sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Janji usut anggota yang bantu Djoko Tjandra, Kabareskrim: Biarpun teman satu angkatan

Kabareskrim pastikan tidak pandang bulu memberi sanksi anggota yang bantu Djoko Tjandra.

Ayu mumpuni
Ayu mumpuni Senin, 20 Jul 2020 11:20 WIB
Janji usut anggota yang bantu Djoko Tjandra, Kabareskrim: Biarpun teman satu angkatan
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 130718
Dirawat 39017
Meninggal 5903
Sembuh 85798

Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri Komjen Listyo Sigit Prabowo memastikan bakal transparan dalam mengusut anggota Polri yang terbukti membantu pelarian buron Djoko Tjandra.

Sigit menuturkan, seluruh pihak yang terlibat dalam upaya membantu pelarian Djoko Tjandra akan diberi sanksi tegas. Oleh karenanya, ia meminta seluruh masyarakat memercayai kerja Polri dalam pengungkapan kasus tersebut.

"Siapapun yang terlibat akan kami proses, itu juga merupakan komitmen kami untuk menindak dan usut tuntas dan kami pastikan akan transparan," ujar Sigit dalam keterangan resminya, Senin (20/7).

Terkait dengan isu para pelaku merupakan teman satu angkatannya di Akpol, Sigit menegaskan hal itu tidak menjadikan adanya keistimewaan dan tidak pandang bulu dalam melakukan pengusutan terhadap seluruh jajaran Polri yang terlibat.

"Biar pun teman satu angkatan, kami tidak pernah ragu untuk menindak tegas tanpa pandang bulu," ujar Sigit. 

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Brigjen Pol Prasetijo Utomo resmi dicopot dari jabatan Kepala Biro Koordinasi dan Pengawasan (Karo Korwas) PPNS Bareskrim Polri setelah terbukti membuat surat jalan palsu untuk Djoko Tjandra. Dia juga terancam dipidana atas perbuatannya.

Pencopotan jabatan juga dilakukan terhadap Brigjen Pol Nugroho Slamet Wibowo selaku Sekretaris National Central Bureau (Ses NCB) Interpol Indonesia dan Irjen Napoleon Bonaparte selaku Kepala Divisi Hubungan Internasional (Kadivhubinter) Polri. Keduanya dicabut dari jabatannya karena diduga meloloskan nama Djoko Tjandra dari daftar red notice Interpol.

Untuk diketahui, Djoko Tjandra merupakan terdakwa kasus pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali senilai Rp904 miliar yang ditangani Kejaksaan Agung. Pada 29 September 1999 hingga Agustus 2000, Kejaksaan pernah menahan Djoko. Namun, hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memutuskan ia bebas dari tuntutan karena perbuatan itu bukan perbuatan pidana melainkan perdata.

Sponsored

 

Berita Lainnya