sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Dominasi milenial dalam tren investasi digital

Lonjakan jumlah investor di pasar modal tahun 2020 dipengaruhi tren investasi via digital di kalangan milenial.

Qonita Azzahra
Qonita Azzahra Kamis, 31 Des 2020 09:25 WIB
Dominasi milenial dalam tren investasi digital
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.024.298
Dirawat 149.388
Meninggal 28.855
Sembuh 831.330

Menutup tahun 2020, PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat ada lonjakan jumlah investor pasar modal Indonesia di tengah pandemi Covid-19. Investor saham, reksa dana, maupun obligasi mencapai 3.871.248, naik hingga 56% dibandingkan periode yang sama di tahun 2019 yang hanya sebesar 2.484.354.

Single Investor Identification (SID) sampai 29 Desember 2020, kenaikan investor ini 4 kali lipat lebih tinggi sejak 4 tahun terakhir, dari 894 ribu investor pada 2016,” kata Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi dalam acara Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia 2020, Rabu (30/12).

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama KSEI Uriep Budhi Prasetyo menjelaskan, peningkatan jumlah investor sepanjang tahun ini salah satunya didukung dengan adanya proses digitalisasi di pasar modal. Khususnya, pembukaan rekening investasi melalui teknologi finansial (tekfin) atau fintech. 

Terbukti dari keseluruhan jumlah SID, 54,52% atau sekitar 2,11 juta investor diantaranya memiliki rekening investasi di selling agent fintech (fintech agen penjual efek). Banyaknya investor yang membuka rekening melalui tekfin juga terlihat dari pertumbuhan Asset Under Management (AUM) atau dana kelolaan dari agen penjual efek. 

Masih dari data KSEI, per 23 Desember 2020, AUM tercatat sebesar Rp6,3 triliun. Padahal dana kelolaan hingga akhir 2016 tercatat hanya Rp43,39 miliar. Adapun jumlah selling agent fintech yang terdaftar di KSEI hingga saat ini ada 11 perusahaan tekfin.

Peningkatan pendaftaran rekening investasi melalui tekfin ini sejalan dengan semakin tingginya jumlah investor milenial. KSEI mencatat, per 29 Desember 2020, jumlah investor yang berusia di bawah 30 tahun dan berusia 30 hingga 40 tahun ada lebih dari 70%. 

“Kalau dirinci lagi, investor saham naik sebesar 53% menjadi 1,68 juta SID. Jumlah investor aktif harian juga naik 73% menjadi 94 ribu investor,” kata Uriep.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menutup perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2020, Rabu 30 Desember 2020 di BEI, Jakarta. Dokumentasi Otoritas Jasa Keuangan.

Sponsored

Sementara itu, jumlah investor The Central Depository and Book Settlement System (C-BEST) mampu meningkat hingga 52,88%. Sedangkan investor reksa dana dan surat berharga negara (SBN) secara berturut-turut mengalami peningkatan hingga 78,38% dan 45,46%.

Dihubungi terpisah, Chief Bussiness Development Officer PT Bareksa Prioritas Indonesia Ni Putu Kurniasari mengatakan, dana kelolaan di platform Bareksa meningkat hingga 2 kali lipat, dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Peningkatan itu didorong pula oleh naiknya jumlah investor, yang mana 75% diantaranya berasal dari kaum milenial.

“Baru 25% sisanya yang usia di atas 40 tahun,” kata dia, kepada Alinea.id, Selasa (29/12).

Peningkatan jumlah investor di platformnya, tak lain disebabkan oleh pesatnya perkembangan teknologi digital. Putu bilang, saat ini masyarakat dapat melakukan investasi hanya dengan melalui platform digital saja, salah satunya melalui Bareksa. 

“Platform digital mempermudah akses masyarakat untuk membeli produk investasi. Terlebih, lewat aplikasi mobile informasi mengenai produk investasi dapat dilihat secara transparan, juga bisa dilakukan crosscheck dengan regulator,” jelas Putu.

Investasi milenial meningkat pesat

Mudahnya melakukan investasi online telah dibuktikan oleh Agatha. Perempuan 24 tahun itu mengatakan, pekerjaan di bidang media yang saat ini ditekuninya, membuatnya tidak memiliki banyak waktu luang untuk melakukan jual beli atau trading saham. Belum lagi jika harus mengawasi pergerakan saham dan reksa dana secara terus menerus. 

Selain itu, dia juga merasa bahwa investasi yang dilakukan melalui aplikasi digital jauh lebih aman. Meskipun diakuinya, cuan yang didapatkannya jauh lebih kecil dibandingkan dengan melakukan investasi secara langsung di perusahaan sekuritas.

“Jatuhnya kita untungnya lebih sedikit karena untungnya dibagi dua sama Manajer Investasinya dan ada segala macam. (Tapi) aku pilih ini karena lebih safety dan kalau kayak kita turun langsung tradernya banget, kan kita harus mantengin terus. Sedangkan aku enggak bisa yang mantengin terus,” kata pengguna platform investasi Bibit itu kepada Alinea.id, Rabu (30/12). 

Meski begitu, investasi saham dan reksa dana yang dilakukannya melalui platform digital itu jauh lebih menguntungkan, ketimbang hanya menyimpan uangnya di akun perbankan. Sebab, return yang didapatkannya dari investasi di pasar modal ini jauh lebih tinggi dari pada bunga bank yang berlaku saat ini.

“Sejak April tahun ini (mulai investasi melalui aplikasi). Karena pas pandemi ini kan juga malah lagi hits dan orang lagi banyak yang investasi. Pertama iseng-iseng coba, enggak tahunya lumayan juga, daripada uangnya di tabungan. Berbunga, tapi berapa kan enggak banyak dan kalau investasi jatuhnya lebih gede untungnya,” tandas Agatha.

Ilustrasi. Pixabay.com.

Sementara itu, Head of Marketing and Retail PT Indo Premier Sekuritas Paramita Sari mengatakan, minat generasi milenial untuk berinvestasi meningkat 2 kali lipat selama pandemi Covid-19. Menurutnya, ada beberapa alasan yang membuat investasi di kalangan generasi muda meningkat selama wabah.

Pertama, ialah karena waktu luang yang dimiliki oleh masyarakat di kisaran usia 24 hingga 40 tahun itu semakin banyak. Seiring dengan hal tersebut, banyak kaum milenial yang semakin sadar akan pentingnya berinvestasi selama masa pandemi.

“Makanya, ketika ada waktu luang, mereka mulai mencari berbagai informasi dan salah satunya mengenai saham dan investasi seperti ini,” ujar dia dalam Focus Group Discussion Tren Investasi di masa Pandemi, Selasa (22/12) lalu.

Sepaham dengan Putu, alasan kedua meningkatnya investor milenial adalah karena semakin berkembangnya teknologi informasi. Dengan semakin berkembangnya teknologi, akan semakin mudah bagi calon investor untuk mencari informasi tentang saham ataupun investasi lainnya.

Adanya platform baru juga turut mengerek jumlah investor. Sebelumnya, Direktur Utama Indo Premier Moleonoto The pernah mengatakan, sejak aplikasi selular Indo Premier yang bernama IPOT diluncurkan pada 3 Juni 2020 lalu, tren transaksi saham via daring berubah. 

Menurutnya, sebelum IPOT ditelurkan, 70% transaksi nasabah masih dilakukan melalui platform di dekstop komputer. Namun, setelah resmi diluncurkan, 77% transaksi nasabah beralih ke mobile app IPOT. Di sinilah pengguna mobile app didominasi oleh kaum milenial dan usia produktif, yakni di rentang usia 20-35 tahun.

“Pandemi Covid-19 terbukti tidak hanya mengubah cara konsumen dalam berbelanja, tapi juga dalam melakukan transaksi online, seperti halnya dalam transaksi saham secara online berbasis aplikasi dengan mudah,” tutur dia di Jakarta, November lalu.

Hal serupa diungkapkan pula oleh Pengamat Pasar Modal Hans Kwee. Menurutnya, peningkatan investor pasar modal, utamanya yang berasal dari kalangan milenial selama pandemi didukung oleh kemudahan masyarakat dalam menggunakan teknologi.

Selain itu, adanya pandemi Covid-19 membuat masyarakat tidak bisa melakukan banyak hal di luar rumah. Ini turut mendorong semakin meningkatnya investasi di kalangan generasi muda. “Kita tidak melupakan peran OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan BEI (Bursa Efek Indonesia) yang telah berhasil membuat aturan tentang pembukaan rekening itu tanpa tanda tangan basah, secara online,” kata Hans kepada Alinea.id, Rabu (30/12).

“Transformasi yang diberikan OJK ini yang dipakai oleh berbagai broker, sehingga transaksi sekarang bisa 100% online, dari pembukaan rekening, penarikan dana, transaksi dan lain-lain,” imbuhnya.

Jumlah pengguna platform berdasarkan kelas pengeluaran bulanan. (Sumber: Fintech Report 2020 oleh DSResearch dan CIMBNiaga)
Nomor Platform Kelas A (pengeluaran bulanan lebih dari Rp7,5 juta) Kelas B (pengeluaran bulanan Rp3 juta-Rp7,5 juta) Kelas C (pengeluaran kurang dari Rp3 juta)
1. Ajaib 15% 11,9% 6,1%
2. Bareksa 23,1% 20,8% 12,1%
3. Bibit 36,1% 35,1% 30,3%
4. E-mas 24,5% 21,8% 3%
5. Invisee 10,2% 9,9% 3%
6. Kelola 7,5% 6,4% 0
7. Pluang 16,3% 12,9% 18,2%
8. Raiz Invest 8,8% 5% 0
9. Stockbit 10,2% 6,4% 3%
10. Tanamduit 18,4% 16,8% 3%
11. Xsaver 8,2% 5,9% 0
12. Indopremier 10,2% 9,4% 12,1%

Peningkatan investor masih berlanjut 

Selain itu, bunga bank yang rendah juga membuat tidak sedikit investor yang kemudian mengalihkan investasinya ke pasar modal. Baik itu pada instrumen investasi saham, reksa dana, maupun surat berharga negara seperti obligasi dan sukuk (obligasi syariah). Sebab lainnya, peningkatan investor pasar modal juga diakibatkan oleh banyaknya gagal bayar yang dialami oleh perusahaan-perusahaan asuransi di Tanah Air.

“Sehingga banyak orang takut dengan fix trade yang di asuransi segala macam. Sehingga, banyak yang pindah ke pasar saham,” jelas dia.

Hal-hal itu lah yang kemudian membuat peningkatan investor di pasar modal masih akan berlangsung hingga 2021 nanti. Namun demikian, Direktur Anugerah Mega Investama itu mengakui, peningkatan yang terjadi di pasar saham dan reksa dana tidak akan signifikan, seperti yang terjadi tahun ini. 

“Karena, tahun depan kan ceritanya vaksin ketemu, terus aktivitas bisnis mulai jalan lagi. Sehingga, mungkin pasar saham tidak akan bisa meningkat signifikan, tidak seramai tahun ini. Tapi masih menunjukkan tren peningkatan,” ujar dia.

Sebaliknya, peningkatan signifikan diprediksi akan terjadi di pasar SBN, baik itu obligasi ritel negara maupun sukuk. Terlebih, jika imbal hasil (yield) yang ditawarkan kepada investor semakin besar.

“Karena memang masalah kita ini mencari bunga yang menarik,” tegas dia.

Di sisi lain, meski investasi online dapat dilakukan dengan mudah, tidak membuatnya luput dari risiko besar berupa penipuan-penipuan atau biasa disebut dengan investasi bodong.

Karenanya, Hans menyarankan kepada para calon investor untuk melakukan pengecekan latar belakang (background check) perusahaan tekfin yang akan digunakan untuk investasi. Hal itu dapat dilakukan dengan memastikan apakah perusahaan tersebut sudah terdaftar dan mendapatkan izin resmi dari OJK.

Selanjutnya, saat memilih produk investasi, baik saham, reksa dana maupun SBN, calon investor juga harus memperhatikan nilai return yang ditawarkan. Hans bilang, produk investasi yang menawarkan return tinggi dan pasti, mengarah pada bentuk penipuan atau investasi bodong.

“Ketiga, pastikan memang produk itu sudah sesuai dengan aturan penawarannya, jadi kalau reksa dana, kemudian saham ada fix ratenya, kita harus hati-hati. Itu tidak dipasarkan sesuai prosedur. Kalau produk dari perusahaan berjangka, ya harus izin dari Bappebti, jadi sesuai dengan prosedurnya,” tutur dia.

Kemudian, yang tidak kalah pentingnya adalah memastikan track record dari perusahaan Manajer Investasi (MI) sebelum melakukan investasi. Untuk memastikan track record dari sebuah MI, calon investor dapat melihat dari laman resmi OJK atau dari berita-berita yang telah tersebar di berbagai media.

“Jadi, track recordnya MI itu seperti apa? Apakah ada kasus sebelumnya? Jadi dicek di internet, dicek di media apakah dia ada masalah atau enggak. Di pengelolanya juga,” imbuh Hans.

Berita Lainnya