close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Pasangan capres-cawapres nomor urut 3 Ganjar Pranowo-Mahfud MD menghadiri debat ketiga Pilpres 2024 di Istora Senayan, Jakarta Pusat, Ahad (7/1). /Foto Instagram @ganjar_pranowo
icon caption
Pasangan capres-cawapres nomor urut 3 Ganjar Pranowo-Mahfud MD menghadiri debat ketiga Pilpres 2024 di Istora Senayan, Jakarta Pusat, Ahad (7/1). /Foto Instagram @ganjar_pranowo
Pemilu
Senin, 08 Januari 2024 19:20

Debat ketiga: Ganjar cemerlang, Anies-Prabowo sibuk saling serang

Ganjar Pranowo dianggap unggul dari Prabowo Subianto dan Anies Baswedan dalam debat ketiga Pilpres 2024.
swipe

Debat ketiga Pilpres 2024 berlangsung panas. Digelar di Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI di Istora Senayan, Jakarta, Ahad (7/1), audiens debat seolah lebih banyak dipertontonkan saling serang antara capres nomor urut 1 Anies Baswedan dan capres nomor urut 2 Prabowo Subianto. 

Peluru serangan meluncur dari Anies sejak pemaparan visi misi di segmen pertama. Saat membicarakan kondisi separuh dari jumlah prajurit Indonesia tak memiliki rumah dinas, Anies membandingkan dengan Prabowo sebagai Menteri Pertahanan (Menhan) yang justru punya tanah hingga ratusan hektare. 

Kedua kandidat juga saling kritik di segmen-segmen berikutnya. Saat membahas soal anggaran pertahanan, misalnya, Anies mengungkap proses pengadaan alutsista kerap tertutup dan melibatkan orang dalam. 

Anies bahkan menyebut PT Teknologi Militer Indonesia (TMI) sebagai perusahaan yang diuntungkan proyek-proyek pengadaan alutsista. Perusahaan itu ditengarai diisi orang-orang dekat Prabowo. Namun, Prabowo berdalih data yang dipegang Anies keliru. 

Capres nomor urut 3 Ganjar Pranowo tak ikut terbawa suasana. Di luar ekspektasi, Ganjar justru tampil memukau di debat yang topiknya seharusnya menguntungkan Prabowo. Beberapa kali, Ganjar menjawab pertanyaan dengan solusi terukur. 

Analis politik Citra Institute, Yusak Farchan mengamini itu. Menurut dia, performa debat Ganjar ciamik sejak awal hingga akhir debat. Dibalut jaket penerbang pesawat tempur, eks Gubernur Jawa Tengah itu juga terlihat sangat percaya diri. 

"Dia juga menguasai isu-isu soal geopolitik dan terlihat sangat menguasai dengan baik ancaman yang berpotensi datang ke Indonesia. Bukan hanya ancaman real melalui darat, udara dan laut dan siber. Ganjar cukup rinci menjelaskannya," kata Yusak kepada Alinea.id di Jakarta, belum lama ini. 

Saat ditanya panelis soal konflik di Laut Cina Selatan yang tak kunjung usai, Ganjar menjawab kesepakatan sementara antara semua pihak yang terlibat jadi solusi yang tepat untuk mendamaikan kawasan itu. Menurut dia, Indonesia bisa berperan sebagai inisiator kesepakatan itu. 

Jawaban itu sempat ditimpali Anies. Menurut Anies, Ganjar seharusnya menggunakan Asean untuk menangani konflik LCS. Ganjar berdalih proses pengambilan keputusan yang berbelit di Asean bakal mempersulit upaya mencapai kesepakatan. 

Sebagai dasar argumentasi, Ganjar mencontohkan declaration of conduct (DOC) di Laut China Selatan yang disepakati China dan Asean pada 2002, namun kerap dilanggar. Begitu pula negosiasi code of conduct (COC) yang hingga kini belum rampung. 

Debat ketiga Pilpres 2024 mengambil tema hubungan internasional, pertahanan, keamanan, globalisasi, dan geopolitik. Meski makanan sehari-hari Prabowo sebagai Menhan, menurut Yusak, Prabowo tampil melempem. 

Alih-alih memaparkan kinerjanya sebagai Menhan yang bisa jadi poin positif bagi publik, Prabowo malah kebanyakan sibuk menangkis serangan-serangan dari dua kompetitornya. Dalam sesi tanya jawab antara kandidat, Prabowo pun tak mampu menjawab lugas.  

"Pak Ganjar dan Pak Anies tampil cenderung ofensif. Karena ini memang kesempatan emas untuk menguliti Pak Prabowo. Memang kita lihat Pak Prabowo menjadi sasaran empuk atas strategi ofensif Pak Ganjar dan Pak Anies. Pak Prabowo dikuliti di tema yang semestinya dia kuasai," ucap Yusak.

Salah satu segmen paling menarik, kata Yusak, ialah ketika Prabowo menyinggung argumentasi Ganjar dan Anies yang tidak menggunakan data akurat. Namun, Prabowo juga tidak sanggup menyajikan data ketika ditantang Ganjar dan Anies. Prabowo malah menawarkan diskusi di luar sesi debat KPU. 

Lantas bagaimana dengan Anies? Menurut Yusak, Anies tampil trengginas. Sayangnya, eks Gubernur DKI Jakarta itu terlampau terlihat ingin menyerang Prabowo secara personal. Ia mencontohkan pertanyaan Anies kepada Prabowo soal standar etika yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin di bidang pertahanan. 

"Anies terlibat perdebatan yang sebetulnya tidak terlalu urgen ketika menyinggung masalah standar etik pimpinan yang dikaitkan dengan pencawapresan Mas Gibran. Menurut saya, itu dua hal yang cukup berbeda ketika Pak Anies mengangkat dengan etika di sektor keamanan dan dikaitkan soal etika di bidang politik," ucap Yusak.

Ketika itu, Anies juga mempertanyakan standar etika Prabowo saat jalan terus bersama cawapresnya Gibran Rakabuming Raka meskipun sadar pencalonan Gibran lewat proses uji materi yang cacat etik di Mahkamah Konstitusi (MK). Ia juga menyinggung Prabowo yang beberapa waktu lalu mengolok-olok etika di acara internal Partai Gerindra. 

"Dan kemudian dalam pidato di (acara Partai Gerindra) Bapak mengolok-olok tentang pentingnya etika. Saya tidak tega untuk mengulanginya. Pertanyaannya, apa penjelasan Pak Prabowo soal itu semua?" kata Anies. 

Pertanyaan-pertanyaan itu memantik emosi Prabowo. Tanpa merinci kasusnya soal apa, Ketua Umum Partai Gerindra itu menyebut Anies tidak berhak berbicara soal etik. "Saya merasa bahwa Anda itu posturing. Anda menyesatkan. Itu saja," kata Prabowo. 

Bumerang? 

Analis politik dari Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah berpendapat debat ketiga Pilpres 2024 menjadi panggung bagi Anies menguliti Prabowo dengan vulgar. Namun, ia menilai hal itu justru bisa menjadi bumerang bagi Anies. 

"Bisa saja Anies sudah meyakini kelompok loyalisnya cukup kuat hingga ia mulai berani mengkritik Prabowo, bahkan soal personal. Ini berisiko membangun simpati pada Prabowo. Sikap yang kritis saat ini belum diminati di Indonesia, Anies seharusnya tetap menjaga sikap, tidak vulgar menyerang," ucap Dedi kepada Alinea.id, Minggu (7/1).

Namun demikian, Dedi menilai Ganjar dan Prabowo tampil normatif. Secara khusus, ia menyayangkan Prabowo yang tak mampu menjadikan panggung debat sebagai momentum untuk menyampaikan raihan-raihan positif Kemenhan.  

"Ia (Prabowo) terhitung kurang berhasil sampaikan apa yang sudah ia lakukan selama ini. Bisa saja, ia sendiri kesulitan memilah mana prestasinya sepanjang memimpin Kemenhan. Tapi, kalau dari sisi gagasan dan ide, Ganjar dan Anies lebih jelas dibanding Prabowo," ucap Dedi.

 

img
Kudus Purnomo Wahidin
Reporter
img
Christian D Simbolon
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan