sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Pendapatan Astra International turun tersengat Covid-19

Lini bisnis yang tercatat masih menunjukkan pertumbuhan laba bersih hanya agribisnis.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Rabu, 29 Jul 2020 18:12 WIB
Pendapatan Astra International turun tersengat Covid-19
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 130718
Dirawat 39017
Meninggal 5903
Sembuh 85798

PT Astra International Tbk. (ASII) mencatatkan penurunan pendapatan bersih hingga 23% sepanjang semester I-2020 menjadi sebesar Rp89,7 triliun pada semester I-2020. Pendapatan itu turun dari Rp116 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Presiden Direktur Astra International Djony Bunarto Tjondro dalam keterangan resminya mengatakan kinerja bisnis dan keuangan grup Astra sangat terdampak secara signifikan akibat pandemi Covid-19, terutama pada kuartal II.

"Langkah-langkah penanggulangan pandemi yang diterapkan di sebagian besar wilayah Indonesia telah berdampak kepada operasi grup secara substansial," kata Djony, Rabu (29/7).

Menurut Djony, langkah untuk penanggulangan pandemi yakni penutupan sementara kegiatan manufaktur dan distribusi otomotif, serta terdapat peningkatan secara signifikan jumlah pinjaman yang direstrukturisasi dalam bisnis jasa keuangan grup. Selain itu, lanjutnya, penurunan harga batu bara menekan bisnis alat berat, kontraktor penambangan, dan pertambangan.

"Pandemi ini, dan langkah-langkah yang diambil untuk mengendalikan dampaknya, diperkirakan akan terus mempengaruhi kinerja hingga akhir tahun," ujarnya.

Pada semester I-2020, grup Astra mencatatkan laba bersih senilai Rp11,4 triliun. Laba bersih tersebut meningkat 16% dibandingkan dengan semester I-2019 sebesar Rp9,8 triliun. Meningkatnya laba bersih perseroan ini disebabkan oleh keuntungan dari penjualan saham di Bank Permata.

Tanpa memasukkan keuntungan penjualan saham ini, laba bersih emiten berkode saham ASII ini bisa menurun 44% menjadi Rp5,5 triliun. Terutama karena penurunan kinerja divisi otomotif, alat berat dan pertambangan, dan jasa keuangan.

Dari seluruh bisnis ASII, lini bisnis yang tercatat masih menunjukkan pertumbuhan laba bersih hanya agribisnis yang tumbuh 791% dan lini bisnis properti yang tumbuh 122%. Sementara lini bisnis lainnya mencatatkan penurunan pertumbuhan laba bersih, dengan lini bisnis otomotif turun paling dalam hingga 79%.

Sponsored

Laba bersih dari divisi otomotif ASII menurun 79% menjadi Rp716 miliar, terutama karena penurunan volume penjualan yang signifikan pada kuartal II.

Sementara laba bersih bisnis jasa keuangan ASII juga menurun 25% menjadi Rp2,1 triliun selama semester I-2020. Penurunan ini terutama disebabkan oleh peningkatan provisi untuk menutupi peningkatan kerugian kredit bermasalah pada bisnis pembiayaan konsumen dan alat berat.

Kemudian, laba bersih ASII dari divisi alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi menurun sebesar 29% menjadi Rp2,4 triliun. Penurunan disebabkan oleh penjualan alat berat dan volume kontrak penambangan yang lebih rendah, akibat melemahnya harga batu bara.

Untuk laba bersih dari divisi agribisnis ASII mencapai Rp312 miliar, meningkat secara signifikan dibandingkan laba bersih pada semester I-2019, karena harga minyak kelapa sawit yang lebih tinggi.

Lalu divisi infrastruktur dan logistik grup Astra mencatat rugi bersih Rp88 miliar, dibandingkan dengan laba bersih sebesar Rp83 miliar pada semester I-2019, disebabkan penurunan pendapatan jalan tol. Sedangkan laba bersih dari segmen teknologi informasi grup menurun 64% menjadi Rp16 miliar.

Adapun divisi properti ASII mencatatkan peningkatan laba bersih dari Rp32 miliar menjadi Rp71 miliar. Peningkatan laba bersih ini karena tingkat hunian yang lebih tinggi di Menara Astra dan pengakuan laba dari proyek pengembangan Asta Residences.

Djony menuturkan, selama masa yang penuh tantangan dengan gangguan bisnis dan ketidakpastian, grup Astra akan fokus secara khusus pada pengurangan biaya operasional dan belanja modal, pengelolaan modal kerja, dan kepastian likuiditas.

"Neraca keuangan grup tetap kuat dengan tersedianya komitmen fasilitas pinjaman senilai Rp38,6 triliun," ucapnya.

Berita Lainnya