sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Saat konglomerat Pangestu beli perusahaan energi Rp 10 triliun

PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) milik konglomerat Prajogo Pangestu akhirnya mendapatkan restu untuk membeli perusahaan energi senilai Rp 10 T.

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Rabu, 11 Apr 2018 15:40 WIB
Saat konglomerat Pangestu beli perusahaan energi Rp 10 triliun

PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) milik konglomerat Prajogo Pangestu akhirnya mendapatkan restu untuk membeli perusahaan energi senilai Rp 10 triliun.

Restu tersebut diperoleh dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) yang digelar Rabu (11/4). Pemegang saham memberikan restu kepada perseroan untuk mencari sumber pendanaan bagi aksi korporasi itu.

RUPSLB memberikan restu penerbitan saham baru dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dauhulu (HMETD) atau rights issue. Emiten sektor petrokimia dan energi itu akan mengantongi dana dari rights issue senilai US$1 miliar atau setara Rp 13,7 triliun (kurs Rp13.700 per dollar AS).

Direktur Utama Barito Pacific Agus Salim Pangestu mengatakan perseroan telah mendapatkan izin dari pemegang saham untuk dua aksi korporasi. Di antaranya, rights issue dan persetujuan akuisisi Star Energy Group Holdings Pte. Ltd.

"Kami harapkan bisa mendapat dana sebanyak-banyaknya US$1 miliar, yang akan digunakan untuk mendukung pengembangan usaha Barito Pacific," katanya usai RUPSLB kepada awak media.

Hampir 100% pemegang saham diklaim menyetujui rencana aksi korporasi yang digelar oleh manajemen Barito Pacific. Emiten bersandi saham BRPT tersebut segera menerbitkan 5,6 miliar saham baru dan 1,4 miliar waran dengan nilai nominal Rp 500 lembar. 

Dari target raihan dana US$1 miliar, perseroan akan menggunakan dana US$755 juta atau setara Rp 10,3 triliun untuk mengakuisisi 66,67% saham Star Energy Groups Holdings Pte. Ltd. Star Energy merupakan perusahaan yang bergerak di sektor energi panas bumi.

Manajemen menjelaskan, akuisisi perusahaan Star Energy dilakukan dengan tujuan untuk melebarkan sayap bisnis penyediaan listrik yang diperoleh dari panas bumi. Diversifikasi usaha itu akan menyokong bisnis utama perseroan yang selama ini telah ada, yakni petrokimia melalui PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA).

Sponsored

Agus menambahkan, dengan masuknya Star Energy ke dalam konsolidasi Grup Barito, maka struktur usaha perseroan akan semakin lengkap, serta menjadikan BRPT sebagai kelompok usaha berbasis energi panas bumi dan petrokimia yang terintegrasi dan terbesar di Indonesia. 

"Kedua sektor usaha tersebut, tentunya akan menjadi penopang utama dalam mendukung pertumbuhan bisnis perseroan,” tuturnya.

Rencananya, rights issue akan digelar pada 1-26 Juni 2018. Manajemen BRPT bakal mengantongi dana hasil rights issue pada Juli 2018. Menjelang penutupan perdagangan hari ini, Rabu (11/4), saham BRPT naik 2,07% sebesar 50 poin ke level Rp 2.420 per lembar.

Tidak hanya ke sektor energi panas bumi, perusahaan milik konglomerat Prajogo Pangestu ini juga menggurita ke sektor pembangkit listrik batu bara. Barito Pacific mendirikan anak usaha PT Indo Raya Tenaga.

Barito Pacific mendirikan usaha patungan melalui anak usaha Barito, PT Barito Wahana Lestari dengan anak usaha PT Indonesia Power yaitu PT Putra Indo Tenaga. 

Nantinya, PT Indo Raya Tenaga akan membangun pembangkit listrik Jawa 9 dan Jawa 10. Dua pembangkit listrik Ultra Supercritical Coal-Fired Power Plant berbahan bakar batu bara tersebut diharapkan bisa menghasilkan listrik sebesar 2x1.000 megawatt (MW).

Adapun, emiten yang kini masih ditopang oleh sektor petrokimia itu meraup laba bersih US$279,9 juta, setara Rp 3,7 triliun pada 2017. Perolehan itu terbilang stagnan dari tahun sebelumnya yang masih ditopang oleh TPIA.

BRPT mengantongi pendapatan bersih US$2,45 miliar atau Rp 33 triliun pada tahun lalu. Perolehan itu melonjak 25,1% bila dibandingkan dengan pendapatan pada periode 2016 yang mencapai US$1,9 miliar.