sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Berpotensi rugi, proyek bijih besi Krakatau Steel tetap jalan

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memastikan proyek Krakatau Steel berjalan.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Rabu, 24 Jul 2019 16:45 WIB
Berpotensi rugi, proyek bijih besi Krakatau Steel tetap jalan
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 516.753
Dirawat 66.752
Meninggal 16.352
Sembuh 433.649

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyatakan proyek pengolahan bijih besi menjadi hot metal atau blast furnace di bawah PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) masih akan tetap berjalan meskipun dinilai berpotensi merugikan perusahaan.

Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno mengatakan proyek yang menghabiskan biaya Rp10 triliun atau setara US$714 juta itu harus tetap berjalan meski ada gejolak di internal perusahaan.

"Kita harap masih terus beroperasi, bahwa kita tahu itu masih ada masalah di dalamnya, kita ingin jalan terus," katanya saat ditemui Jakarta, Rabu (24/7).

Sebelumnya Komisaris Independen Krakatau Steel Roy Maningkas mengajukan pengunduran diri dari jabatannya karena karena menolak berjalannya proyek blast furnace tersebut.

Roy menilai operasional pabrik tersebut bakal merugikan perseroan. Menurut Roy, beroperasinya pabrik pengolahan bijih besi tersebut akan menimbulkan kerugian sebesar Rp1,2 triliun. Hal ini disebabkan karena biaya produksinya yang melebihi harga jual.

Dia mengajukan keberatan kepada pemegang saham, namun tidak mendapatkan titik temu.

“Iya, beliau (Roy) menyampaikan pengunduran diri,” ucap Fajar.

Untuk itu, jika mengacu pada Anggaran Dasar perusahaan, katanya, pengunduran diri Roy akan dibahas bersama dengan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Sponsored

“Karena sesuai anggaran dasar ya kan itu terbuka. Jadi nanti harusnya kepada RUPS. Nanti RUPS yang akan memutuskan," ujarnya.
 

Berita Lainnya