close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Petugas medis ber-APD lengkap membawa pasien positif Covid-19 untuk menjalani rawat inap di RSUP Adam Malik, Sumut. Foto Antara/Septianda Perdana
icon caption
Petugas medis ber-APD lengkap membawa pasien positif Covid-19 untuk menjalani rawat inap di RSUP Adam Malik, Sumut. Foto Antara/Septianda Perdana
Nasional
Minggu, 20 Februari 2022 14:33

Tanpa vaksin, angka rawat inap bisa naik hingga 18 kali

Kasus aktif Covid-19 di Indonesia terus mengalami lonjakan dalam beberapa hari ini akibat masuknya varian Omicron.
swipe

Kasus aktif Covid-19 di Indonesia terus mengalami lonjakan dalam beberapa hari ini akibat masuknya varian Omicron.

Dokter Rumah Sakit (RS) Bethesda, Yogyakarta, Devie Kristiani, mengatakan, Indonesia sudah memiliki "senjata tambahan" dalam menghadapi varian Omicron, yakni vaksin.

Dirinya mengatakan, tingkat rawat inap karena terpapar varian Omicron lebih rendah dibandingkan varian sebelumnya. Pangkalnya, vaksinasi menurunkan angka rawat inap akibat Covid-19 pada semua usia. 

Meskipun demikian, angka rawat inap 16 kali lebih banyak pada dewasa yang tidak divaksin. Lalu, angka rawat inap bisa naik delapan kali pada pasien remaja usia 12-18 tahun dan 18 kali lebih banyak pada lansia di atas 65 tahun yang tidak divaksin.

"Ternyata walau kena omicron rawat inap lebih rendah dibandingkan yang tidak divaksinasi di semua usia," ucapnya dalam acara "Webinar Kagama Telekonseling 14: Isolasi Mandiri pada Anak dan Dewasa", Minggu (20/2).

Anak-anak yang telah divaksin secara lengkap, menurut Devie, trennya lebih rendah daripada yang sudah divaksin tapi belum lengkap dan belum divaksin. Meski sudah divaksin, dia menekankan masyarakat tetap menjaga protokol kesehatan (prokes).

"Walau kita sudah divaksin, harus tetap prokes. Kalau sudah vaksin, [tetapi masih] kumpul-kumpul, ya, sama saja," jelasnya.

Lebih lanjut, Devie mengatakan, isolasi mandiri (isoman) perlu dilakukan apabila melakukan kontak erat dengan penderita. Dikatakan kontak erat jka seseorang berdekatan dengan kasus Covid-19 atau memiliki gejala Covid-19 dalam jarak 1 meter selama 15 menit atau lebih.

Kemudian, seseorang yang bersentuhan fisik secara langsung dengan kasus Covid-19 atau memiliki gejala Covid-19. Bersalaman, berpegangan tangan, berpelukan, dan lainnya, misalnya.

"Hendaknya isolasi mandiri langsung walau tidak ada gejala atau gejala ringan. Ingat, bahwa Covid-19 ini bisa menyebabkan penyakit berat dan kematian orang-orang komorbid," paparnya.

img
Anisatul Umah
Reporter
img
Fatah Hidayat Sidiq
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan