sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Harga emas melejit, nasib tambang emas untung atau buntung?

Kinerja emiten tambang emas tidak selalu cemerlang di tengah melonjaknya harga emas.

Syah Deva Ammurabi
Syah Deva Ammurabi Senin, 07 Sep 2020 18:24 WIB
Harga emas melejit, nasib tambang emas untung atau buntung?

Pandemi Coronavirus memicu demam emas di tengah masyarakat dunia. Musababnya, logam mulia kuning ini dianggap sebagai pelindung aset (safe haven) di tengah meruginya bisnis, menurunnya pendapatan, merahnya portofolio investasi, dan ancaman resesi.

Hingga Jumat (4/9), harga emas telah menyentuh angka US$1.932,98 per troy ons atau Rp914.516 per gram. Angka ini meningkat sebesar 27,22% sejak awal tahun (year-to-date/YTD). Bahkan, harga emas dunia sempat mencapai rekornya, yakni US$2.070,55 per troy ons (Rp965.435 per gram) pada Kamis (6/8) lalu. 

Tren kenaikan harga emas ini terjadi seiring dengan jatuhnya sejumlah negara ke dalam jurang resesi akibat pandemi Covid-19 seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Perancis, Italia, Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan sebagainya.

Di sisi lain, saham-saham emiten pertambangan emas semakin diburu oleh investor. Salah satunya adalah Warren Buffet, orang terkaya keempat di dunia menurut Majalah Forbes dengan nilai kekayaan mencapai US$82,4 per Minggu (6/9).
 
Sepanjang kuartal II 2020, Buffet membeli 21 juta lembar saham Barrick Gold Corporation, perusahaan tambang emas kedua terbesar di dunia yang bermarkas di Kanada. Nilai pembelian tersebut mencapai US$564 juta atau sebesar Rp7,90 triliun dengan hitungan US$1 sebesar Rp14.000.

Pembelian ini cukup mengejutkan mengingat selama ini investor kawakan kelahiran Omaha, Nebraska, Amerika Serikat ini belum pernah sekalipun berinvestasi di pertambangan emas.

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta melihat perilaku investor yang berlomba-lomba memburu emas disebabkan oleh adanya keinginan untuk memproteksi kinerja portofolio investasi mereka.

“Saya pikir ini memberi katalis positif bagi emiten bukan hanya di Indonesia, tapi di seluruh dunia tambang-tambang emas mengalami apresiasi karena selama pandemi Covid-19 harga emas naik terus. Ketika negara-negara menerapkan lockdown, harga emas masih terapresiasi. Otomatis emas menjadi instrumen investasi yang paling favorit tahun ini,” terangnya melalui sambungan telepon, Sabtu (5/9).

Lantas, bagaimana dengan kinerja emiten pertambangan emas di Indonesia? 

Sponsored

Mengalami untung

Beberapa emiten mendapat durian runtuh gara-gara naiknya harga emas. Kelompok emiten tersebut masih mencetak laba, meskipun nilainya tergerus akibat terganggunya operasional kala pandemi, turunnya kinerja lini usaha lain, maupun menurunnya produksi tambang. Siapa sajakah emiten tersebut?

1.    PT United Tractors Tbk (UNTR)

Perusahaan distributor alat berat dan kontraktor tambang terkemuka di Indonesia ini terhitung baru terjun ke bisnis pertambangan emas sejak 2018 lalu.  Kala itu, UNTR melalui PT Danusa Tambang Nusantara membeli 95% saham PT Agincourt Resources (PTAR) dari EMR Capital Advisors Pty Ltd. PTAR sendiri menguasai konsesi tambang Martabe di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara sejak 2006 silam.

Menariknya, pertambangan emas justru menjadi satu-satunya lini bisnis UNTR yang moncer dengan kenaikan pendapatan sebesar 10,15% yakni dari Rp3,63 triliun (Semester I 2019) menjadi Rp4,04 triliun (Semester I 2020). Meskipun demikian, kontribusinya baru mencapai 12,17% terhadap omzet perusahaan pada Semester I 2020.

Direktur Utama UNTR Fransiskus Xaverius Laksana Kesuma mengakui bahwa diversifikasi bisnis ke segmen pertambangan emas merupakan strategi dalam menghadapi fluktuasi harga batu bara. Komoditas yang menjadi salah satu sapi perah perusahaannya kini mengalami kejatuhan harga selama dua tahun terakhir.

“Tahun 2019 kontribusi Martabe cukup besar dari keseluruhan United Tractors, sehingga pertumbuhan 2018 ke 2019 terjaga karena adanya pertambangan emas ini. Ke depan, kami harapkan kontribusi dari non-pertambangan thermal coal akan meningkat,” jelasnya dalam Public Expose yang diadakan pada Selasa (25/8) silam.

Ilustrasi alat berat di pertambangan. Pixabay.

Frans mengatakan lini bisnis pertambangan emas menjadi salah satu fokus bagi perseroannya. Oleh karena itu, pihaknya tengah melakukan eksplorasi cadangan emas untuk mengantisipasi habisnya cadangan emas Martabe di masa depan. 

“Apakah akan mengakuisisi (perusahaan tambang emas) atau enggak, itu bergantung dengan kriteria. Kalau itu masuk, kami akan tertarik mengakuisisi emas,” ujarnya. 

Dia menyebut kriteria yang dimaksud adalah ukuran tambang, perizinan, dan potensi balik modal (return).

Direktur UNTR Iwan Hadiantoro menargetkan penjualan emas Martabe mencapai 255-300 ribu troy ons. Jumlah ini menurun dibandingkan tahun lalu yang mencapai 411 ribu ton lantaran terganggunya operasional perusahaan akibat pandemi.

“Tahun depan dengan asumsi covid sudah membaik, secara gradual kita meningkatkan mining operational kami dengan target 350 ribu ons,” katanya.

2.    PT Merdeka Gold Copper Tbk (MDKA)

Berbeda dengan UNTR, fokus bisnis MDKA merupakan bisnis pertambangan emas dan tembaga. Perusahaan yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) besutan Edwin Soeryadjaya dan Sandiaga Salahuddin Uno tersebut mencatatkan kenaikan pendapatan dari dari US$191,77 juta (Rp2,68 triliun) pada Semester I 2019 menjadi US$198,81 juta (Rp2,78 triliun) pada Semester I 2020. 

Di lain pihak, biaya pokok produksi membengkak 16,43% dari US$105,15 juta atau setara Rp1,47 triliun menjadi US$122,43 juta (Rp1,71 triliun) selama periode yang sama. Akibatnya, laba bersih perusahaan tergerus 10,01% dari US$42,52 juta (Rp595,28 miliar) menjadi US$38,26 juta (Rp535,64 miliar).

Selama Semester I 2020, perusahaan mampu memproduksi emas sebesar 108.823 ribu troy ons atau turun 1,56% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Emas tersebut dihasilkan dari tambang emas Tujuh Bukit di Banyuwangi, Jawa Timur. Tidaklah mengherankan, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memiliki 5,23% saham MDKA.

Dalam rangka ekspansi usaha, MDKA tengah mengembangkan usaha patungan (joint venture) dengan PT J Resources Asia Pasifik (PSAB) dalam proyek tambang emas Pani di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo melalui PT Pani Bersama Tambang (PBT). Kerja sama ini dilakukan lantaran blok yang mereka kerjakan terletak bersebelahan.

Bila blok yang dikelola oleh MDKA (Izin Usaha Pertambangan/IUP Pani) dan PSAB (Proyek Pani) digabungkan, potensi cadangan emas yang terkandung di dalamnya mencapai 4,67 juta troy ons emas. Tambang Pani rencananya mulai berproduksi pada Semester II 2020.

3.    PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)

ANTM adalah salah satu perusahaan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang bergerak di bidang pertambangan. Perusahaan ini memiliki unit bisnis yang komplit, mulai dari tambang emas, pabrik pengolahan emas, hingga penjualan ritel melalui jenama Logam Mulia Antam. 

Penjualan emas berkontribusi sebesar 69,45% terhadap pendapatan perusahaan pelat merah tersebut. Namun, penjualan emas turun 3,30% dari Rp Rp9,61 triliun pada Semester I 2019 menjadi Rp6,41 triliun pada Semester I 2020. Secara volume, penjualan emas juga turun dari 15.741 kilogram menjadi 7.915 kilogram.

Ilustrasi emas batangan. Foto Reuters.

Meskipun penjualan menurun, Sekretaris Perusahaan ANTM Kunto Hendrapawoko mengatakan laba usaha Logam Mulia dan Pemurnian mengalami kenaikan dari Rp234,94 miliar menjadi Rp495,16 miliar atau naik sebesar 111%. 

“Pertumbuhan tingkat profitabilitas tersebut sejalan dengan pengembangan pasar produk Logam Mulia ANTAM di pasar domestik serta strategi efisiensi biaya operasi yang optimal. Selain itu penguatan harga rata-rata emas global pada semester pertama tahun 2020 sebesar 26% (dibandingkan periode yang sama di tahun 2019) turut meningkatkan profitabilitas segmen Logam Mulia dan Pemurnian,” terangnya melalui surat elektronik beberapa waktu lalu.

ANTM sendiri memiliki dua tambang emas, yakni Pongkor (Bogor, Jawa Barat) dan Cibaliung (Pandeglang, Banten) dengan produksi keduanya yang mencapai 27.328 troy ons (850 kilogram). Adapun sebagian besar emas ANTM diperoleh melalui pembelian logam mulia yang nilainya mencapai Rp5,70 triliun pada semester I 2020 atau 67,94% dari total biaya produksinya yang mencapai Rp8,39 triliun. Biaya produksi tersebut turun dibanding periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp12,68 triliun.

Kinerja emiten tambang emas
Emiten          Pendapatan Q2 2019   Pendapatan Q2 2020 Laba/rugi bersih Q2 2019 Laba/rugi bersih Q2 2020
ANTM         Rp14,43 triliun  Rp9,23 triliun   Rp428,00 miliar Rp84,92 miliar
MDKA           
 
Rp2,68 triliun Rp2,78 triliun  Rp595,28 miliar Rp535,64 miliar
PSAB           Rp1,71 triliun   Rp1,66 triliun Rp60,20 miliar (-)Rp45,78 miliar
SQMI            Rp0,00  Rp2,50 triliun (-)Rp139,95 miliar (-)Rp18,77 miliar
UNTR        Rp43,32 triliun    Rp33,19 triliun  Rp5,66 triliun Rp4,06 triliun

Buntung di tengah pandemi

Kenaikan harga emas tak selamanya membuat emiten tambang emas mampu mencetak laba atau setidaknya menahan laba tergerus lebih dalam. Beberapa emiten malah mengalami kerugian di tengah tren meningkatnya harga emas. Ada emiten yang berbalik dari mencetak laba bersih menjadi rugi bersih, ada pula yang tetap istikamah mengalami kerugian sejak sebelum pandemi. Apa saja emiten tersebut?

1.    PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) 

Pandemi malah membuat kantong PSAB semakin seret. Lihat saja laporan keuangannya yang menunjukkan pembalikan arah dari laba bersih US$4,30 juta (Rp60,20 miliar) pada Semester I 2019 berbalik menjadi rugi bersih US$3,27 juta (Rp45,78 miliar) per Semester I 2020. 

Sebenarnya, laba tahunannya masih mencatatkan laba tahun berjalan sebesar US$1,06 juta. Namun, laba tersebut tergerus oleh kerugian komprehensif sebesar US$8,70 juta akibat adanya penyesuaian nilai wajar atas instrumen lindung nilai arus kas berupa transaksi swap atas mata uang silang dan swap atas suku bunga.

Pada 2019, emiten ini berhasil menjual emas sebanyak 176.780 troy ons dari tiga tambang emas yang dikelolanya yaitu tambang Bakan (Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara), Seruyung (Nunukan, Kalimantan Utara), dan Penjom (Pahang, Malaysia). Secara total, ketiga tambang tersebut memiliki cadangan emas sebesar 1,035 juta troy ons.

Dibanding emiten lainnya, PSAB terbilang gencar melakukan eksplorasi cadangan emas. Tercatat empat proyek eksplorasi tengah digarap oleh perusahaan ini yakni Proyek Doup (Sulawesi Utara), Proyek Pani (Gorontalo), Blok Bolangitang (Sulawesi Utara), dan Blok Bulagidun (Sulawesi Tengah). Tiga blok terakhir di bawah pengelolaan PT Gorontalo Sejahtera Mining yang 99,99% kepemilikan sahamnya dipegang oleh PT Pani Bersama Tambang yang merupakan perusahaan patungan antara PSAB dan MDKA. 

Pada Selasa (28/7) lalu, perusahaan yang  telah berdiri sejak 2002 tersebut merilis obligasi berkelanjutan I Tahap V senilai Rp650 miliar. Obligasi tersebut digunakan untuk melunasi utang perusahaan (Medium Term Note/MTN) dan penambahan modal kerja. 

2.    PT Wilton Makmur Indonesia Tbk (SQMI)

Meskipun harga emas dunia tengah naik daun, SQMI secara konsisten mengalami rugi bersih dari Rp139,95 miliar (Semester I 2019) menjadi Rp18,77 miliar (Semester I 2020). Bahkan, emiten ini sempat disuspensi perdagangannya oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) selama 30 September – 25 Oktober 2019 lantaran tidak mencatatkan pendapatan selama semester I 2019.

Sebagai informasi, Wilton Resources Holding Pte Ltd telah mengambil alih 96,95% kepemilikan saham PT Renuka Coalindo Tbk pada Februari 2019 silam. Perusahaan yang berbasis di Singapura tersebut menyuntikkan dana sebesar Rp37,7 triliun kepada Renuka Coalindo dengan harga Rp250 per lembar saham, sehingga memiliki 15,06 miliar saham baru. Setelah akuisisi, nama perusahaan pun berubah menjadi PT Wilton Makmur Indonesia Tbk sebagaimana sekarang.

SQMI tengah fokus mengembangkan Proyek Ciemas yang telah berproduksi sejak 2017 silam. Tambang Ciemas sendiri memiliki luas sebesar 3.078 Hektare. Kemudian, perseroan tengah membangun pabrik pengolahan emas di Ciemas, Sukabumi, Jawa Barat dengan kapasitas 500 ton bijih emas per hari. Pabrik dengan nilai investasi US$300 juta tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada paruh kedua 2020.

Selain itu, SQMI juga telah melakukan eksplorasi pada empat lokasi yang masih berada di wilayah cakupan Proyek Ciemas yaitu Cibatu, Cikadu, Pasir Manggu Barat, dan Sekolah. Keempat lokasi tersebut memiliki cadangan emas sebesar 3,26 juta ton.

Saham emiten tambang emas makin menarik

Setelah memecahkan rekor pada awal Agustus lalu, harga emas mengalami penurunan dan bertengger di kisaran harga US$1.900 per troy ons. Meskipun demikian, emiten tambang emas masih menjadi instrumen yang menarik.

Kepala Riset Samuel Sekuritas Suria Dharma berpendapat harga emas berpotensi naik kembali ke level di atas US$2.000 per troy ons bila dana stimulus ekonomi Amerika Serikat (AS) disetujui oleh Kongres. Hingga kini, Kongres AS masih dalam sesi reses dan belum mencapai kesepakatan mengenai besaran stimulus. Menurutnya, harga emas dapat melonjak hingga US$3.000 per troy ons dalam jangka panjang.

“Kalau saya lihat, tambang emas lebih cenderung sejalan dengan harga emas ketimbang kinerjanya. Kalau kinerjanya tidak sebagus yang dibayangkan ikut positif juga, jadi orang enggak lihat pertumbuhannya. Begitu harga emasnya naik, mereka ikutan. Bisa dilihat pergerakan harga emas dan saham-saham emas, itu sejalan,” jelasnya kepada Alinea.id, Jumat (4/9).

Suria menilai langkah Warren Buffet yang mulai melirik emas menandakan positifnya prospek emiten tambang emas dan akan memengaruhi sentimen psikologis para investor untuk berlomba-lomba menanamkan uangnya.

Dia melihat MDKA dan UNTR akan menjadi penggerak harga emiten tambang emas lantaran memiliki cadangan emas yang besar. Adapun ANTM lebih fokus pada ritel penjualan emas, produksi emasnya relatif sedikit, serta harga sahamnya juga dipengaruhi oleh komoditas bahan tambang lainnya.

“PSBA dan SQMI mungkin belum terlalu menghasilkan, tapi sentimen orang tetap positif juga. Kalau yang gede-gede naik, terpengaruh juga. Jadi yang kecil-kecil kayak PSAB dan SQMI lebih spekukatif. Kalau MDKA atau UNTR naik, mereka ikut naik juga,” terangnya.

Suria melihat pertambangan emas relatif tak terdampak pandemi Covid-19. Adapun valuasi saham-saham emiten emas juga relatif sedang dibandingkan emiten di sektor lainnya.

“Dari sisi industri, masing-masing kinerjanya bagus atau enggak dilihat dari perusahaannya. Kemampuan cashflow (arus kas) cukup kuat enggak? Misalnya mau corporate action, kalau mau digerakkin perlu duit juga ya,” ujarnya.

Setali tiga uang, Muhammad Nafan Aji Gusta dari Binaartha Sekuritas menganggap penurunan harga emas hanya bersifat sementara. Menurutnya, ketidakpastian kondisi geopolitik global dan pengembangan vaksin berpengaruh terhadap pergerakan harga emas ke depan. 

Untuk emiten tambang emas, dia menjagokan ANTM dan UNTR sebagai pilhan investasi lantaran masuk ke dalam indeks IDX 30. Indeks ini beranggotakan emiten-emiten dengan pergerakan saham paling likuid dengan kondisi fundamental yang baik dan tingkat kepatuhan yang tinggi. Dalam jangka panjang, ia menargetkan harga UNTR dan ANTM masing-masing sebesar Rp34.500 dan Rp1.100 per lembar saham.

Nafan menjelaskan kinerja UNTR akan lebih moncer bila kapasitas tambang emas dan penjualan alat berat dapat ditingkatkan. Di sisi lain, UNTR termasuk royal membagikan deviden dibandingkan emiten lain di sektor pertambangan.

Kemudian, pabrik peleburan (smelter) nikel di Halmahera, Maluku Utara yang ditargetkan mulai berproduksi akhir tahun akan menjadi katalis bagi pergerakan saham ANTM. Belum lagi, ANTM kerap mengeluarkan produk emas batangan terbaru yang berpotensi mendongkrak penjualan emas.

Sementara itu, emiten tambang emas non-IDX 30 seperti MDKA, PSAB, dan SQMI dinilai lebih cocok untuk trading (perdagangan) jangka pendek dengan mencermati volume pembelian dan penjualan saham.

“Alhamdulillah pergerakan harga emas terapresiasi dengan baik, bahkan uptrend. Hal ini membuat kinerja ANTM dan UNTR mengalami apresiasi, itu saham-saham yang masuk IDX 30. Ada juga non-IDX 30 seperti PSAB dan MDKA yang juga mengalami apresiasi,” katanya.

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari artikel yang berjudul “Harga cetak rekor, demam emas masih berlanjut?”
 

Berita Lainnya