sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Capex Acset pada 2019 turun

Perseroan beralasan capex pada 2017 lebih tinggi karena ada kebutuhan membeli Cement Deep Mixing (CDM) barge senilai Rp130 miliar.

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Rabu, 10 Apr 2019 21:25 WIB
Capex Acset pada 2019 turun

PT Acset Indonusa Tbk. (ACST) menyiapkan dana belanja modal atau capital expenditure (capex) hingga Rp200 miliar pada 2019. Angka ini lebih kecil dari capex tahun sebelumnya Rp270 miliar.

Direktur Utama Acset Indonusa Jeffrey Gunadi Chandrawijaya mengatakan, capex berasal dari kas internal dan pinjaman eksternal salah satunya dari multifinance.

"Tahun lalu capex mencapai Rp270 miliar karena ada kebutuhan membeli Cement Deep Mixing (CDM) barge senilai Rp130 miliar. Kalau tahun ini capex yang dianggarkan sekitar Rp100 miliar-Rp200 miliar," kata dia saat konferensi pers di Graha CIMB Niaga, Jakarta, Rabu (10/4).

Dana capex tersebut akan dipergunakan untuk mendukung proyek yang sedang digarap.

Pada tahun ini perseroan memproyeksi mengantongi proyek dengan nilai Rp15 triliun. Namun, pihaknya masih menunggu tender dari proyek yang diincar.

"Akan banyak menggarap proyek di sektor infrastruktur. Salah satunya pengerjaan proyek tol elevated di Jakarta," kata dia.

Meski demikian, Jeffrey enggan merinci terkait proyek ini lantaran masih menunggu hasil tender. Salah satu tender yang mereka ikuti yakni proyek tol Jakarta-Cikampek Selatan dan Serpong-Balaraja.

Selain mengincar proyek pembangunan tol, perusahaan di bawah naungan Grup Astra International ini, tengah melirik proyek pembangunan pembangkit listrik. Sampai kuartal I-2019 ini. perseroan sudah memperoleh kontrak pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Jawa 1.

Sponsored

Adapun nilai proyek dari pembangkit listrik ini senilai Rp200 miliar dan sudah mulai pengerjaan. “Untuk kontrak yang sudah didapat memang masih kecil sekali karena proyek power plant. Kami ingin menjadi kontraktor power plant, karena di Indonesia masih banyak yang masih dibangun,” ujarnya.

Sebagai informasi, perolehan laba bersih perseroan pada 2018 anjlok 88,13% dari tahun sebelumnya Rp154,2 miliar. Padahal pendapatan perusahaan naik 23,06% menjadi Rp3,7 triliun dibandingkan tahun sebelumnya senilai Rp3,03 triliun.

Jeffrey mengatakan, pihaknya tidak menargetkan pertumbuhan untuk laba bersih maupun pendapatan. Perusahaan jasa konstruksi ini lebih fokus kepada proyek yang tengah dikerjakan pada tahun ini.

"Tergantung proyek yang didapat, kalau kontrak meningkat laba dan pendapatan mengikuti," ucapnya.

Sebagai salah satu strategi agar laba bersih tidak anjlok seperti tahun lalu, ACST terus selektif dalam memilih klien serta mengerjakan proyek dengan target yang sudah ditetapkan.