logo alinea.id logo alinea.id

Mendorong potensi industri kreatif subsektor film

Hal penting yang perlu diperhatikan pelaku usaha kreatif, yakni memasarkan produk atau hasil karya kreatifnya.

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Kamis, 31 Jan 2019 16:00 WIB
Mendorong potensi industri kreatif subsektor film

Saat ini, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf)—lembaga pemerintah non-kementerian di bawah Kementerian Pariwisata—menaungi 16 subsektor ekonomi kreatif. Masing-masing subsektor memiliki ekosistem bisnis yang berbeda-beda. Salah satu subsektor yang tengah berkembang adalah film, animasi, dan video.

Bekraf belum maksimal

Salah seorang pelaku industri kreatif di subsektor film, animasi, dan video, Maulana Faris mengatakan, banyak kreator Indonesia yang sudah punya kemampuan level internasional di bidang film, komik, maupun gim.

Maulana bergerak di bidang komik daring. Menurut dia, sebagian dari pelaku industri kreatif bekerja untuk perusahaan besar di luar negeri, dengan penghasilan melimpah.

"Untuk dunia komik Indonesia sedang menjadi ladang yang amat menggiurkan. Komikus Indonesia bisa menghasilkan Rp5 juta hingga Rp10 juta per bulan untuk komik webtoon (daring), meski tidak punya ijazah SD sekalipun," ujarnya saat dihubungi reporter Alinea.id, Rabu (30/1).

Komikus webtoon berjudul Cipid+ ini menilai, tren industri komik di Indonesia meningkat usai ada komik webtoon masuk ke Indonesia. Namun, gejala ini sudah mulai terlihat sejak kemunculan media sosial.

Maulana mengaku belum pernah memanfaatkan keberadaan Bekraf secara langsung. Namun, dia mengatakan, Bekraf penting ada di Indonesia, meski masih banyak yang harus dievaluasi.

Festival Film Indonesia 2013 di CGV Yongsan. (Antara Foto/bekraf.go.id).

Maulana berharap, industri kreatif di masa depan lebih terintegrasi, dan ada kerja sama antarbidang. ”Misalnya, industri komik dan film semakin masif bekerja sama,” kata Maulana.

Pelaku industri kreatif lainnya, Sofyana Ali Bindiar yang menjadi anggota Bandung Film Council mengaku, industri kreatif memang sedang berkembang, seiring perkembangan digital. Menurutnya, secara produksi, film nasional memang berkembang. Namun, efeknya banyak antrean masuk bioskop.

Meski begitu, hal tadi tak menghalangi para sineas berkarya. Produser saat ini punya alternatif kanal untuk menonton, seperti Youtube, Iflix, atau Viu. Beberapa karya sineas dalam negeri pun sudah memperoleh pengakuan nasional maupun internasional.

“Pemerintah, lewat Bekraf mendukung karya-karya kami,” kata Sofyana, yang akrab disapa Ale, ketika dihubungi, Rabu (30/1).

Akan tetapi, dia mengakui, keberadaan Bekraf untuk membantu para pelaku industri kreatif belum maksimal.

"Inisiatifnya baik, tujuannya baik, tapi implementasi di lapangannya masih perlu dicarikan solusi. Diharapkan, dengan pembentukan Komisi Film Daerah, Bekraf sudah hadir dengan solusinya. Saat ini masih dalam tahap pembentukan dan mencari celah value yang bisa didagangkan kepada investor," ujarnya.

Ale optimis, konten lokal selalu punya ruang tersendiri bagi penontonnya. Tantangannya, menurut dia, dalam hal meningkatkan kualitas produksi, cerita, dan promosi. Sineas alumnus Universitas Padjadjaran itu mengatakan, sudah meraup pendapatan dari lima film pendek, satu series di Youtube, dan dua dokumenter.

Hellboy: Film superhero dengan banyak lubang

Hellboy: Film superhero dengan banyak lubang

Sabtu, 20 Apr 2019 19:01 WIB
 Prabowo dan halusinasi kuasa

Prabowo dan halusinasi kuasa

Kamis, 18 Apr 2019 20:53 WIB