Kolom

Pengendalian inflasi pangan dan transformasi ketenagakerjaan nasional

Pengendalian inflasi pangan krusial menjaga daya beli, menopang konsumsi, dan mendukung target pertumbuhan ekonomi 5,4% serta penciptaan kerja 2026.

Kamis, 08 Januari 2026 18:11

Perekonomian Indonesia pada awal tahun 2026 berada dalam fase krusial yang menuntut sinkronisasi kebijakan antara stabilitas harga domestik dan akselerasi pertumbuhan struktural. Dalam upaya mewujudkan visi pembangunan yang inklusif, pemerintah telah menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4% untuk tahun anggaran 2026, sebuah angka yang diposisikan sebagai lompatan strategis untuk mencapai skenario pertumbuhan jangka menengah yang lebih tinggi. Fokus utama dari target ambisius ini adalah penciptaan lapangan kerja yang masif, dengan proyeksi penyerapan tenaga kerja baru mencapai 3 juta hingga 4 juta orang guna menekan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) ke kisaran 4,44% hingga 4,96. Namun, keberhasilan agenda besar ini sangat bergantung pada kemampuan otoritas dalam menjinakkan volatilitas inflasi pangan (volatile food), yang secara historis menjadi determinan utama dalam menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas konsumsi rumah tangga sebagai tulang punggung Produk Domestik Bruto (PDB).

Analisis retrospektif inflasi pangan 2024-2025: Pola, volatilitas, dan pembelajaran kebijakan

Analisis retrospektif inflasi yaitu peninjauan historis terhadap data dan tren inflasi di masa lalu mulai mengidentifikasi pola, penyebab, dan konsekuensi dari perubahan harga. Analisis ini membantu para peneliti dalam merumuskan kebijakan memahami dinamika inflasi, menguji efektivitas kebijakan moneter sebelumnya, dan merencanakan strategi masa depan. Memahami dinamika inflasi pangan pada tahun 2026 memerlukan tinjauan mendalam terhadap kinerja harga komoditas dalam dua tahun sebelumnya. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Badan Pangan Nasional dan Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat pergeseran pola inflasi pangan yang signifikan antara tahun 2024 dan 2025.

Pada tahun 2024, Indonesia menghadapi tekanan berat pada kuartal pertama dengan inflasi tahunan year on year (yoy) yang juga biasa dikenal dengan perbandingan time series data. Untuk kelompok bahan makanan mencapai puncaknya di angka 10,33% pada bulan Maret. Tekanan ini dipicu oleh gangguan pasokan akibat anomali cuaca dan kenaikan harga input produksi global. Namun, melalui serangkaian intervensi pasar yang agresif, inflasi pangan berhasil melandai secara drastis hingga menyentuh angka deflasi sebesar -0,32% pada November 2024, memberikan landasan yang relatif stabil bagi awal tahun berikutnya.

Tahun 2025 menyajikan narasi yang berbeda. Meskipun dimulai dengan angka inflasi yang sangat rendah—bahkan menyentuh titik terendah 0,37% pada Maret 2025—tren harga mulai merangkak naik secara konsisten di paruh kedua tahun tersebut. Kenaikan ini terutama didorong oleh kelompok makanan yang mudah menguap (volatile food) yang pada Desember 2025 mencatatkan inflasi tahunan sebesar 6,21%. Peningkatan ini memberikan peringatan dini bagi pemerintah, mengingat momentum Ramadan dan Idulfitri pada kuartal pertama 2026 diperkirakan akan menambah beban tekanan permintaan di pasar domestik.

Hadi Supratikta Reporter
sat Editor

Tag Terkait

Berita Terkait