sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Natal 2019, Keuskupan Agung Jakarta singgung politik pecah belah

Makna persahabatan dan persaudaraan saat Natal diutamakan lantaran itu warisan bangsa Indonesia.

Akbar Ridwan
Akbar Ridwan Rabu, 25 Des 2019 15:15 WIB
Natal 2019, Keuskupan Agung Jakarta singgung politik pecah belah
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 534.266
Dirawat 66.752
Meninggal 16.825
Sembuh 445.793

Uskup Keuskupan Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo, mengatakan perayaan Natal tahun 2019 membawa pesan berjudul 'hiduplah sebagai sahabat bagi semua orang'. Pemilihan pesan tersebut tujuannya agar perayaan Natal bermakna kontekstual.

Menurut dia, Natal bagi umat Kristiani bukanlah sekadar mengingat kelahiran Isa Almasih, melainkan juga mengenangnya. Di sisi lain, makna persahabatan dan persaudaraan juga diutamakan lantaran itu warisan bangsa Indonesia yang selalu diuji dalam perkembangannya.

"Yang namanya persahabatan atau persaudaraan itu dilihat sebagai warisan atau nilai bersama bangsa kita yang sejak awal ada gangguannya. Maka, nasihat ini semakin berarti, hidup sebagai sahabat bagi semua orang," kata Ignatius dalam jumpa pers di Gedung Karya Pastoral, Jakarta Pusat, Rabu (25/12).

Terkait dengan persaudaraan, Ignatius menyinggung devide et impera atau politik pecah belah yang dilakukan Kolonial Belanda. Pada saat itu cara tersebut dilakukan Belanda untuk memecah belah bangsa Indonesia.

Sebagai informasi, efek devide et impera paling terasa dampaknya bagi keberlangsungan Kerajaan Mataram. Saat itu, politik pecah belah berhasil melemahkan kekuasaan Kerajaan Mataram menjadi dua melalui Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755. Pascaperjajian itu, Belanda kian langgeng menguasai bumi Indonesia.

"Kalau bangsa kita bersatu, kolonialisme pasti akan hancur. Seperti kemudian ketika sudah ada satu nusa, satu bangsa, satu bahasa (Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928) Indonesia bersatu, kolonialisme hilang," ujar dia.

Di sisi lain mengenai perbedaan, Ignatius mengatakan, itu sudah ada sejak lama di Indonesia. Akan tetapi, Ignatius menilai perbedaan tersebut lekas diselesaikan dengan cara yang disebutnya ajaib, yaitu saat pendiri bangsa mendeklarasikan Pancasila sebagai ideologi bangsa.

"Itulah yang sekarang mesti dirawat, itulah yang sekarang mesti diperjuangkan, di tengah-tengah gejala-gejala baru lunturnya kebersamaan itu," ujar dia. 

Sponsored
Berita Lainnya