close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Perlu peran sekolah dan orang tua untuk mempersiapkan anak selama PTM berlangsung. Foto ilustrasi: IstockPhoto.
icon caption
Perlu peran sekolah dan orang tua untuk mempersiapkan anak selama PTM berlangsung. Foto ilustrasi: IstockPhoto.
Nasional
Rabu, 06 Oktober 2021 09:38

Gubernur Lemhannas kritik sistem pedidikan nasional, singgung Finlandia

Menurut Agus Widjojo, mestinya siswa diajarkan budi pekerti dulu ketimbang matematika.
swipe

Untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045, sistem pendidikan nasional harus sudah berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik. Namun, Gubernur (Lembaga Ketahanan Nasional) Lemhannas Letjen Jenderal TNI (purn) Agus Widjojo menilai, sistem pendidikan nasional saat ini masih berorientasi pada peningkatan kapasitas pengetahuan peserta didik.

“Katanya pendidikan di Finlandia yang terbaik, coba cari mengapa kok itu bisa menjadi yang terbaik?. Konon ceritanya, pada usia berkembangnya itu mereka tidak dipaksakan belajar yang berat-berat,” ucapnya dalam diskusi virtual, Rabu (6/10).

“Dan mereka (anak-anak di Finlandia) dibebaskan untuk bermain dan menemukan karakternya sendiri pada usia dini,” imbuhnya.

Sistem pendidikan nasional, kata dia, memang harus membentuk karakter terlebih dahulu, baru kemudian meningkatkan pengetahuan. “Jadi, awal-awalnya dulu (sebaiknya) tidak diberikan kepada mereka itu (anak-anak Indonesia) matematika, digojlok (dikacaukan) dengan matematika, tetapi semua untuk itu untuk mendidik budi pekerti dan tradisi budaya,” ujar Agus.

Padahal, sambungnya, Indonesia kini sedang berhadapan dengan perubahan iklim, disrupsi digital, dan pandemi Covid-19. Menurut Agus, perubahan iklim, disrupsi digital, dan pandemi Covid-19 mempengaruhi ketahanan sistem pendidikan nasional dari jenjang sekolah dasar (SD) hingga perguruan tinggi (PT).

“Perubahan iklim, disrupsi digital, dan pandemi Covid-19 sangat mempengaruhi guru, orang tua, dan peserta didik dalam penyelenggaraan pendidik. (Ini disebabkan) kurang siapnya orang tua, guru, pola pembelajaran yang belum berubah. Infrastruktur pendidikan juga belum siap menghadapi pandemi,” tutur Agus.

Imbasnya, jelas Agus, dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama pandemi, kapasitas guru dan dosen tidak mampu mengejar cepatnya perubahan (disrupsi).

Maka, jelas Agus, perlu dilakukan upaya luar biasa untuk mengantisipasi cepatnya perubahan tersebut. Misalnya, menghadirkan inovasi dalam penyelenggaraan pendidikan di semua jenjang, hingga menciptakan sumber daya manusia (SDM) unggul dengan karakter kebangsaan yang kuat.

Artikel ini ditulis oleh :

img
Manda Firmansyah
Reporter
img
Fathor Rasi
Editor
Bagikan :
×
cari
bagikan