Survei Jakpat ungkap 92% warga RI belanja online, tapi 53% kini riset produk lewat media sosial sebelum transaksi e-commerce.
Belanja online masih menjadi kebiasaan utama masyarakat Indonesia pada semester kedua 2025. Namun, cara konsumen mengambil keputusan berubah. Di tengah tekanan ekonomi, mereka tidak lagi sekadar berburu diskon di e-commerce, melainkan semakin aktif melakukan riset produk melalui media sosial sebelum bertransaksi.
Temuan tersebut terungkap dalam survei terbaru Jakpat bertajuk Indonesia E-commerce Trends – 2nd Semester of 2025. Survei ini melibatkan 2.125 responden dari kalangan Gen Z, Milenial, dan Gen X, serta memotret dinamika penggunaan e-commerce dan quick-commerce di tengah persaingan digital yang semakin kompetitif.
Hasil survei menunjukkan 92% responden melakukan transaksi online pada semester kedua 2025. Angka ini naik tipis 1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, 86% mengaku bertransaksi melalui platform e-commerce, sedangkan 16% pembeli online memanfaatkan layanan quick-commerce.
Meski e-commerce masih menjadi acuan utama dalam melihat-lihat produk secara online,%tasenya turun dari 90% menjadi 86%. Sebaliknya, media sosial brand justru mengalami peningkatan signifikan. Pada semester kedua 2025, sebanyak 53% responden melakukan window shopping melalui media sosial merek, naik 10% dibandingkan 2024.
Head of Research Jakpat, Aska Primardi, menilai pergeseran ini menunjukkan perubahan peran media sosial dalam perjalanan konsumen.