close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi sampah makanan (food waste). Shutterstock
icon caption
Ilustrasi sampah makanan (food waste). Shutterstock
Bisnis
Rabu, 22 Desember 2021 13:31

Kelola sampah, Jabar berdayakan para ibu

Berdasarkan data KLHK Februari 2019, Indonesia menghasilka 64 juta ton timbunan sampah setiap tahunnya.
swipe

Para ibu dinilai memiliki peran penting dalam menggerakkan ekonomi sirkular secara nasional, khususnya pengelolaan sampah rumah tangga. Ini menjadi alasan Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) mengajak para ibu berpartisipasi dalam program sehat lingkungan.

Sekretaris Daerah (Sekda) Jabar, Setiawan Wangsaatmaja, mencontohkan dengan para ibu yang mendorong anggota keluarganya untuk mengurangi atau memilah sampah, menyediakan fasilitas sampah, dan mengedukasi anggota keluarga tentang pentingnya pengelolaan sampah sejak dari rumah. 

"Peran-peran ibu-ibu sangat tinggi. Bagi yang keseharian di rumah ataupun yang dibantu asisten rumah tangganya, bisa memberikan arahan-arahan kepada yang ada di lingkungan rumah," ucapnya dalam webinar bertema "Peran Ibu dalam Mengurangi Sampah", Rabu (22/11).

Jumlah penduduk di "Bumi Pasundan" nyaris sekitar 50 juta jiwa. Hal tersebut berpotensi membuat Jabar dilanda masalah persampahan jika masyarakat tidak bijak dalam mengelolanya.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Februari 2019, Indonesia menghasilkan 64 juta ton timbunan sampah setiap tahun. Dari jumlah tersebut, 60% di antaranya merupakan sampah organik dan 14% lainnya sampah plastik. 

"Kalau kita tumpukan, itu jauh lebih tinggi dari Monumen Nasional [Monas] di Jakarta. Hal ini masalah karena lahan kita untuk menampung sampah [terbatas]. Apabila tidak dikelola sebelumnya, itu tidak pernah akan cukup memenuhi harapan kita," tuturnya Setiawan.

Meski demikian, menurutnya, Indonesia memiliki peluang untuk menyelesaikan masalah persampahan mengingat mayoritasnya berupa organik. Itu bisa diurai dengan bakteri pengurai.

"Kita bisa mengolah sampah yang organik ini, misalnya, sejak dari rumah. Yang plastik bisa kita pilah, lalu kemudian sekarang sudah banyak bank-bank sampah yang mengambil dan deliver ke tempat-tempat pengolahan, khususnya untuk plastik," ucapnya.

"Sekarang sudah banyak juga perusahaan-perusahaan, misalnya, yang bisa mengambil sifatnya electronic waste. Tapi, yang terpenting, bagaimana kita bisa mengelola dari rumah sebelum dibawa transporter," imbuhnya.

Selain sampah organik dan plastik, lanjut Setiawan, sampah makanan (food waste) juga menjadi problem. Saat ini, Indonesia berpredikat sebagai pembuang sampah makanan terbesar kedua di dunia setelah Arab Saudi. 

Berdasarkan Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) 2020, sekitar 50,8% rumah tangga di Indonesia tidak memilah sama sekali sampah, sementara 48,2% lainnya sudah mulai memilah.

Dari hasil survei, sekitar 79% rumah tangga merasa repot untuk memilah sampah, 17% beranggapan sampah akan tercampur kembali di TPS/TPA, 3% menganggap tidak ada manfaat, dan alasan lainnya sebanyak 1%.

"Barangkali budaya tidak ingin repot ini bagaimana sekarang hasil webinar ini, ibu-ibu bisa memengaruhi atau menjadi agent of change. Yang tidak ingin repot kita jadikan mereka-mereka ini bisa mengubah mindset, bahwa kita harus memilah sampah rumah tangga," ujarnya.

Setiawan mengatakan, potensi ekonomi dari pengelolaan sampah terbilang besar. Dicontohkannya dengan hasil pengelolaan sampah plastik menjadi campuran cairan aspal. Sebanyak 3-5 ton sampah plastik dapat diolah menjadi jalan sepanjang 1 km.

"Sampah yang telah dipilah dengan baik dapat memberi keuntungan dan menciptakan ekonomi sirkular dari pengolahan sampah," jelasnya.

Selain itu, dari 15 ton sampah plastik mampu menghasilkan 7,5 megawatt. Lalu, cacahan biji plastik dapat diolah menjadi botol dan gelas plastik dengan omzet usaha hingga ratusan juta rupiah per bulan. 

"Intinya, kita ingin mengubah paradigma pengelolaan sampah dengan mengurangi sampah. Yang utama reduce, reuse, recycle. Kuncinya sosialisasi dan edukasi," paparnya.

"Terakhir, baru menangani sampah mulai dari pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, pemrosesan akhir. Inilah dibutuhkan kerja sama dengan banyak pihak," imbuhnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jabar, Prima Mayaningtyas, menambahkan, satu warga Jabar dapat menghasilkan sekira 0,497 kg/orang/hari sampah. Jika diakumulasikan, ada kurang lebih 24.790 ton sampah dihasilkan setiap harinya.

Dari jumlah tersebut, 43% sampah organik, 15% sampah plastik, 11% sampah kertas, 2% sampah logam, 0,9% sampah karet, 2% sampah kain, 3% sampah kaca, dan 11% sampah lain-lain.

Prima menuturkan, pihaknya menargetkan pengurangan 30% sampah pada 2025. Dalam skala regional, Jabar saat ini baru mampu mengurangi sampah sebesar 6,52%.

"Peran besar dari ibu rumah tangga mengurangi dari sumbernya. Adapun peran ibu-ibu bagaimana mengurangi secara aksi dan mengedukasi anggota keluarga dan masyarakat sekitar. Kami berharap, webinar ini memberi wawasan," urainya.

Dia menyebut, ibu adalah potensi besar dalam menekan jumlah sampah di Jabar. Apalagi, terdapat 52.193 RW, 5.312 desa, dan 645 kelurahan di Jabar.

Pada kesempatan sama, Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Jabar, Dwina Roosmini Setiawan, berkeinginan para ibu mengubah perspektifnya soal sampah, khususnya pengelolaan sampah rumah tangga. Harapannya, memiliki peran sentral dalam rumah tangga yang siap menjadi agen perubahan.

"Kami [ibu-ibu] ini bisa ditunjuk, diberdayakan, sebagai agent of change untuk perubahan perilaku. Perubahan perilaku hal yang sangat penting dalam pengelolaan persampahan ataupun dalam instrumen pengelolaan lingkungan secara umum," tutur Dwina.

Dalam membentuk pola pikir (mindset) kesadaran dalam pengelolaan sampah tersebut, sejumlah hal yang perlu ditekankan. Risk awareness, health knowledge, personal norm, social support, dan action knowledge, misalnya.

img
Ratih Widihastuti Ayu Hanifah
Reporter
img
Fatah Hidayat Sidiq
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan