close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 rute Jakarta-Pangkal Pinang berada di ruang kedatangan Bandara Depati Amir, Pangkalpinang, Bangka Belitung (29/10)/ Antara Foto
icon caption
Keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 rute Jakarta-Pangkal Pinang berada di ruang kedatangan Bandara Depati Amir, Pangkalpinang, Bangka Belitung (29/10)/ Antara Foto
Nasional
Senin, 29 Oktober 2018 14:34

Pengamat: Kecelakaan disebabkan angin ribut atau mesin rusak

Salah satu faktor yang sangat mungkin menjadi penyebab jatuhnya pesawat adalah faktor windstorm atau hempasan angin kencang.
swipe

Pesawat Lion air JT-610 rute Jakarta-Pangkal Pinang hilang kontak sejak lepas landas dari Bandar Udara Soekarno-Hatta pukul 06.10 WIB. Badan SAR Nasional telah mengonfirmasi bahwa pesawat tersebut jatuh. 

Pengamat Penerbangan Alvin Lie mengatakan ada sejumlah kemungkinan penyebab jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 type B737-8 itu. Salah satu faktor yang sangat mungkin menjadi penyebab jatuhnya pesawat adalah faktor windstorm atau hempasan angin kencang yang menjadi musuh utama pilot di udara.

"Bisa jadi jatuhnya pesawat JT 610 karena angin windstorm, yaitu angin yang memiliki daya kuat untuk memotong dan membanting pesawat di udara," kata Pengamat Alvin Lie kepada Alinea.id, Senin, (29/10).

Menurut Alvin, keberadaan angin windstorm cukup membebankan pilot di atas awan. Namun, Alvin memastikan faktor cuaca bukan menjadi satu-satunya penyebab pesawat JT 610 tersebut lepas kendali. 

Ada sejumlah faktor lain yang bisa menjadi penyebab pesawat 610 JT itu jatuh ke dalam titik koordinat 05º 49.727 S – 107º 07.460 E (heading 40º timur laut) atau di perairan Karawang.  "Misalnya faktor kelistrikan pesawat atau regulator mesin. Semua keluhan bisa ditanyakan oleh Airnav perihal permasalahan di dalam pesawat dari keluhan terakhir yang dirasakan pilot yang memakai pesawat tersebut," sambung Avin Lie.

Alvin mengaku bingung dengan kasus kecelakaan JT 610 yang terjadi saat take off. Pasalnya, dari sekian banyak kasus kecelakaan pesawat, terjadi ketika pesawat akan landing. Apalagi, jika kecelakaan pesawat terjadi saat take off, kemungkinan pihak otoritas bandara terdekat mampu meminimalisir jumlah korban. Sementara yang terjadi di kasus JT 610 justru sebaliknya, di mana pesawat jatuh dan hingga kini belum dipastikan jumlah korban. 

"Biasanya kecelakaan akibat turbulensi maupun hentakan dari windstorm atau awan cumulonimbus terjadi saat landing pesawat. Dan sangat jarang terjadi saat take off. Kalaupun terjadi saat take off, bisa dikordinasikan dengan otoritas bandara," ujar Alvin Lie.

Kendati kondisi pesawat JT 610 masih terbilang baru karena dioperasikan sejak 15 Agustus 2018, imbuh Alvin, tak lantas menjadi faktor aman dari kecelakaan. Oleh karena itu, pihak Airnav atau otoritas Bandara perlu melakukan cek berkala pada sistem navigasi pesawat untuk memastikan sistem air navigation pesawat tersebut layak jalan sebelum pesawat akan landing.

"Saran saya satu, lihat laporan dari pesawat tersebut, setiap kali terbang harus memberi keluhan. Misalnya, kelistrikan dan keterangan pilot terakhir, apakah ada keluhan atau tidak? Teknisi tersebut apakah sudah melakukan pengecekan navigasi support? Tanyakan juga air navigationnya, apa ada keluhan dari pilot dan co pilot?" tutur Alvin Lie.

Dari data manifes penumpang pesawat JT 610 Lion Air, ada sekitar 181 orang yang menjadi korban. Data tersebut belum termasuk enam awak kabin dalam pesawat, tiga orang pramugari yang tengah training dan satu pilot beserta co pilot pesawat. 

img
Satriani Ari Wulan
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan