distribusi dan kesenjangan dalam wilayah yang ke-2, yakni aksesbilitas dengan luput-terjaminnya tingkat kestabialan. 

Untuk itu, tingkat inflasi dan nilai tukar rupiah sangat krusial, selain berbagai “Tangan Tak Nampak”, yaitu intervensi pihak-pihak yang berkuasa, regulator secara politik bisa menggoyang/meneguhkan stabilitas atau terjadi manipulasi sampai penimbunan bahan pokok sebagai upaya “sabotase politik” atau pemaksimalan laba yang berakibat fatal dari produsen-distributor. Semuanya mengonstruksi neraca timpang dan di akhir hari: harga pangan tak terakses publik sebab terlalu mahal dan kelangkaan terjadi di mana-mana. 

Di sanalah, kewaspadaan yang dipaparkan Guntur Jongmerdeka dengan muralnya mencapai target. Seni menjelaskan tak harus rumit memaparkan teori-teori ekonomi pangan makro. Cukup dengan imej bibir dan speaker, kereta ekspres, gambar sembilan bahan pokok seperti beras, gula dll, di pasar tradisional, gudang beras besar, gerai-gerai/ toko-toko penyalur bahan pangan dan mini market dan terakhir menjadi simbol timbangan dan lambang Rupiah tepat direpresentasikan.

Sebagai seniman partisipan terakhir, terlahir di kabupaten Fak-Fak, Papua bernama Fausan Mussad bertutur di muralnya yang bisa kita tafsirkan setidaknya dalam dua hal: keberagaman pangan dari Indonesia Timur dan gaya hidup yang bisa menjadi tauladan dengan kultur lokalitas dan sumber-sumber daya berkelanjutan. 

Fausan sangat fasih menjelaskan bahwa gambaran tentang Pulau Papua yang kaya ikan tuna dan sagu; yang dikonsumsi di sebagian besar wilayah Papua bahkan sampai Maluku. Di pulau-pula yang merujuk figur kepala burung manokwari itu.  Fauzan melukiskan Rumah Semut, yang berfungsi pembuatan untuk obat dan diolah minuman seperti teh di daerah Pegunungan Tengah untuk ketahanan tubuh. Raja Ampat, wilayah wisata yang sohor keseluruh dunia di Provinsi Papua Barat di perairan di daerah kepala burung Manokwari juga penghasil Tuna yang berkualitas. 

Fauzan juga mengingatkan kita dengan lukisan dengan teks “Sagu Papua untuk Dunia” tak hanya slogan, sebab kearifan leluhur tanah Papua semestinya mampu memberikan kontribusi-solusi pada krisis pangan global.
Misalnya lukisan profil dua orang Suku Bhuyakha atau disebut Orang Sentani seturut Fauzan, yang hidup dari mencari ikan dan memanfaatkan sagu. Yang mana, warga dari tiga kampung di Sentani, yakni Yoboi, Simporo dan Babronko, memotong sagu ada aturannya, tidak boleh asal menebang. Dari hutan sagu ini, berbagai jenis makanan yang kaya dan berlimpahan, akan memenuhi kebutuhan pokok seperti pati sagu yang diolah menjadi papeda. Selain papeda, batang sagu juga biasa dipakai sebagai medium menghasilkan ulat sagu (sabeta) dan jamur (fenlung)

Dengan demikian, seni tak terpisahkan dengan kondisi kebangsaan dan mendesaknya fenomena penyadaran publik menyoal Daulat Pangan Lokal. Kekayaan warisan tanah Nusantara menjadi bukti, bersama kita layak mengembalikan mural pada habitatnya; menjadi garda terdepan berteriak lantang tentang isu pangan lokal. Salam!

img
Bambang Asrini Widjanarko
Kolomnis
img
Hermansah
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan