Bisnis

Rupiah melemah, harga pangan naik: Seberapa siap pemerintah menahan gejolak?

Rupiah tembus Rp18.000 per dolar AS, BRIN ingatkan risiko inflasi dan gejolak sosial jika pemerintah tak segera ambil langkah fiskal.

Senin, 08 Juni 2026 12:47

Tekanan ekonomi yang semakin berat di tingkat menengah ke bawah akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai memicu kekhawatiran baru. Jika terus dibiarkan, kondisi ekonomi yang karut-marut ini dikhawatirkan dapat mengikis kepercayaan publik terhadap pemerintah.

Bahkan, akumulasi ketidakpuasan masyarakat tidak menutup kemungkinan dapat bermuara pada aksi demonstrasi besar-besaran.

Peneliti Senior Pusat Riset Kependudukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Andy Ahmad Zaelany, mengatakan anjloknya rupiah hingga menembus Rp18.000 per dolar AS telah memicu inflasi serius, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Menurut Andy, keresahan warga mulai terlihat dari kenaikan harga sejumlah komoditas di pasar yang menjadi urat nadi ekonomi masyarakat bawah. Ia memperingatkan, jika gejolak ini tidak segera diantisipasi, situasi dapat memburuk menjadi kekacauan sosial atau amuk massa.

“Dampak utama yang mengguncang Indonesia saat ini adalah lonjakan nilai tukar dolar yang melampaui Rp18.000. Jika terus merangkak naik hingga Rp20.000, Indonesia bisa berada dalam situasi kritis. Satu pemicu kecil saja bisa menyulut amuk massa. Karena itu, pemerintah perlu segera mengeluarkan kebijakan fiskal yang kuat untuk menahan laju dolar dan mengembalikannya ke level normal,” ujar Andy, Senin (8/6).

Purnomo Dwi Reporter
sat Editor

Tag Terkait

Berita Terkait