sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

BRI raup laba bersih Rp24,8 triliun di kuartal III-2019

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) mencatat pertumbuhan laba bersih hanya 5,35% atau turun dari tahun lalu 14,6%.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Kamis, 24 Okt 2019 12:41 WIB
BRI raup laba bersih Rp24,8 triliun di kuartal III-2019

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) mencetal laba bersih sebesar Rp24,8 triliun pada kuartal III-2019 atau tumbuh 5,36% secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan laba bank pelat merah ini melambat dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 14,6%.

Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan perlambatan pertumbuhan laba tersebut disebabkan karena perseroan meningkatkan biaya cadangan untuk mengantisipasi kredit macet atau non performing loan (NPL).

"Ada kenaikan NPL, maka ada kenaikan biaya cadangan sehingga pertumbuhan laba kami hanya single digit. Pertumbuhan laba memang turun, tapi labanya tetap naik," kata Sunarso dalam paparan publik triwulan III-2019 BRI, di Jakarta, Kamis (24/10).

Sunarso melanjutkan, NPL tertinggi ada di segmen korporasi dan beberapa sektor industri terutama manufaktur yang dilihat BRI memiliki potensi risiko yang besar. Untuk diketahui, NPL BRI di konsolidasian tercatat naik menjadi 3,08% pada kuartal III-2019, dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2,5% (quarter on quarter).

Sunarso mengatakan, BRI melihat ada beberapa sektor industri yang menghadapi kesulitan bisnis, seperti industri semen dan tekstil. Untuk mengantisipasi kredit macet dari dua sektor tersebut, Sunarso bilang, BRI sudah mencadangkan dana hingga 100% dari NPL.

"Kami berani mengeluarkan biaya cadangan, untuk meng-cover risiko. Apabila nanti restrukturisasi berhasil dan risiko tidak terjadi, maka akan memperkuat laba kita di waktu mendatang," tuturnya.

Kredit macet milik BRI seperti yang ada di Krakatu Steel, lanjut Sunarso, telah diantisipasi BRI dengan mencadangkan coverage sebesar 60%. Sementara untuk kredit macet di industri semen dan Duniatex, BRI telah mencadangkan dana hingga 100%.

Sementara, aset BRI tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 10,34% mencapai Rp1.305,67 triliun, dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1.183,4 triliun. Untuk rasio perbankan lainnya, Loan to Deposit Ratio (LDR) BRI tercatat 94,15% dan Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat sebesar 21,89%.

Sponsored

“Angka LDR ini kami nilai sangat moderat dan CAR juga cukup kuat untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan Bank BRI di masa mendatang,” kata Sunarso.

Sementara untuk Dana Pihak Ketiga (DPK), Bank BRI berhasil menghimpun dana sebesar Rp959,24 triliun atau tumbuh 9,91% yoy, lebih tinggi daripada industri sebesar 7,62% berdasarkan data OJK bulan Agustus 2019.

Kemudian, untuk Giro BRI tumbuh 21,77% yoy menjadi Rp171,85 triliun, tabungan BRI tumbuh 9,20% yoy menjadi Rp384,02 triliun dan deposito tumbuh 6,16% yoy menjadi Rp403,37 triliun.

Sunarso mengatakan pertumbuhan giro dan tabungan yang lebih tinggi dibandingkan deposito mampu mendongkrak dana murah (CASA) BRI. Pada kuartal III-2019 CASA BRI tercatat 57,95%, meningkat dibandingkan kuartal III-2018 sebesar 56,46%. 

Berita Lainnya