close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Jembatan Krueng Tingkeum di Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen, Aceh. dok. Satgas PRR/Kementerian PU
icon caption
Jembatan Krueng Tingkeum di Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen, Aceh. dok. Satgas PRR/Kementerian PU
Peristiwa
Jumat, 23 Oktober 2026 20:27

Jembatan Krueng Tingkeum ditargetkan pulih Desember, infrastruktur Sungai Peusangan diperkuat

Pekerjaan jembatan eksisting telah memasuki pemasangan tiang pancang pada pilar tengah atau P2, disertai penyiapan tapak konstruksi. Penambahan satu segmen jembatan tersebut ditargetkan selesai dan kembali beroperasi secara normal pada Desember 2026.
swipe

Pemulihan infrastruktur di kawasan Krueng Tingkeum, Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen, terus dipercepat. Setelah jembatan duplikasi selesai dibangun, pekerjaan tahap kedua kini difokuskan pada pemulihan jembatan eksisting serta pengamanan aliran Sungai Peusangan untuk menjaga konektivitas dan keselamatan permukiman warga.

Pekerjaan jembatan eksisting telah memasuki pemasangan tiang pancang pada pilar tengah atau P2, disertai penyiapan tapak konstruksi. Penambahan satu segmen jembatan tersebut ditargetkan selesai dan kembali beroperasi secara normal pada Desember 2026.

Project Manager Jembatan Krueng Tingkeum dari PT Adhi Karya, Sutrisno, mengatakan pekerjaan konstruksi bawah dipercepat agar kapasitas layanan jembatan kembali pulih dan arus transportasi tidak hanya bergantung pada jembatan duplikasi.

“Jembatan duplikasi sudah selesai. Kami sekarang mengerjakan jembatan eksisting yang terdampak banjir. Pekerjaannya berupa penambahan satu segmen dan saat ini sedang dilakukan pemancangan untuk pilar P2 atau pilar tengah,” kata Sutrisno.

Bentang dari abutment menuju pilar dirancang sepanjang 50 meter dengan kemampuan menahan beban kendaraan lebih dari 30 ton. Ketika jembatan eksisting selesai, kedua jembatan akan memperkuat kelancaran pergerakan orang dan distribusi logistik pada jalur strategis Aceh–Sumatera Utara.

Pemulihan konektivitas tersebut berjalan beriringan dengan pengamanan aliran Sungai Peusangan. Batu boulder dipasang pada tiga segmen sepanjang 350 meter, 250 meter, dan 850 meter atau total sekitar 1,45 kilometer untuk mengurangi gerusan sekaligus memperkuat perlindungan permukiman di tepi sungai.

Staf Khusus Balai Wilayah Sungai Sumatera I Aceh, Jamaluddin, mengatakan penanganan diprioritaskan pada kawasan yang mengalami dampak paling berat. Pekerjaan tersebut menjadi bagian dari paket penanganan sedimentasi sungai yang didanai APBN 2026 senilai Rp50 miliar.

“Daerah yang kami pasang batu boulder adalah kawasan yang paling terdampak. Insyaallah sekitar 45 hari lagi pekerjaan ini sudah selesai,” kata Jamaluddin.

Kebutuhan perlindungan sungai menjadi penting setelah banjir membawa arus deras dan endapan lumpur hingga mendekati dua meter di Desa Ujong Blang dan sejumlah desa sekitarnya. Di Ujong Blang, empat rumah warga hilang tersapu banjir, dua rumah rusak berat, dan 12 rumah lainnya harus direlokasi. Sedikitnya 25 hektare lahan pertanian juga terendam.

Kepala Desa Ujong Blang, Aris Sandi, mengatakan pengamanan tepi sungai mulai memberikan rasa aman kepada masyarakat, terutama ketika hujan turun dan debit Sungai Peusangan meningkat.

“Alhamdulillah dengan program ini, masyarakat kami bisa merasa tenteram dan nyaman karena saat terjadi hujan tidak waswas lagi,” ujar Aris.

img
Tim copywriter
Reporter
img
Tim copywriter
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan