sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Merger XL Axiata dan Telenor tersandung kampanye negatif sawit

XL Axiata dan perusahaan telekomunikasi jumbo asal Norwegia Telenor akan melakukan merger.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Jumat, 06 Sep 2019 11:14 WIB
Merger XL Axiata dan Telenor tersandung kampanye negatif sawit

Proses merger dua raksasa telekomunikasi PT XL Axiata Tbk. (EXCL) dan Telenor Norwegia yang saat ini masih dalam tahap due diligence masih terus berlanjut walau diterpa sentimen sawit.

Sebab, seperti diketahui Uni Eropa membatasi impor minyak sawit Indonesia dan Malaysia karena tidak ramah lingkungan.

Direktur Keuangan XL Axiata Mohamed Adlan bin Ahmad Tajudin mengatakan banyak sentimen yang muncul dalam proses merger ini, salah satunya isu sawit.

"Tapi Norwegia bukanlah bagian dari Uni Eropa (UE), mata uangnya saja pakai Krona, bukan Euro," kata Adlan di XL Axiata Tower, Jakarta, Kamis (5/9).

Adlan melanjutkan, deal antara Axiata dan Telenor ini memang sangat kompleks dan dibutuhkan waktu lebih lama dari tiga bulan.

Hal senada disampaikan oleh Direktur Utama XL Axiata Dian Siswarini. Kata Dian, proses merger tersebut masih terus berlanjut sampai saat ini.

Dian menjelaskan, merger ini merupakan merger yang sangat besar di level Asia, bahkan menjadi salah satu merger terbesar di dunia.

"Barangkali salah satu yang terbesar ya, bahkan di dunia salah satu merger terbesar. Jadi kita bisa bayangkan kompleksitasnya seperti apa," tutur Dian.

Sponsored

Dian mencontohkan, pengalamannya merger di satu negara dengan Axis itu sangat merepotkan. Apalagi, kata Dian, merger yang akan dilakukan oleh Axiata dan Telenor ini akan dilakukan di beberapa negara dan beberapa pasar.

"Saat ini Axiata berada di tujuh negara, sementara Telenor berada di sembilan negara," kata Dian.

 Terlepas dari isu sawit, kata Dian, intensi agar merger tersebut terjadi baik Telenor maupun Axiata masih sangat tinggi.