sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

BPS: Harga gabah merosot, daya beli petani menurun

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan penurunan Nilai Tukar Petani (NTP) secara nasional pada April 2019 turun 0,49% ke level 102,23.

Soraya Novika
Soraya Novika Kamis, 02 Mei 2019 22:55 WIB
BPS: Harga gabah merosot, daya beli petani menurun

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan penurunan Nilai Tukar Petani (NTP) secara nasional pada April 2019 turun 0,49% ke level 102,23 dibandingkan Februari 2019 yang bernilai 102,73. 

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan hal ini terjadi dikarenakan indeks harga yang diterima petani (lt) naik sebesar 0,12%, lebih rendah dibandingkan dengan kenaikan indeks harga yang dibayar petani (lb) sebesar 0,61%.

"Penurunan NTP April 2019 dipengaruhi pula oleh penurunan NTP pada empat subsektor pertanian yaitu NTP subsektor tanaman pangan sebesar 1,21%, subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,48%, subsektor perternakan sebesar 0,34%, dan subsektor perikanan sebesar 0,41%. Sementara itu, subsektor tanaman hortikultura adalah satu-satunya subsektor yang mengalami kenaikan NTP sebesar 0,60%," ujarnya di Gedung BPS, Jakarta Pusat, Kamis (2/5).

NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan atau daya beli petani.

Berdasarkan wilayahnya, dari 33 provinsi, sebanyak 22 provinsi di antaranya mengalami penurunan NTP, sedangkan 11 provinsi lainnya mengalami kenaikan NTP. Penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Gorontalo yang mencapai 1,60%, sebaliknya kenaikan NTP tertinggi terjadi di Sulawesi Barat mencapai 1,39%.

BPS juga mencatat inflasi pada perdesaan di Indonesia sebesar 0,81%. Hal ini disebabkan oleh kenaikan indeks tertinggi pada kelompok pengeluaran bahan makanan. Inflasi perdesaan ini diperoleh dari perubahan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) petani dengan kenaikan konsumsi tertinggi terjadi pada kelompok pengeluaran bahan makanan.

Dari 33 provinsi yang dihitung IKRT-nya, 30 provinsi mengalami inflasi dan tiga provinsi lainnya deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Provinsi Gorontalo sebesar 1,75%, dan deflasi tertinggi di Provinsi Kepulauan Riau sebesar 0,22%.

Sedangkan Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) nasional per April 2019 tercatat relatif stabil dibanding bulan sebelumnya. Hal ini terjadi karena kenaikan lt dan indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM), masing-masing sebesar 0,12%.

Sponsored

Penurunan harga gabah dan beras

Selain itu, penurunan NTP ini terjadi seiring dengan turunnya harga gabah kering panen (GKP) ditingkat petani sebesar 5,37% menjadi sebesar Rp4.457 per kilogram (kg) dari Rp5.222 per kg, maupun penurunan harga beras medium di tingkat penggilingan sebesar 4,30% menjadi sebesar Rp9.144 per kg dari Rp9.221 per kg.

Gabah jenis lainnya di tingkat petani juga mengalami penurunan harga di antaranya gabah kering giling (GKG) sebesar 7,29% atau menjadi Rp5.127 per kg dan gabah kualitas rendah (GKR) turun 6,37% atau menjadi Rp4.022 per kg. Demikian pula di tingkat penggilingan, mulai dari GKP, GKG, dan GKR masing-masing turun 5,53% atau RP4.446 per kg, turun 7,65% atau Rp5.221 per kg, dan turun 6,25% atau Rp4.119 per kg.

Demikian juga dengan harga beras, pada semua kualitas juga mengalami penurunan dibanding bulan sebelumnya. Di mana harga beras premium di penggilingan pada April 2019 tercatat menurun sebesar 3,56% atau menjadi Rp9.465 per kg dari Rp9.815 per kg pada Maret 2019, dan kualitas rendah turun 3,16% atau menjadi Rp8.936 per kg dari Rp9.271 per kg.

Sehingga secara keseluruhan, pada April 2019 komoditas beras mengalami penurunan harga atau deflasi rata-rata sebesar 0,06%.