sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

PAN Reformasi dan manuver kalut Amien Rais

Keberadaan PAN Reformasi yang digagas loyalis Amien Rais bakal menggembosi kekuatan elektoral PAN.

Marselinus Gual
Marselinus Gual Kamis, 19 Mar 2020 05:57 WIB
PAN Reformasi dan manuver kalut Amien Rais
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 396.454
Dirawat 60.694
Meninggal 13.512
Sembuh 322.248

Kabar sumir mengenai isu pendirian Partai Amanat Nasional (PAN) Reformasi mulai terang-benderang. Lewat sebuah video yang beredar di media sosial beberapa hari lalu, mantan Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais mengklarifikasi rencana itu. 

Tampil dalam balutan baju koko berwarna putih dan peci hitam, Amien mengungkapkan, PAN Reformasi digagas sebagai upaya menyelamatkan PAN dari keterpurukan. Apalagi, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan dan loyalisnya menunjukkan gelagat tak bakal mengakomodasi semua faksi di tubuh PAN dalam struktur kepengurusan baru.

"Terus terang, mula-mula saya katakan belum perlu. Kita masih punya berbaik sangka Pak Zulkifli Hasan ini dan rombongan pemimpin yang banyak sekarang ini bisa datang akal sehatnya kemudian menggunakan kearifan, yaitu merangkul semuanya," kata Amien. 

Dalam video berdurasi sekitar enam menit itu, Amien juga menyoroti langkah Zulkifli sowan ke sejumlah petinggi partai usai terpilih kembali menjadi Ketum PAN. Amien menengarai PAN tengah dijadikan kendaraan politik untuk memenuhi ambisi Zulkifli dan loyalisnya.  

"Dan memang desakan yang real dari bawah harus saya saluti, harus saya respons. Saya enggak bisa diam saja kan? Saya masih sehat dan itu memang salah satu solusi yang bagus buat masa depan PAN. Kita bisa bikin PAN Reformasi. Kenapa tidak?" ujarnya.

Seperti PAN, PAN Reformasi akan bernafaskan Islam. Amien mengatakan akan menjadikan Alquran sebagai salah satu dasar yang memberi arah pada partai itu nantinya. PAN Reformasi juga menjadikan Pancasila sebagai rujukan kebijakan partai.

"Dan mudah-mudahan nanti saya bisa umumkan pada saat yang sudah tepat, melihat keadaan dulu bahwa kemungkinan, kemungkinan, dan insyaallah akan muncul Partai PAN Reformasi," kata pria yang kini genap berusia 75 tahun itu.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Mohammad Amien Rais (Official) (@amienraisofficial) pada

Sponsored

Amien saat ini memang tak lagi sejalan dengan Zulkifli. Di Kongres V PAN di Kendari, Sulawesi Tenggara, pertengahan Februari lalu, Amien mendukung Mulfachri Harahap untuk maju menggantikan Zulkifli. Padahal, Amien terang-terangan mendukung Zulkifli sebagai ketum di Kongres IV PAN pada 2015.

Sayangnya, jagoan Amien kali itu keok. Dalam kongres yang diwarnai kericuhan itu, Zulkifli sukses mendulang 331 suara dari 562 suara sah. Mulfachri hanya meraup 225 suara atau terpaut lebih dari 100 suara. Caketum PAN lainnya, Drajat Wibowo, hanya memperoleh 6 suara. 

Konflik di kongres tersebut berlanjut hingga ke proses penyusunan kepengurusan. Meskipun susunan kepengurusan belum diumumkan, Zulkifli disebut-sebut tak akan memberikan posisi strategis kepada loyalis-loyalis Amien. 

Itu setidaknya terlihat dari langkah Zulkifli menempatkan Soetrisno Bachir sebagai Ketua Dewan Kehormatan PAN, posisi yang sebelumnya dikuasai Amien. Loyalis Amien menyambut langkah itu dengan mengembuskan isu pembentukan PAN Reformasi.

Saat menyambangi Kantor DPP NasDem di Gondangdia, dua pekan lalu, Zulkifli membantah internal PAN terbelah. Ia juga menepis tengah menyingkirkan dominasi Amien di partai berlambang matahari putih itu. "Pak Amien selalu spesial di PAN," ujar Zulkifli. 

Tak sekadar gertak sambal 

Koordinator tim pemenangan Mulfachri Harahap, Muhammad Asri Anas mengatakan rencana Amien Rais membentuk PAN Reformasi bukan sekadar gertak sambal. Menurut dia, langkah itu terpaksa ditempuh karena rekonsiliasi pascakongres menemui jalan buntu.  

"Menurut beliau (Amien), udah enggak ada lagi waktu untuk duduk bersama dengan Zulhas (sapaan akrab Zulkifli). Ya, memang keinginan dan duduk bersama untuk rekonsiliasi enggak ada sama sekali dari Zulhas," kata Asri saat berbincang dengan Alinea.id, Jakarta, Senin (16/3).

Untuk mewujudkan rencana itu, Asri dan empat orang lainnya ditugaskan Amien menyerap aspirasi dari akar rumput. Menurut dia, hingga kini sudah ada 22 dewan pimpinan daerah (DPD) yang mendukung pembentukan PAN Reformasi. 

Tak hanya itu, Asri mengatakan, eks kader-kader PAN juga bersedia kembali bergabung di bawah komando Amien. "Ada 22 provinsi totalnya yang udah siap. Itu udah lengkap lho sampai kabupaten," jelas Ketua DPW PAN Sulawesi Barat itu. 

Asri tak menampik PAN Reformasi lahir karena kekecewaan kubu Amien karena pelaksanaan kongres yang dianggap tidak sesuai anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) PAN. Menurut dia, Zulkifli menghalalkan segala cara untuk menang dalam kongres tersebut. 

"Tidak terpilih dalam pertarungan itu biasa aja. Yang tidak benar itu kalau proses terpilihnya itu tidak benar. Contoh, engak ada pembahasan tatib (tata tertib). Enggak ada pembahasan AD/ART dan langsung pemilihan. Memasukan orang, preman-preman, yang tidak ada hubungannya dengan kongres," katanya.

Ketua Umum PAN periode 2020-2025 Zulkifli Hasan (kedua kanan), Ketua MPP PAN Hatta Rajasa (kedua kiri) dan sejumlah pengurus PAN memberi keterangan pers pada Kongres V PAN di Kendari, Sulawesi Tenggara, Rabu (12/2). /Foto Antara

Saat disinggung progres pendirian PAN Reformasi, Asri memaparkan saat ini sudah ada tim kecil yang menyusun AD/ART dan logo partai baru itu. "Udah ada semua. Jadi, sebenarnya kalau timnya udah ada. Tapi, apa pun karena fatsum kita adalah Amien Rais, ya, kita semua tunggu keputusan Pak Amien," tuturnya.

Dia juga menepis anggapan PAN Reformasi lahir karena Amien masih ingin terus berkuasa. "Enggak juga. Siapa bilang? Pak Amien sudah mengatakan, 'Saya yang mendirikan partai ini, saya meletakan fondasi demokrasi yang sehat. Enggak boleh ada yang dua kali (jadi ketum) dan saya membuktikan itu'," ujar Asri. 

Dikonfirmasi Alinea.id, politikus PAN sekaligus loyalis Zulkifli, Viva Yoga Mauladi mengatakan belum mengetahui secara detail rencana pembentukan PAN Reformasi. 

"Apakah itu organisasi atau bukan? Apakah itu seperti organisasi kemasyarakatan atau organisasi sosial politik atau partai. Kita lihat saja perkembangannya," kata Viva Yoga di Jakarta, Senin (16/3).

Viva tak mau merinci susunan kepengurusan yang tengah digodok formatur. Namun demikian, ia memastikan kepengurusan PAN sudah sesuai AD/ART. Ia pun meminta seluruh kader menghormati format kepengurusan baru yang bakal diumumkan pada 25 Maret itu. 

"Seluruh kader dan pengurus PAN, mulai DPP, DPW, serta DPC selalu berlandaskan pada AD/ART dan peraturan partai. Mereka telah memiliki kesadaran politik, pilihan politik, dan kedewasaan politik dalam menentukan langkahnya," kata dia. 

Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan tiba dilokasi pembukaan Kongres V PAN disambut dengan Tarian Mondotambe Suku Tolaku, di MTQ Square, Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (10/2). /Foto Antara

PAN berpotensi tenggelam

Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro menilai PAN Reformasi bukan sekadar wacana. Berkaca dari pembentukan Partai Gelora, menurut Siti, kubu Amien punya peluang untuk membentuk partai tandingan. 

"Kalau pendukungnya signifikan, tak tertutup kemungkinan PAN Reformasi akan terbentuk seperti halnya Partai Gelora yang tokoh-tokohnya adalah kader-kader PKS," kata Ziti saat dihubungi Alinea.id di Jakarta, Senin (16/3).

Jika direalisasikan, menurut Siti, PAN Reformasi akan menggerus kekuatan elektoral PAN. Bahkan, terbuka kemungkian PAN tak mampu melompati ambang batas parlemen pada Pileg 2024 karena kader-kadernya hengkang ke partai bentukan Amien. 

"Mau tidak mau pendukung PAN akan terbelah atau terbagi. Dengan kemungkinan dukungan terbagi seperti itu, bisa-bisa tak hanya PAN yang tak lolos dalam pemilu 2024, tapi juga PAN Reformasi," kata dia.

Di Pileg 2019, PAN hanya meraup 9.572.623 suara atau 6,84% dari total suara nasional. Dengan ambang batas parlemen sebesar 4%, PAN tak bakal mampu meloloskan kader ke DPR jika setengah suara konstituennya terpecah ke PAN Reformasi.

Analisis serupa diutarakan peneliti senior Indonesian Public Institute (IPI) Karyono Wibowo. Menurut Karyono, Amien tengah membawa PAN ke masa vivere pericoloso.  

"Yang artinya PAN tengah hidup dalam bahaya atau menyerempet bahaya. Bisa terjebak dalam jurang yang dapat menghancurkan partai," jelas Karyono. 

Infografik Alinea.id/Oky Diaz

Lebih jauh, Karyono mengatakan, embel-embel 'reformasi' yang diusung Amien dan loyalisnya tak lagi laku di pasaran. Menurut dia, PAN tidak lagi diidentikan publik sebagai partai yang mengusung semangat reformasi. 

"Mereka mengira dengan melakukan glorifikasi kejayaan PAN di masa lalu bisa menjadi magnet. Padahal, kondisinya sudah berbeda. Apalagi, pamor PAN sebagai partai yang mengusung spirit reformasi kian memudar," katanya.

Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago menilai rencana membentuk PAN Reformasi merupakan manuver emosional Amien. Sebagai politikus senior, menurut dia, tak seharusnya Amien bersikap reaksioner. 

Pangi pun pesimistis Amien bisa mengembalikan kejayaan PAN lewat PAN Reformasi. Apalagi, jika partai baru itu tak punya tokoh mumpuni dan logistik yang memadai.  

"Itu sama kan dengan PDI-P. PDI bubar kemudian lahir PDI-P. Itu enggak gampang. Cari tokoh, figur, caleg-caleg yang mumpuni, mesin partai, logistik. Itu tantangannya berat. Apalagi, parliamentary threshold naik lagi angkanya," kata dia. 

Ketimbang mendirikan partai baru, Pangi menyarankan agar Amien mencontoh sikap kenegarawanan politikus Golkar Akbar Tanjung. Meskipun jagoannya kalah, Akbar tetap setia di partai berlambang pohon beringin itu.

"Walapun dia (Akbar) kalah, dia tetap ada di Golkar. Tak akan pernah meninggalkan Golkar. Nah, itulah negarawan. Begitu gerbong lain terpilih, gerbong yang di sana tercecer. Enggak masuk kepengurusan. Itu biasa aja dalam parpol. Kenapa harus panik?" tutur dia. 
 

Berita Lainnya