close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi. Foto Ist.
icon caption
Ilustrasi. Foto Ist.
Sosial dan Gaya Hidup
Kamis, 20 Agustus 2026 07:00

Kenapa kita takut ketinggalan tren?

Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) sering kali memicu kecemasan dan perilaku konsumtif. Pelajari pemicu psikologis di balik rasa takut ketinggalan tren serta cara mengatasinya.
swipe

Pernah enggak sih kerasa panik sendiri pas belum sempat ngikutin tren yang lagi viral? Istilah Fear of Missing Out atau FOMO mendefinisikan rasa cemas saat kita melewatkan momen tersebut. Perkembangan digital yang masif membuat kita lebih banyak terpapar pada media sosial stream yang membuat kita melihat aktivitas, pencapaian, hingga tren terbaru yang dilakukan orang lain secara langsung melalui layar gawai. 

Paparan ini dapat berdampak pada kesehatan mental dan fisik. Tapi apakah media sosial menjadi dalang utama pada gejala FOMO? Fakta uniknya, media sosial bukan satu-satunya penyebab utama. Forbes pada The Psychology Behind the FOMO (19/8) mengatakan bahwa akar dari fenomena justru jauh dari kata internet karena pada dasarnya rasa keinginan untuk diterima dalam kelompok menjadi akar dari fenomena FOMO itu sendiri. 

Dari dulu, manusia mengandalkan kebersamaan kelompok agar dapat bertahan hidup dari ancaman luar. Selain itu, penolakan sosial memicu respons kecemasan yang sama dengan rasa sakit fisik pada otak kita. Akibatnya, kita terus mendorong diri untuk mengikuti tren demi menjaga rasa aman dan diterima oleh lingkungan.

Peran algoritma media sosial dan efek membandingkan diri

Dari Science Insight (19/8), media sosial meningkatkan rasa takut akan tertinggal tersebut. Algoritma media sosial sengaja merancang garis waktu (feed) untuk memapar pengguna dengan konten-konten paling populer secara terus-menerus. Selain itu, desain spesifik dari aplikasi sosial mengetuk langsung trigger dari FOMO dan membentuk urgensi agar kita selalu mengecek secara berkala sebelum tren itu selesai. 

Sementara itu, manusia memiliki kecenderungan alami untuk membandingkan kehidupan pribadinya dengan standar ideal yang tayang di internet. Kebiasaan membandingkan diri ini melipatgandakan rasa rendah diri serta ketakutan akan tertinggal dari orang lain.

Dampak buruk FOMO: Dari finansial hingga kesehatan mental

Kebiasaan selalu mengikuti tren berdampak buruk bagi kondisi psikologis maupun finansial seseorang. Banyak orang memaksakan diri membeli barang-barang mahal yang sebenarnya tidak mereka butuhkan hanya demi mempertahankan pengakuan sosial. Perilaku konsumtif ini sering berujung pada peningkatan stres, kecemasan berlebih, dan rasa tidak pernah puas terhadap kehidupan pribadi. 

Mengubah rasa cemas dengan konsep yang lebih bijak

Kita tidak mungkin dapat mengikuti seluruh tren yang berkembang pesat di dunia digital setiap harinya. Oleh karena itu, kita perlu melatih diri untuk beralih ke konsep menikmati momen tanpa perlu khawatir akan tren luar. Pada akhirnya, menghargai pencapaian diri sendiri dan membatasi waktu layar menjadi kunci utama untuk meraih ketenangan mental dan fisik dalam kehidupan.

img
Shabrina Dwi Arsa
Reporter
img
sat
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan