sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

BI yakin The Fed tidak mengerek suku bunga hingga 2020

Prediksi ini berbanding terbalik dari bulan lalu, saat BI memperkirakan The Fed akan melakukan pengetatan moneter pada 2019-2020.

Soraya Novika
Soraya Novika Jumat, 26 Apr 2019 08:39 WIB
BI yakin The Fed tidak mengerek suku bunga hingga 2020

Bank Indonesia (BI) memprediksi bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (Fed) tidak akan menaikkan suku bunga acuannya, Fed Fund Rate (FFR) hingga akhir 2020. 

Padahal, bulan lalu, BI memperkirakan pengetatan moneter oleh The Fed akan terjadi setidaknya satu kali di sepanjang tahun 2019 maupun 2020. Bahkan, perkiraan awal tahun, Fed sempat diramal bisa mencapai tiga kali kenaikan.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan perubahan proyeksi ini berdasarkan perkembangan kondisi ekonomi AS yang melambat dan inflasi tidak terlalu tinggi.

"Untuk arah suku bunga Fed, kami mengubah baseline scenario. Dalam RDG (Rapat Dewan Gubernur) bulan lalu kami perkirakan Fed akan menaikkan suku bunga tahun ini dan tahun depan minimal sekali, mungkin bisa dua kali, tapi kali ini justru kami melihatnya berbeda," ujar Perry di Jakarta, Kamis (25/4).

Ekonomi AS yang akan melambat pada tahun ini dan tahun depan, membuat Fed juga menunda normalisasi kebijakan moneternya. Berbeda dengan tahun lalu, stimulus fiskal pada tahun ini tidak dijalankan. Sementara di pasar tenaga kerja AS, justru menghadapi persoalan struktural.

"Selain itu, BI melihat bahwa perbaikan ekonomi global itu lebih rendah dari perkiraan. Sementara ketidakpastian pasar keuangan dunia itu cenderung berkurang," ucapnya.

Selain AS, perlambatan ekonomi global juga disumbang oleh China, negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia setelah AS. Pemerintah China saat ini memberikan stimulus fiskal lewat belanja infrastruktur dan pemotongan pajak supaya ekonomi tidak mengalami hard landing.

Sementara di Eropa, lanjut Perry, pemulihan ekonomi terjadi lebih lambat dari perkiraan. Negara-negara Eropa akan menghadapi tantangan aging population di samping persoalan Brexit yang belum tuntas.

Sponsored

Demikian juga perbaikan ekonomi negara-negara Amerika Latin dan Timur Tengah lebih rendah dari perkiraan. 

Seiring dengan kondisi perekonomian global yang melemah, juga kebijakan suku bunga The Fed yang melunak tersebut, maka dipastikan modal asing (capital inflow) akan terus mengalir ke tanah air. Sebagaimana diketahui, pada kuartal I-2019 saja, modal asing tercatat masuk sebanyak US$5,5 miliar.

"Perkembangan ekonomi global di satu sisi memberikan tantangan dalam mendorong ekspor, namun berkurangnya ketidakpastian keuangan global di sisi lain berdampak positif bagi aliran masuk modal asing ke negara berkembang, termasuk Indonesia," katanya.

Sementara itu, BI juga menerapkan kebijakan penahanan suku bunga acuan di level 6%. Kebijakan ini dilakukan untuk memperkuat stabilitas makroekonomi dan memperbaiki defisit transaksi berjalan.