sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Survei Median: Elektabilitas Jokowi-Maruf hanya unggul 12%

Lembaga Survei Median mengungkap hasil teranyar elektabilitas Jokowi-Maruf hanya unggul 12,2% dari Prabowo-Sandi.

Sukirno
Sukirno Rabu, 28 Nov 2018 00:26 WIB
Survei Median: Elektabilitas Jokowi-Maruf hanya unggul 12%
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 27549
Dirawat 17662
Meninggal 1663
Sembuh 7935

Lembaga Survei Median mengungkap hasil teranyar elektabilitas Jokowi-Maruf hanya unggul 12,2% dari Prabowo-Sandi.

Elektabilitas calon presiden-wakil presiden semakin tipis setelah proses kampanye Pilpres 2019 dimulai. Pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno semakin ketat menempel Joko Widodo-Maruf Amin.

Meskipun memang, hasil survei yang dilakukan lembaga Median menunjukkan elektabilitas pasangan Jokowi-Maruf Amin masih di atas pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. 

Berdasarkan survei yang dilakukan pada tanggal 4-16 November 2018 terhadap 1.200 responden, diketahui elektabilitas Jokowi-Maruf 47,7% dan Prabowo-Sandi 35,5% serta responden tidak memutuskan sebanyak 16,8%.

"Selisih kedua pasangan 12,2%," kata Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun, di Jakarta, Selasa (27/11).

Survei dilakukan dengan metode multistage random sampling dengan margin of error plus minus 2,9%. Dalam hasil survei terlihat elektabilitas Jokowi masih di bawah 50%. Menurut dia, hal ini diakibatkan masalah ekonomi dan kesejahteraan masih mendominasi benak responden.

Selain itu, mayoritas responden juga lebih mudah menyebutkan kekurangan pemerintah ketimbang keberhasilannya. Ia mengatakan bahwa pemerintahan Jokowi harus mampu meyakinkan publik bahwa infrastruktur yang gencar dibangun dapat meringankan beban ekonomi rakyat.

Di sisi lain, dia juga menjelaskan bahwa alasan elektabilitas Prabowo masih di bawah Jokowi. Menurut dia, hal itu dikarenakan persepsi kompetensi Prabowo memperbaiki kondisi ekonomi saat ini belum terbentuk dengan baik. Ia mengimbau Prabowo memperbaiki gaya komunikasinya yang membuat pribadinya selama ini dianggap keras.

Sponsored

Pasalnya, dari hasil survei, tampak dua hal utama responden tidak memilih Prabowo karena mantan Danjen Kopassus itu memiliki karakter keras dan ambisius.

Pada 16 April 2018, Lembaga Survei Media Nasional (Median) juga merilis elektabilitas Jokowi tragis lantaran mayoritas ingin mengganti presiden.

Saat itu, Median menyebut hanya 45,22% yang menginginkan Jokowi kembali memimpin Indonesia. Sedangkan, sebanyak 46,37% ingin ganti presiden dan sisanya 8,41% tidak menjawab.

Ekonomi membaik

Secara terpisah, hasil survei lembaga Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menunjukkan mayoritas publik menilai kondisi perekonomian Indonesia saat ini dalam keadaan baik. 

"Sebanyak 70,3% responden menilai kondisi ekonomi Indonesia dalam kondisi yang baik, di mana mayoritas di antaranya menyatakan mendukung Jokowi," kata peneliti LSI Denny JA, Ardian Sopa dalam pemaparan hasil survei di Jakarta, Selasa (27/11).

Ardian mengatakan survei dilakukan pada 10-19 November 2018 dengan melibatkan 1.200 responden, dan menggunakan metode multistage random sampling

Survei dilakukan melalui wawancara tatap muka dan menggunakan kuesioner dengan margin of error plus minus 2,9%. Dia mengatakan ada sebanyak 24,7% responden yang menilai perekonomian dalam kondisi buruk. Dari responden yang menilai ekonomi buruk itu, 20% di antaranya merupakan pendukung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. 

Dia mengatakan penilaian baik atau buruknya kondisi perekonomian dalam survei, merupakan murni persepsi individu masing-masing responden. Persepsi itu bisa dipengaruhi beragam hal, mulai dari media, kehidupan sehari-hari dan lain sebagainya. 

Dia menekankan, persepsi publik tentang kondisi perekonomian ini akan turut mempengaruhi elektabilitas kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden dalam Pilpres 2019.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Anak muda ini mengendarai sepeda motor di jalan berbatu dan beriringan dengan ikan-ikan. Beginilah gaya pengunjung kolam wisata Umbul Ponggok, Desa Ponggok di Klaten, Jawa Tengah. Mereka berfoto di bawah air. Umbul Ponggok memang begitu jernih karena dari mata air yang dibangun menjadi tempat wisata. Sejak tahun 2015, dengan memanfaatkan Dana Desa, pemerintah Desa Ponggok membangun infrastruktur penunjang pariwisata itu: jalan desa, sanitasi, drainase, MCK, sampai area parkir. Hasilnya? Desa Ponggok berubah menjadi sebuah desa yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Dari pariwisata, Desa Ponggok kini bisa mendapatkan penghasilan sampai Rp14 miliar setahun. Saya mengajak desa-desa lain yang memiliki potensi serupa untuk belajar dan meniru apa yang dilakukan Desa Ponggok ini, apa pun keunggulan desanya.

A post shared by Joko Widodo (@jokowi) on



Sumber : Antara

Berita Lainnya