logo alinea.id logo alinea.id

Jokowi menang data, tapi kalah ekspresi nonverbal

Meski unggul dalam memaparkan fakta dan data hasil kerja, Joko Widodo dinilai lebih emosional dan reaktif.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Senin, 18 Feb 2019 20:15 WIB
 Jokowi menang data, tapi kalah ekspresi nonverbal

Dalam debat kedua Pilpres 2019, Minggu (17/2) malam, calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto menunjukkan sikap positif kepada calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo. Beberapa kali, pujian dan apresiasi kinerja dilontarkan Prabowo.

Sejumlah pencapaian calon petahana itu, seperti jumlah waduk dan jalan tol yang dibangun, dipaparkan Jokowi lengkap, mengutip angka-angka terukur. Meski begitu, ada beberapa catatan minus untuk Jokowi.

Pakar analisis gerak tubuh dan komunikasi nonverbal Handoko Gani menjelaskan, Jokowi lemah dalam menyampaikan ekspresi nonverbal.

“Jokowi punya kelemahan dan kalah dalam ekspresi nonverbal,” kata Handoko, ketika ditemui reporter Alinea.id di Plaza Setiabudi, Jakarta Selatan, Senin (18/2).

Handoko mengatakan, dibandingkan Prabowo, Jokowi sangat ekspresif dan reaktif dalam menanggapi pendapat Prabowo. Menurutnya, hal ini tampak ketika Prabowo menawarkan strategi kepemimpinan yang berbeda dengan Jokowi.

“Jokowi mudah terpancing emosinya oleh ucapan Prabowo. Sebaliknya, apa yang diujarkan Jokowi dan bermaksud memancing emosi Prabowo, ternyata tidak efektif, karena Prabowo tidak mudah terpancing,” ujar Handoko.

Selain itu, kata Handoko, Jokowi kerap menampilkan gestur nonverbal yang bertentangan dengan muatan emosi dari ucapan-ucapannya. Semestinya, ujar Handoko, komunikasi yang baik dan meyakinkan, terlebih bagi seorang pemimpin, adalah yang harmonis antara aspek verbal dan nonverbal.

“Namun, bisa saja ekspresi verbalnya lurus, tapi nonverbalnya tidak sesuai. Orang jadi menangkap ada kemungkinan dia tidak bertindak jujur,” kata Handoko.

Sponsored

Mengubah citra diri

Joko Widodo terlihat lebih ekspresif dan emosional. (Alinea.id/Ahmad Rifwanto).

Handoko Gani memandang, ada upaya dari kedua kubu untuk mendorong masing-masing capres mengubah persepsi usang masyarakat. Di tim capres nomor urut 01, kata Handoko, timnya menyusun strategi untuk menghapus citra Jokowi sebagai tokoh yang penakut atau boneka kepentingan oknum politik.

“Citra diri itu ingin diubah dengan menekankan sebagai sosok yang tidak takut,” kata Handoko.

Sayangnya, lanjut Handoko, pilihan strategi itu menjadi kelemahan Jokowi, karena telah diterapkan secara kebablasan, terutama tampak sebagai gaya retorika dan penampilan dalam debat. Akibatnya, kata Handoko, muncul pandangan Jokowi terlihat lebih marah, atau emosi lain yang cenderung negatif.

Handoko menguraikan, gestur-gestur Jokowi yang sama sekali tak menghargai Prabowo. Misalnya, melengos, merengut, dan menggelengkan kepala sembari memalingkan wajah ke arah kanan menjauhi tatapan Prabowo.

“Tatapan mata Prabowo ke arah Jokowi juga jauh lebih banyak daripada Jokowi kepada Prabowo,” katanya.

Makna debat

Prabowo Subianto tampil lebih tenang. (Alinea.id/Ahmad Rifwanto).

Sebagai pakar bahasa tubuh dan analis kebohongan, Handoko juga memandang, setiap debat bertujuan sebagai pertimbangan bagi publik untuk menilai kualitas sosok pemimpin. Maka, tak hanya soal isi dari paparan yang disampaikan, cara dan gaya berkomunikasi pun sangat penting.

Dia menyarankan, publik harus cermat dalam menilai kepribadian calon pemimpin yang dapat menahan emosi dan mengendalikan diri.

“Keduanya pasti sama-sama tidak merasa nyaman (dalam berdebat). Jokowi menggaruk atau memperbaiki gulungan lengan bajunya, sedangkan Prabowo memegang ujung podium. Itu wajar,” kata Handoko.

Kedua capres tentu mengalami situasi yang tak nyaman, seperti ditampilkan dari bahasa tubuh dan gerak-gerik tersebut. Namun, menurut Handoko, cara capres dalam saling merespons pertanyaan dan tanggapan patut disimak.

“Masyarakat Indonesia ini ketimuran, masih menjunjung keramah-tamahan. Memang secara data dan fakta Jokowi menang, tapi ekspresi nonverbal Jokowi kalah. Harus diingat, setelah debat, soal hati calon pemilih harus dimenangkan” ujar Handoko.