sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Beda sikap pemerintah Indonesia dan Australia soal IA-CEPA

Dari pantauan di laman Departmen Perdagangan RI,kerja sama IA-CEPA hanya tertulis sedang dalam negosiasi.

Tito Dirhantoro
Tito Dirhantoro Rabu, 14 Nov 2018 19:18 WIB
Beda sikap pemerintah Indonesia dan Australia soal IA-CEPA
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 511.836
Dirawat 64.878
Meninggal 16.225
Sembuh 429.807

Kerja sama ekonomi komprehensif antara Indonesia dengan Australia atau IA-CEPA (Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement) telah disepakati. Dalam kerja sama tersebut, pemerintah Indonesia dianggap tak terbuka kepada rakyatnya. Hal ini berbanding terbalik dengan pemerintah Australia yang justru terbuka kepada masyarakatnya.

Hal ini diungkapkan oleh Dian Islamiati Fatwa, calon legislatif DPR dari Partai Amanat Nasional. Menurut Dian, dalam perundingan kerja sama ekonomi ini pemerintah Australia cukup terbuka dengan melaporkan setiap hasil perundingan kepada semua pemangku kepentingan di setiap sektor. Bahkan informasi mengenai kerja sama ekonomi ini bisa diunduh. 

Sementara pemerintah Indonesia, kata Dian, terkesan tertutup. Itu terlihat dari sikap pemerintah Indonesia yang merahasikannya. Dari pantauan di laman Departmen Perdagangan RI, hanya tertulis sedang dalam negosiasi.

“Mengapa pemerintah tertutup terhadap perundingan yang jelas-jelas menyangkut hajat hidup orang banyak? Bila Australia terbuka kepada publiknya, apa yang ditutup-tutupi oleh pemerintah Indonesia?,” kata Dian melalui keterangan tertulisnya di Jakarta pada Rabu, (14/11).

Untuk mengetahui ihwal poin-poin kerja sama itu, Dian mengatakan, harus membacanya melalui sumber-sumber dari Australia. Menurutnya, perundingan kerja sama ekonomi antara Indonesia dengan Australia yang sudah berjalan selama 6 tahun terkesan dipaksakan. 

Menurut Dian, dari sisi perdagangan kerja sama ekonomi ini lebih menguntungkan Australia ketimbang Indonesia. Dilihat dari aspek perdagangan pangan misalnya, Australia sangat untungh karena kerap mengimpor sapi dan gandum ke Indonesia. 

Meski sama-sama tak akan dikenakan tarif dalam kegiatan ekspor, Indonesia tetap tak akan banyak dapat keuntungan dari pasar Australia. Sebab, penduduk Australia diketahui hanya berjumlah 25 juta jiwa. Jumlah ini tidak sampai 10% dari jumlah penduduk Indonesia yang lebih dari 250 juta jiwa.

BPS mencatat, ekspor Indonesia ke Australia pada semester I 2018 mencapai US$1,34 miliar dengan nilai impor US$2,71 miliar. Artinya, dalam 6 bulan pertama 2018 Indonesia masih mengalami defisit neraca perdagangan sebesar US$1,37 miliar.

Sponsored

"Jika Indonesia tidak berhati-hati, angka defisit neraca perdagangan akan semakin menganga lebar," kata Dian.

Berita Lainnya