close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Mental Rafael Struick pantas diteladani. Foto PSSI
icon caption
Mental Rafael Struick pantas diteladani. Foto PSSI
Olahraga
Senin, 22 April 2024 19:05

Garuda Muda: Naik tingkat atau kejutan sesaat?

Setelah mencapai target, STY pantas diingatkan supaya lekas melupakan permainan cantik Garuda Muda.
swipe

Mental pemain sepak bola berlabel tim nasional kini sudah mulai berubah lebih kebal terhadap kekalahan. Pada skuad kelompok usia tanggung, antara junior-semi-senior, kesebelasan Indonesia U-23 tampak peningkatan.

Terlihat dari majunya Garuda Muda ke babak 8 Besar pada Piala Asia U-23 Qatar 2024. Apresiasi kepada Marselino Ferdinan dkk patut diberikan oleh segenap suporter Merah Putih. Namun, pandangan netral tetap harus dikedepankan tentu saja.

Usia di bawah 23 tahun menjadi "kelompok tanggung" karena FIFA tidak membuat kejuaraan dunia untuk mereka. Hanya tersedia turnamen kontinental antarbenua, ajang yang bertujuan sebagai kualifikasi Olimpiade. Ajang ini pun selalu gembos sebab klub profesional biasanya tidak mengizinkan pemainnya dibawa pergi ke tingkat nasional.

Perubahan mental timnas terasa dialami semua pemain. Khususnya, tidak lagi kelihatan payahnya sikap yang disebut "local pride" terhadap rekan-rekan sepermainannya yang berasal dari program naturalisasi.

Betapa pahitnya bila teringat pertandingan persahabatan internasional di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, pada 25 November 2017. Saat itu, striker asal Montenegro, Ilija Spasojevic, menjalani debutnya berseragam timnas senior kontra Guyana. Tidak seorangpun rekan sepermainannya mau memberi dia bola! Mirisnya.

Beruntung 17 pemain yang sempat terjun bertanding (baik sebagai inti maupun pemain pengganti) sama Spaso ketika itu tidak pernah kembali dipanggil timnas sejak era kepelatihan berganti ke tangan Shin Tae-yong (STY). Mental mereka yang rusak parah telah menghancurkan seorang penyerang potensial yang sebenarnya berambisi mengangkat level permainan Indonesia.

Skuad berganti, mental pun berubah. Lolos ke perempat final dari Grup A Piala Asia U-23 2024, Indonesia U-23 bekerja dengan penuh gaya. STY yang pasti tidak lagi memberi kesempatan kepada pemain titipan yang mungkin saja bisa "membocorkan" hasil laga sebelum pertandingan. Ia tampak berhati-hati memilih satu per satu nama yang rela berkorban demi lambang PSSI.

Setelah mencapai target, STY pantas diingatkan supaya lekas melupakan permainan cantik Garuda Muda. Dia harus tetap mengutamakan keseimbangan antara "kasih keras" dan bermain indah.

Imbas kenaikan level timnas akan mempertemukan Indonesia dengan tim-tim mapan papan atas Asia. Kekuatan raksasa seperti Jepang atau Korea Selatan jelas lebih fasih memperagakan sepak bola indah ketimbang tim kejutan yang baru "seumur jagung" menjalani debut di tingkat benua.

Empat tahun silam, kemunculan perdana besutan total STY yang menggugah publik berbentuk timnas di Piala AFF 2020. Tatkala pendekatannya menyuguhkan permainan "keras" hingga berhasil menapak ke puncak turnamen skala ASEAN. Tapi, setelah ke sana makin ke sini, polanya pelan-pelan berubah "halus lembut sopan ramah" layaknya sebuah tim sepak bola putri.

Padahal pilar timnas junior-senior mayoritas berasal dari klub-klub Liga 1. Menurut Footystats, rerata per pertandingan di Liga 1 mengeluarkan sebanyak 5,13 kartu (akumulatif kuning dan merah). 2,47 kartu untuk tim tuan rumah dan 2,66 untuk tim tandang.

Total ada 1468 kartu dalam 286 pertandingan yang tercatat menghasilkan kartu. Statistik ini berlaku untuk Liga 1 musim 2023/24. Jumlahnya lebih tinggi dari rata-rata wasit memberikan 3,6 kartu kuning per pertandingan menurut studi internasional seperti dikutip Research Gate.

Artinya, permainan Liga 1 lebih keras ketimbang sejumlah liga internasional lainnya. Catatan ini tidak bisa diutak-atik dengan cara lain.

Di Qatar, pemain Indonesia U-23 telah mengantongi lima kartu kuning dan dua kartu merah dari tiga laga. Atau rerata 1,6 kartu kuning dan 0,6 kartu merah. Statistiknya 11-12 dari rekor Piala AFF 2020 dengan rerata 1,75 kartu per pertandingan. Kedua turnamen adalah gelanggang yang berbeda.

Pemain melepaskan diri dari segala beban sikap ramah-tamah penuh kelembutan di atas lapangan. Karakter ala "white supremacy" sebagai perbawa Justin Hubner dapat diteladani menjadi sokoguru mental para pemain lain. Itu akan mengunci level Indonesia di pentas Asia.

Akan sama-sama terbuktikan: Kelas timnas cukup meningkat atau Piala Asia U-23 2024 hanya kejutan sesaat. Besoknya jangan sampai netizen kembali menyumpah-serapahi PSSI.

img
Arpan Rachman
Reporter
img
Fitra Iskandar
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan