sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id
Live Streaming

Geliat bisnis mainan edukatif di masa PJJ

Orang tua bisa "menyapih" anak dari gawai dengan memanfaatkan mainan edukatif sebagai media pembelajaran di rumah.

Qonita Azzahra
Qonita Azzahra Selasa, 20 Jul 2021 11:08 WIB
Geliat bisnis mainan edukatif di masa PJJ

Mainan edukatif menjadi alternatif kala Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) diterapkan akibat pandemi. Tak hanya sebagai media pembelajaran, mainan yang mengasah kreativitas ini juga menjauhkan anak dari ketergantungan terhadap gawai.

Dyah Retnaningsih (41) misalnya. Ibu empat anak ini mengaku kesalahan pola asuh sejak kecil membuat anak pertama dan keduanya kecanduan gadget. Sadar akan dampak buruknya, ia dan sang suami memutuskan untuk mengganti keberadaan ponsel dan tablet dengan mainan-mainan edukatif.

Menurutnya, "menyapih" anak-anaknya dari gawai bukanlah hal yang mudah. Karenanya, ia dan suami sengaja memberikan berbagai jenis mainan. Mulai dari membuatkan kolam mandi bola di belakang rumah, hingga membiarkan anak-anaknya memilih sendiri mainan edukatif yang mereka inginkan.

“Dulunya kalau makan, mau tidur, bangun tidur itu selalu yang dipegang HP atau enggak tablet sampai rebutan. Sekarang sudah mending bisa lepas,” katanya, saat dihubungi Alinea.id, Minggu (18/7). 

Kini, rumah mereka dipenuhi berbagai jenis mainan anak. Sebut saja lego, puzzle, balok, playdough atau plastisin, kartu, buku gambar, crayon dan pensil warna hingga miniatur alat musik.

Ilustrasi Pixabay.com.

Perempuan yang juga berprofesi sebagai dokter umum di salah satu Puskesmas di Kecamatan Salaman, Magelang, Jawa Tengah itu mulai membiasakan dua anak terakhirnya memainkan mainan-mainan edukatif.

“Kalau (anak) yang kecil-kecil udah biasa main mainan anak-anak,” ujarnya.

Sponsored

Berbeda dengan Dyah, Mustafid telah mengenalkan mainan edukatif kepada anak semata wayangnya Al-Ghani (2) sejak bayi. Menurutnya, baik mainan edukatif atau mainan anak lainnya lebih membantu tumbuh kembang sang anak ketimbang gawai. 

Karenanya, pengusaha sepatu asal Kendal, Jawa Tengah itu sebisa mungkin membelikan mainan untuk anaknya sebulan sekali. Avid, sapaan akrabnya dan sang istri Yossie (25) juga biasa membelikan hadiah ulang tahun sang anak berupa mainan. 

“Kalau sebelum pandemi biasa diajak ke toko atau mal buat milih sendiri,” ungkap laki-laki 26 tahun itu, kepada Alinea.id, Sabtu (17/7).

Terhantam pandemi

Ketua Bidang Mainan Kayu Asosiasi Pengusaha Mainan Indonesia (APMI) Wiatna Riangsaputra mengatakan, sejak awal 2020 dampak wabah Covid-19 mulai mengantam industri mainan global. Hal yang sama terjadi pula pada sektor mainan kanak-kanak nusantara.

Winata bilang, anjloknya industri mainan anak diakibatkan oleh tidak adanya permintaan, baik dari konsumen dalam negeri maupun luar negeri. Di saat yang sama, pabrik mainan lokal juga tak bisa melakukan produksi karena terkendala impor bahan baku. 

Padahal, sekitar 25% dari komponen mainan masih mengandalkan impor. Kondisi tersebut lantas membuat produksi mainan anak dalam negeri ikut terimbas hingga mengalami penurunan 10-15% dibandingkan produksi tahun 2019. Sedangkan untuk utilisasi industri, menurut data Asosiasi Mainan Indonesia (AMI) hingga akhir Mei 2020 hanya tinggal 35%. 

“Mainan edukasi juga sebenarnya ikut terdampak,” ungkap Winata kepada Alinea.id, melalui sambungan telepon, Senin (19/7).

Beruntung, mulai semester-II 2020 kinerja sektor mainan anak mulai menunjukkan kenaikan lantaran kondisi pasar global yang sudah semakin membaik. Dengan 50% anggota APMI yang sudah bermain di pasar ekspor, perbaikan pasar luar negeri jelas sangat membantu. Pada pertengahan tahun 2020, para produsen mainan pun bisa kembali melaksanakan ekspor yang sempat tertunda. 

Selain itu, jaringan online shop yang kuat di sejumlah negara seperti Jepang, Amerika Serikat dan Australia juga dinilai efektif menumbuhkan kinerja industri mainan.
 
“Meskipun kapasitas ekspor hanya diperbolehkan 50% saja, tapi itu sudah sangat membantu dengan adanya perbaikan di pasar global,” katanya.

Sedangkan untuk pasar dalam negeri, lanjut Winata, meski para produsen masih mengerem produksi, namun penjualan mainan dapat ditingkatkan melalui pemasaran daring. 

Salah satu sub-sektor yang mengalami pertumbuhan pesat selama Juni hingga Desember 2020 ialah mainan edukasi. Menurut Direktur PT. GMS itu, sepanjang paruh kedua tahun lalu, industri mainan edukasi dapat tumbuh 10-15%. 

Penyebabnya tak lain adalah karena adanya kebijakan Pembelajaran Jauh (PJJ) saat pagebluk. Kala pembelajaran daring, mainan edukatif sering kali digunakan sebagai alat penunjang pembelajaran. Selain dapat menarik perhatian anak selama belajar, orang tua juga bisa memberikan pemahaman lebih kepada anak.

Siswa belajar secara online bersama. Foto Reuters.

“Anak tidak melulu belajar secara online. Tapi juga bisa belajar secara langsung. Apalagi untuk anak usia PAUD (Pendidikan Anaka Usia Dini) itu kan dibutuhkan pembelajaran untuk merangsang motorik halus dan kasarnya,” jelas Winata.

Alat bantu kala PJJ

Early Childhood Care and Development (ECCD) Specialist Save the Children Indonesia Yoan Ida Ringu Paubun pun mengamini hal tersebut. Menurutnya, penggunaan mainan edukatif sebagai Alat Peraga Edukatif (APE) sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kreativitas dan inovasi anak ketika menjalani PJJ. 

“Dengan APE yang kreatif, anak-anak akan merasa senang dan betah untuk belajar ataupun berada di kelas (online),” katanya, kepada Alinea.id, Kamis (15/7).

Metode pengajaran dengan APE juga dinilai lebih efektif, ketimbang dengan metode berceramah atau pembelajaran satu arah. Mainan yang digunakan pun bisa beragam. Selain dengan mainan edukatif yang dijual di pasaran bisa juga dengan mainan yang dibuat sendiri oleh orangtua atau guru (Do It Yourself). 

Ialah FunLearning_id, salah satu produsen mainan edukatif yang mencatatkan kinerja positif selama pandemi. Novia Maulina (31), penggagas mainan edukasi yang terbuat dari limbah sisa kain flanel ini tak menyangka jika produk ciptaannya dapat terjual hingga 1.300 buah hanya dalam waktu 4 bulan setelah dirilis. 

Wanita yang karib disapa Via itu menjelaskan, pada mulanya dia sengaja ingin membuat mainan edukasi dengan menggabungkan seluruh konsep dan kebutuhan edukasi anak dalam satu paket. ‘When Fun Meets Learning’ begitu lah konsep produk yang digadang-gadang sebagai The Next Lego-nya Indonesia ini.

“Jadi praktis, aman dan harganya juga terjangkau,” katanya, saat dihubungi Alinea.id, Minggu (18/7).

Produk mainan edukasi yang ditawarkan Dosen di Jurusan Farmasi UIN Maulana Malik Ibrahin ini pun beragam. Mulai dari permainan sensory play yaitu pom-pom, waterbeads hingga colored rice. Ada juga untuk motoric skill, yaitu engklek milenial yang dilengkapi dengan gaco akrilik. Selain itu untuk segi kognitif, ia menawarkan produk sorting & counting, menyortir warna dan berhitung.

 

 

Kemudian ada juga mainan berbahan dasar flanel dengan ornamen-ornamen detail yang menyerupai obyek asli. Sebagai contoh permainan burger sequence, pizza math activity, jajanan pasar tradisional, isi piringku, flanel fishing toys, solar system hingga miniatur organ tubuh manusia. 

Via mengandalkan pemasaran produk secara online melalui media sosial seperti WhatsApp, Instagram, dan marketplace. “Dari awal konsepnya memang online karena di masa pandemi tidak mungkin berjualan secara langsung,” kata dia.

Penjualan secara online itu mampu menjangkau pembeli hingga ke Aceh, Makassar, Lombok dan berbagai daerah di Pulau Jawa. Mainan anak seharga Rp25.000 hingga Rp100.000 itu juga telah mendapat penghargaan Kementerian Riset dan Teknologi sebagai finalis dalam Anugerah Inovasi Indonesia 2020.

"Ada juga yang pesan dari luar negeri, kayak Sydney (Australia),” lanjut perempuan yang sudah memulai usahanya sejak Mei 2020 itu. 

Geliat pasar global

Di pasar global, nilai ekspor mainan edukasi mencapai US$343 juta pada 2020. Angka ini jelas lebih tinggi ketimbang capaian ekspor pada 2018, yang sebesar US$320 juta. 

Letter In Pine adalah satu produsen mainan edukatif dan interior anak merasakan geliat positif industri mainan anak. Di tengah pandemi, brand lokal ini berhasil mencatat total pertumbuhan penjualan hingga 45% setiap bulan. Bahkan, jumlah produk yang terjual juga mengalami peningkatan sebesar 2 kali pada kuartal-I 2021 dibandingkan periode yang sama tahun 2020.

“Letter In Pine juga telah memiliki sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI) sehingga kualitas produknya sesuai dengan penerapan standar mainan anak yang diberlakukan secara wajib oleh pemerintah,” ujar Brand Founder Letter In Pine, Adhiprana Waraputra kepada Alinea.id, beberapa waktu lalu.

Dengan mengantongi sertifikat SNI, lanjutnya, produknya mampu meningkatkan daya saing serta menembus pasar ekspor. Sementara itu, dalam pertumbuhannya, produsen mainan edukasi yang bermarkas di Semarang itu terus berusaha untuk berkomitmen memberdayakan perajin lokal agar semakin inovatif. Berawal dari 5 orang perajin lokal, hingga saat ini Letter In Pine berhasil menyerap sebanyak 35 perajin lokal.

“Perajin ada dari berbagai macam daerah di Jawa Tengah, mulai dari Semarang, Klaten, dan Ambarawa,” lanjutnya.

Terkait upaya menggenjot ekspor produk mainan nasional, mantan Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih menyatakan, pihaknya telah melakukan kerja sama dengan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Selain itu pemerintah juga telah memfasilitasi kemudahan impor tujuan ekspor (KITE). 

“Ini menjadi kesempatan bagi para pelaku IKM untuk memperluas pasar ekspornya, dengan memperlancar proses produksi mereka,” tutur perempuan yang saat ini menjabat sebagai Pejabat Fungsional Analis Kebijakan Ahli Utama Kementerian Perindustrian ini kepada Alinea.id, Kamis (15/7).

Kemudian, agar kinerja sektor industri mainan semakin produktif dan berdaya saing di tingkat global, Kemenperin telah mengusulkan adanya pemberian insentif berupa super deductible tax. Selain itu, sektor industri mainan juga dapat memanfaatkan fasilitas fiskal berupa Bea Masuk Ditanggung Pemerintah (BMDTP).

“Dalam upaya melindungi produk dan pasar dalam negeri serta menghindari gempuran produk impor yang tidak berkualitas, pemerintah menerapkan pemberlakuan SNI mainan anak secara wajib,” ujar Gati.

Ilustrasi Pixabay.com.

Di saat yang sama, untuk meningkatkan penjualan mainan edukasi, para pengusaha mainan anak di bawah APMI sepakat untuk mendorong promosi produk secara daring, melalui berbagai e-commerce. Sebab, menurut Ketua Bidang Mainan Kayu APMI Winata Riangsaputra satu-satunya cara yang tersisa untuk meningkatkan kinerja mainan edukasi hanyalah dengan promosi secara online. 

“Walaupun PPKM dilonggarkan, beberapa orang juga masih takut ke mal. Jadi kita kejarnya di sektor online,” keluhnya.

Sementara itu, untuk meningkatkan kinerja industri mainan, para pelaku usaha jelas tak bisa bermain sendiri. Winata mengaku, meski telah mengalami perbaikan, sektor industri mainan anak tetap membutuhkan uluran tangan pemerintah. Bantuan yang dibutuhkan pengusaha,antara lain dapat berupa subsidi bunga kredit bank dan subsidi gaji karyawan di bawah Rp5 juta yang sempat diberikan hingga akhir tahun lalu. 

Kemudian, para pelaku usaha juga membutuhkan uluran tangan pemerintah daerah (Pemda) untuk memberikan kelonggaran pembayaran PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) serta keringanan tarif listrik. Hal ini dimaksudkan untuk menghemat biaya produksi mainan, baik untuk pengusaha skala besar maupun IKM. 

Sementara untuk meningkatkan ekspor mainan anak, Winata berharap pemerintah dapat memperketat SNI mainan, melarang impor borongan mainan, mengawasi pelabuhan tikus tempat masuknya barang asing, termasuk menurunkan bea masuk bahan baku mainan.

Ilustrasi Alinea.id/Bagus Priyo.

Berita Lainnya