sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Sinar Sandiaga, ledekan Gerindra, dan karpet biru PAN

Sandiaga Uno disarankan untuk berparpol jika tertarik maju lagi di Pilpres 2024.

Kudus Purnomo Wahidin
Kudus Purnomo Wahidin Kamis, 05 Sep 2019 20:18 WIB
Sinar Sandiaga, ledekan Gerindra, dan karpet biru PAN

Daya tarik politik Sandiaga Uno tak serta merta meredup setelah ia dan pasangannya Prabowo Subianto dipastikan kalah di Pilpres 2019. Pascapilpres, Sandi, sapaan akrab Sandiaga Uno--yang tak berparpol setelah mundur dari Gerindra--diburu sejumlah partai politik.  

Partai Amanat Nasional (PAN) menjadi yang terdepan dalam upaya menggaet Sandi. April lalu, Sekretaris Jenderal PAN Eddy Soeparno mengungkapkan, kartu tanda anggota (KTA) untuk Sandi sudah disiapkan PAN. "Tinggal diserahkan saja. Tunggu kapan Pak Sandi menerima KTA kami," ujar Eddy. 

Sandi menolak tawaran itu. Ia mengatakan, akan rehat sejenak dari jagat politik dan fokus mengembangkan OK-Oce, proyek pengembangan wirausaha yang ia rintis saat  berkampanye bersama Anies Baswedan di Pilgub DKI Jakarta.

"PAN, saya ucapkan terima kasih. Kemarin dari Gerindra juga ada utusan datang ke kantor saya, saya ucapkan terima kasih. Saya jeda dulu dari politik sementara," ujar Sandi, Agustus silam. 

Tak patah arang, PAN terus bermanuver memburu tanda-tangan Sandi. Terbaru, partai berlambang matahari itu mengundang Sandi untuk turut serta memperebutkan kursi ketua umum di Kongres PAN pada 2020 mendatang.  

"Wah, itu karpet biru kita siapkan. Kalau mau (memperebutkan kursi ketua umum), ya silakan. Segera silaturahmi dengan pemilik suara," ujar Ketua DPP PAN Yandri Susanto di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (4/9) lalu. 

Namun demikian, Wakil Ketua Dewan Kehormatan PAN Drajad Wibowo menegaskan, belum ada pembicaraan resmi di internal PAN untuk 'mengundang' Sandi. "Kami belum mendengar ucapan dari Sandiaga Salahudin Uno sendiri," kata dia kepada Alinea.id. 

Isu Sandi mengincar posisi ketum di PAN itu sebelumnya ditanggapi pedas oleh politikus Gerindra Desmond J Mahesa. Menurut dia, wajar jika Sandi berlabuh ke partai lain demi mengincar jabatan tertinggi. Pasalnya, hal itu tidak mungkin bisa dilakukan di Gerindra, bekas partainya. 

Sponsored

"Mungkin dia lihat (di) Gerindra tidak punya peluang untuk dia. Mau jadi ketua umum, mau sejajar dengan Pak Prabowo, itu kan cita-cita yang baik. Menurut saya, orang kayak gini karena mengejar jabatan. Gitu lho. Biasa saja kan sekarang orang kejar jabatan," kata dia. 

Sandi sebelumnya sempat diisukan pecah kongsi dengan Prabowo. Pascapemungutan suara, Sandi dikabarkan menolak ikut-ikutan mendeklarasikan kemenangan bersama Prabowo. Sandi bahkan dikabarkan diusir oleh mantan Danjen Kopassus itu dari koalisi parpol pengusung Prabowo-Sandi. 

Meskipun sempat menduduki posisi sebagai wakil ketua dewan pembina, Desmond menyebut Sandi bukan siapa-siapa di Gerindra. "Dia menjadi hebat hari ini, ya, karena ikut Partai Gerindra. Ikut Prabowo. Sebelumnya, secara politik, bukan siapa-siapa dia," kata Desmond. 

Berbeda, Wasekjen Gerindra Andre Rosiade justru optimistis Sandi bakal kembali ke pangkuan Gerindra. Ia bahkan mengklaim nama Sandi bakal diumumkan kembali sebagai kader pada Rapat Kerja Nasional Gerindra di Sentul, Bogor, Jawa Barat, akhir September mendatang. 

"Karena Bang Sandi menganggap Pak Prabowo itu adalah mentor politik  dan sekaligus guru politiknya. Prabowo orang yang sangat dihormati oleh Bang Sandi. Tentu Bang Sandi akan memilih Partai Gerindra," tutur Andre.  

Selain PAN dan Gerindra, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) juga menyatakan minat mereka untuk meminang Sandi. Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar sempat mengatakan PKB membuka pintu lebar-lebar jika Sandi mau merapat. 

Di Partai Demokrat, nama Sandi juga diisukan sedang diplot sejumlah politikus senior Demokrat untuk dijadikan pengganti Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai ketua umum. Isu itu sempat kencang diembuskan eks Wasekjen Demokrat Andi Arief, Juni lalu. 

Eks cawapres Pilpres 2019 Sandiaga Uno. /Antara Foto

Mutualisme PAN dan Sandi 

Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA Ikrama Masloman menilai wajar jika tanda tangan Sandi diperebutkan. Apalagi, nama Sandi diprediksi masih akan bersinar sebagai salah satu kandidat kuat presiden di Pilpres 2024. 

Hal itu setidaknya terekam dalam kajian LSI Denny JA yang dirilis Juli lalu. Dari kajian dengan melibatkan 2.000 responden, Sandi masuk di jajaran 15 besar tokoh, politikus, dan kepala daerah yang potensial maju sebagai capres di pemilu berikutnya. 
  
Sandi bersanding dengan nama-nama besar seperti Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan politikus PDI-Perjuangan Puan Maharani. "Survei ini adalah uji awalan dan muncullah kelima belas tokoh itu," kata Ikrama. 

Menurut Ikrama, Sandi paling mungkin menjadikan PAN sebagai kendaraan politiknya menyongsong kontestasi Pilpres 2024. Hal itu, kata dia, terlihat dari maraknya dukungan internal PAN ke Sandi. "Kita lihat saja Sekjen PAN, bahkan Amien (Rais) sendiri membuka diri untuk Sandiaga. Ya, saya rasa paling potensial PAN," kata dia.

Ikrama memandang ada hubungan simbiosis mutualisme antara PAN dan Sandi. Di satu sisi, Sandi butuh status sebagai politikus untuk merawat memori publik terhadap dia. Di sisi lain, PAN butuh tokoh dengan elektabilitas tinggi yang bisa menjadi 'duta besar' PAN di 2024.

"Karena Sandiaga punya modal elektoral di pilpres kemarin. Apalagi, kalau kita lihat PAN ini, kan hampir tak punya diferensiasi kuat ya. Misalnya, Gerindra kuat dengan Prabowonya, lalu PKS kuat dengan sentimen konservatif agamanya. PAN belum ada. Dan, posisi Sandi ini tentu menjadi hal yang menggiurkan bagi PAN," katanya.

Jika berhasil digaet, bukan tidak mungkin PAN bakal punya tokoh yang bisa diusung di Pilpres 2024. Apalagi, Sandi punya pengalaman bertarung di kontestasi elektoral tingkat nasional, baik saat maju bersama Anies Baswedan di Pilgub DKI maupun di Pilpres 2019. 

"Pilpres 2024 ini kan pilpres yang tak bertuan. Karena semuanya baru dan tentu (dari tokoh-tokoh) yang masih baru itu yang punya modal elektoral cukup ya Sandiaga Uno. Karena memorinya masih ada dan dia masih punya bekal," jelas Ikrama. 

Pasangan capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto (kiri) dan Sandiaga Uno menyapa pendukungnya saat kampanye akbar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (7/4). /Antara Foto

Peluang Sandi

Pendapat serupa diutarakan pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta Adi Prayitno. Menurut Adi, Sandi bisa mendongkrak posisi tawarnya jika sukses menggaet kursi Ketum PAN. Apalagi, pertarungan untuk menjadi kandidat di Pilpres 2024 bakal berat. 

"Karena mewadahi partai politik yang cukup signifikan dan mewakili kelompok Muhammadiyah. Pilpres 2024 itu sengit sebenarnya karena ada kepala daerah yang potensial maju, seperti Anies, (Gubernur Jawa Tengah) Ganjar Pranowo, dan (Wali Kota Surabaya) Risma," jelas Adi. 

Namun demikian, menurut Adi, tak mudah bagi Sandi untuk merebut kursi PAN-1. Sandi, kata Adi, wajib memperoleh restu dari Amien Rais dan kalangan Muhammadiyah. Pasalnya, Ketum PAN biasanya berasal dari kader internal PAN atau Muhammadiyah. 

"Biar ini tidak jadi perjudian. Paling mungkin skenarionya kalau Sandi ingin jadi Ketum PAN. Ya, Sandi harus segera di PAN-kan atau di Muhammadiyah-kan. Artinya, agar tak ujug-ujug jadi Ketum PAN, harus ada kederisasi. Minimal (Sandi jadi) kader internal mereka dululah," ujar dia. 

Infografik Alinea.id/Dwi Setiawan
 
Terpisah, peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes menilai, Sandi memang butuh cantelan politik. Namun, ia memprediksi bakal sulit bagi Sandi jika ia ingin langsung duduk di kursi PAN-1. 

"Kenapa? Dia (Sandi) bukan kader PAN. Yang kedua, dia akan menghadapi kader-kader PAN yang telah membangun partai sejak lama dan berkarier melewati proses pengkaderan di PAN. Tentu tidak mau mereka memberikan ruang itu secara cuma-cuma ke Sandiaga," jelas Arya.

Dijelaskan Arya, Sandi memang wajib kembali ke jagat politik praktis jika ingin merawat basis massa yang telah ia akumulasikan sepanjang Pilpres 2019. Apalagi, Sandi saat ini sudah bukan lagi pejabat publik yang bisa diukur kinerjanya. 

"Pertarungan ke depan itu adalah pertarungan kepala daerah dan pimpinan partai. Kenapa begitu? Karena kepala daerah punya basis masa yang didapatkan dari pilkada. Kedua, dia punya pengalaman kepemimpinan. Ketika tidak ada petahana, tentu pimpinan partai yang potensial," ujarnya.

Tanpa embel-embel sebagai politikus atau punya posisi strategis di parpol, Arya menilai, sulit bagi Sandi untuk menjaga elektabilitasnya. "Karena belum tentu (publik) loyal dengan dia seiring perubahan politik atau munculnya tokoh lain," kata dia.