close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. (SRTG) milik Sandiaga Uno dan Edwin Soeryadjaya meraup laba bersih Rp3,17 triliun hanya dalam 6 bulan. / Perseroan
icon caption
PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. (SRTG) milik Sandiaga Uno dan Edwin Soeryadjaya meraup laba bersih Rp3,17 triliun hanya dalam 6 bulan. / Perseroan
Bisnis
Selasa, 30 Juli 2019 21:29

Laba Saratoga milik Sandiaga Uno meroket jadi Rp3,17 triliun

PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. (SRTG) milik Sandiaga Uno dan Edwin Soeryadjaya meraup laba bersih Rp3,17 triliun hanya dalam 6 bulan.
swipe

PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. (SRTG) milik Sandiaga Uno dan Edwin Soeryadjaya meraup laba bersih Rp3,17 triliun hanya dalam waktu 6 bulan. 

Manajemen perusahaan investasi itu berhasil membalik kinerja menjadi gemilang pada paruh pertama tahun ini. Pada periode yang sama tahun lalu, Saratoga justru harus menelan pil pahit akibat menderita rugi hingga Rp1,3 triliun.

Presiden Direktur Saratoga Michael W.P. Soeryadjaya mengatakan penguatan saham perusahaan investasi pada semester I-2019 menunjukkan portofolio SRTG memiliki fundamental yang sangat positif dan prospek bisnis jangka panjang.

"Kami bersyukur kinerja Saratoga selama semester I-2019 terus menunjukkan pertumbuhan yang menjanjikan. Strategi investasi yang disiplin dan fokus pada sektor-sektor penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah kunci kinerja Saratoga semakin solid," kata Michael dalam keterangan resmi yang diterima Alinea.id, Selasa (30/7).

Saratoga tercatat memiliki portofolio saham di PT Adaro Energy Tbk. (ADRO), PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG). Saham-saham emiten tersebut diklaim melampaui pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Dari lonjakan harga saham, Saratoga meraup keuntungan bersih pada paruh pertama tahun ini senilai Rp2 triliun. Hal itu dihitung dari mark-to-market investasi.

Untuk itu, emiten investasi bersandi saham SRTG itu meraup pendapatan dividen Rp1,6 triliun dan laba bersih Rp3,17 triliun. Laba bersih ini disumbang dari sektor investasi sumber daya alam sebesar Rp1,7 triliun, melesat 228,4% dari Rp523 miliar year-on-year (yoy).

Kemudian, sektor infrastruktur yang mencatatkan kerugian pada paruh pertama 2018, mulai meraih cuan pada semester I-2019 ini. Tercatat sektor ini menyumbang laba bersih senilai Rp272 miliar tahun ini, setelah rugi sebesar Rp2,169 triliun pada paruh pertama 2018.

Berbalik dengan investasi infrastruktur, investasi Saratoga di produk konsumen malah mengalami kerugian paruh pertama 2019 ini. Saratoga mencatatkan kerugian bersih senilai Rp109 miliar dari sektor ini setelah pada paruh pertama tahun 2018 mencatatkan untung Rp45,174 miliar.

Sementara itu, jumlah aset perusahaan milik Sandiaga Uno ini juga mengalami kenaikan sebesar 14,6% menjadi Rp23,051 triliun per 30 Juni 2019, dari Rp20,114 per 31 Desember 2018. 

Kemudian, jumlah liabilitas Saratoga pun bertambah 7,6% menjadi Rp4,468 triliun per 30 Juni 2019, dari Rp4,150 triliun year-to-date (ytd). 

Untuk diketahui, investasi Saratoga pada tiga sektor utama, yaitu sumber daya alam, infrastruktur, dan konsumen mencakup lebih dari 20 perusahaan dengan manajemen risiko yang prudent pada semua tingkatan portofolio.

Michael pun optimistis terhadap prospek jangka panjang ekonomi nasional jika iklim investasi dan ekonomi Indonesia akan terus berkembang. "Ini adalah peluang bagi Saratoga untuk mengambil inisiatif investasi secara disiplin, bijaksana dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Michael.

Direktur Investasi Saratoga Devin Wirawan menjelaskan, sebagai perusahaan investasi aktif, Saratoga akan terus mengambil inisiatif untuk memperluas portofolio investasinya, baik dalam proyek investasi baru dan perusahaan yang telah memasuki fase pertumbuhan.

Rencana strategis Saratoga antara lain adalah membantu proses pelaksanaan pendanaan MDKA untuk melanjutkan pengembangan tambang emas dan mineral di Banyuwangi. Pendanaan ini dilakukan melalui penerbitan 215 juta saham baru (non-pre-emptive rights) dengan harga Rp3.980 per saham yang telah diselesaikan pada tanggal 18 Juli 2019.

Kemudian di sektor konsumen, Saratoga juga terus mendukung ekspansi PT Famon Awal Bros Sedaya (FABS), Grup Rumah Sakit Awal Bros. Pekan ini, FABS akan meluncurkan Rumah Sakit baru di Bekasi Utara. Rumah sakit ini akan menjadi rumah sakit kedelapan di bawah bendera FABS.

"Kami juga ingin mendukung program pemerintah dalam menyediakan layanan kesehatan publik berstandar internasional. Rumah Sakit Awal Bros adalah kelompok rumah sakit swasta dengan akreditasi internasional tertinggi, Joint Commission International (JCI) di Indonesia," jelas Devin.

Saham SRTG pada penutupan perdagangan hari ini, seperti dikutip dari Bloomberg, tercatat menguat 1,42% sebesar 50 poin ke level Rp3.570 per lembar saham. Saham Saratoga memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp9,685 triliun.

img
Annisa Saumi
Reporter
img
Sukirno
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan