close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi belanja online. Foto Pixabay.
icon caption
Ilustrasi belanja online. Foto Pixabay.
Bisnis
Kamis, 19 Februari 2026 15:39

Survei: Konsumen kini riset produk di media sosial sebelum belanja

Survei Jakpat ungkap 92% warga RI belanja online, tapi 53% kini riset produk lewat media sosial sebelum transaksi e-commerce.
swipe

Belanja online masih menjadi kebiasaan utama masyarakat Indonesia pada semester kedua 2025. Namun, cara konsumen mengambil keputusan berubah. Di tengah tekanan ekonomi, mereka tidak lagi sekadar berburu diskon di e-commerce, melainkan semakin aktif melakukan riset produk melalui media sosial sebelum bertransaksi.

Temuan tersebut terungkap dalam survei terbaru Jakpat bertajuk Indonesia E-commerce Trends – 2nd Semester of 2025. Survei ini melibatkan 2.125 responden dari kalangan Gen Z, Milenial, dan Gen X, serta memotret dinamika penggunaan e-commerce dan quick-commerce di tengah persaingan digital yang semakin kompetitif.

Hasil survei menunjukkan 92% responden melakukan transaksi online pada semester kedua 2025. Angka ini naik tipis 1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, 86% mengaku bertransaksi melalui platform e-commerce, sedangkan 16% pembeli online memanfaatkan layanan quick-commerce.

Meski e-commerce masih menjadi acuan utama dalam melihat-lihat produk secara online,%tasenya turun dari 90% menjadi 86%. Sebaliknya, media sosial brand justru mengalami peningkatan signifikan. Pada semester kedua 2025, sebanyak 53% responden melakukan window shopping melalui media sosial merek, naik 10% dibandingkan 2024.

Head of Research Jakpat, Aska Primardi, menilai pergeseran ini menunjukkan perubahan peran media sosial dalam perjalanan konsumen.

"Hal ini mengindikasikan bahwa media sosial kini berperan krusial sebagai kanal pencarian informasi dan pengenalan produk secara mendalam, sementara eksekusi transaksi akhir tetap berpusat pada platform e-commerce," ujar Aska Primardi, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (19/2).

Ia menjelaskan, kondisi ekonomi yang membuat pendapatan masyarakat cenderung stagnan atau menurun di tengah kenaikan biaya hidup turut mendorong perubahan perilaku tersebut. Konsumen menjadi lebih berhati-hati dalam mengalokasikan anggaran belanja.

"Akibatnya, konsumen membangun kebiasaan baru untuk melakukan riset komprehensif melalui media sosial guna memastikan nilai dan kualitas barang sebelum memutuskan untuk melakukan pembelian, demi meminimalkan risiko kesalahan belanja di masa sulit," terang Aska.

Selain e-commerce dan media sosial brand, responden juga mengaku melakukan window shopping di marketplace online dan quick-commerce masing-masing sebesar 16%, serta website resmi brand sebesar 14%.

Dari sisi platform, Shopee menjadi e-commerce yang paling banyak digunakan responden pada semester kedua 2025 dengan persentasetase 85%, naik 3% dibandingkan tahun lalu. TikTok Shop menempati posisi kedua dengan 51%, meningkat 10%. Sementara itu, Tokopedia mengalami penurunan sebesar 12% menjadi 32% pada periode yang sama.

Adapun rata-rata pengeluaran belanja e-commerce per bulan tercatat sebesar Rp469.575 sepanjang semester kedua 2025. Angka tersebut naik tipis 1% secara tahunan dari Rp463.439.

img
Haidhar Ali Faqih
Reporter
img
sat
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan