logo alinea.id logo alinea.id

KEIN ajukan 4 sektor investasi untuk periode kedua Jokowi

Komiten Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) menyatakan keempat sektor investasi akan meningkatkan perekonomian nasional.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Senin, 15 Jul 2019 12:32 WIB
KEIN ajukan 4 sektor investasi untuk periode kedua Jokowi

Komiten Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) menyatakan ada empat sektor investasi potensial yang bisa digarap pemerintahan Jokowi periode kedua. 

Keempat sektor tersebut adalah hilirisasi agrikultur di bidang kehutanan, bidang maritim termasuk perikanan, bidang pariwisata  dengan penciptaan 10 destinasi wisata baru dan ekonomi kreatif. 

Wakil ketua KEIN Arif Budimanta mengatakan empat hal tersebut jika difokuskan untuk pengembangan investasi akan memberi nilai tambah terhadap sumber daya alam Indonesia.

"Nilai tambah kedua yaitu menambah lapangan pekerjaan. Semua sektor tersebut menyangkut ekonomi kerakyatan," kara Arif di Gedung BEI, Jakarta, Senin (15/7).

Arif melanjutkan, selain keempat sektor tersebut, ada juga yang memiliki potensi untuk digarap seperti investasi petrokimia untuk pengembangan industri dan investasi logam dasar.

"Tidak kalah penting investasi dalam bidang industri Information and Communication Technologies (ICT). ICT dalam neraca dagang sudah top 3 impornya di luar migas dan bahan pangan. Kita harus berani mengembangkan industri ICT untuk pengembangan 5G dan 6G juga," kata Arif.

Kebutuhan infrastruktur

Sementara itu, Arif menuturkan untuk memperlancar arus investasi ke Indonesia, dibutuhkan akselerasi pembangunan infrastruktur. Menurut dia, penting bagi Presiden Jokowi untuk melanjutkan pembangunan infrastruktur yang sudah dimulai di periode sebelumnya.

Sponsored

Arif mencontohkan seperti pembangunan tol di luar Jawa sangat penting untuk dilanjutkan. Infrastruktur berbasis transportasi juga masih perlu dibangun di Kalimantan, Sumatera, Kalimantan, dan lain-lain.

"Begitu juga di bidang energi, walaupun rasio electricity sudah mencapai 100%, tetapi kebutuhan terhadap energinya semakin besar seiring meningkatnya daya beli masyarakat," ujar Arif.

Menurutnya, daya listrik harus ditingkatkan lagi ke depan. Jika saat ini daya listrik sebesar 35 ribu watt, kata Arif, lima tahun ke depan mungkin jadi 45 ribu watt. 

Afif melanjutkan, dalam pidato Visi Indonesia, Jokowi meyakinkan 5 tahun ke depan penuh dengan suasana damai sehingga tidak perlu ada kekhawatiran untuk melanjutkan dan membuat investasi baru di Indonesia. Sebab, menurut Arif komitmen dari presiden jelas untuk membangun investasi. 

Dalam pidatonya di Sentul International Convention Center (SICC) Minggu (14/7), Jokowi mengatakan Indonesia harus mengundang investasi seluas-luasnya untuk membuka lapangan pekerjaan dan jangan ada yang alergi dengan investasi. Jokowi juga menyebut segala hal yang menghambat investasi harus dipangkas.

"Apalagi ada punglinya. Hati-hati, ke depan saya pastikan akan saya kejar, saya kontrol, saya cek, dan saya hajar kalau diperlukan. Tidak ada lagi hambatan-hambatan investasi karena ini adalah kunci pembuka lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya," kata Jokowi.

Merujuk pidato tersebut, Arif mengatakan, Jokowi memastikan akan melakukan debirokratisasi, deregulasi, meningkatkan sumber daya alam, dan membangun sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, serta melanjutkan infrastruktur.

"Itu semua prasyarat untuk masuknya investasi di Indonesia. Itu semua permasalahan klasik yang selama ini memang menggerogoti daya saing kita," ujar Arif.