logo alinea.id logo alinea.id

Sisi lain keluarga Pierre Tendean

Pierre Tendean berasal dari keluarga dokter, tak ada satu pun keluarganya yang berprofesi sebagai tentara.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Kamis, 18 Apr 2019 14:48 WIB
Sisi lain keluarga Pierre Tendean

Setelah menjadi korban peristiwa Gerakan 30 September 1965, nama Kapten Czi (Anumerta) Pierre Andries Tendean, dikenang sebagai nama sebuah jalan, gedung, simbol militer, bahkan ikon patriotisme.

Sekilas, bila melihat wajah rupawannya—berparas Kaukasian dan berambut kecokelatan—Tendean punya garis keturunan Eropa. Ia memang lahir dari pasangan Aurelius Lammert Tendean (AL Tendean) yang berdarah Minahasa dengan Maria Elizabeth Cornet yang keturunan Prancis-Belanda.

Keluarga Indo-European

Djoko Soekirman dalam bukunya Kebudayaan Indis: Dari Zaman Kompeni sampai Revolusi (2011), kedudukan dan sebutan seorang keturunan Eropa di Hindia Belanda ditentukan berdasarkan tempat kelahirannya. Akan tetapi, tulis Djoko, lambat laun berbagai sebutan seorang keturunan Eropa hilang, digantikan istilah Indo-European.

Pierre termasuk ke dalam keturunan Indo-European ini. Keluarga Indo-European di Hindia Belanda sudah mengalami proses persilangan secara biologi maupun sosio-kultural (hibridisasi).

Menurut Pradipto Niwandhono dalam buku Yang Ter(di)lupakan: Kaum Indo-Eropa dan Benih Nasionalisme Indonesia (2012), keluarga Indo-European kebingungan dengan identitas peranakan dan terpapar dikotomi penjajah atau terjajah.

Proses identifikasi keluarga Indo-European terperangkap kesadaran sebagai bagian dari Bangsa Indonesia. Sebab, keluarga Indo-European mempertahankan konsep tanah air Hindia Belanda, dengan alasan lahir dan hidupnya bukan di dataran Eropa.

Posisi tawar keluarga Indo-European rendah. Pemerintah Hindia Belanda telah mengkategorikan komunitas peranakan tersebut, setara dengan kaum pribumi. Kenyataan ini membuat sejumlah orang keturunan Indo-European ikut berjuang bersama kaum pribumi.

Sponsored

Hal ini disinggung di dalam buku Pierre Tendean: Jejak Sang Ajudan (2018) karya Ahmad Nowmenta Putra dan Agus Lisna. Menurut mereka, ibu Pierre, Maria Elizabeth Cornet membantu para gerilyawan dalam mempertahankan kemerdekaan.

“Hal yang mengesankan, meski tidak berdarah lahir Indonesia, tetapi Ibu M.E Cornet justru giat mengumpulkan dana dari simpatisan guna membantu perjuangan para gerilyawan untuk mempertahankan kemerdekaan Bangsa Indonesia,” tulis Ahmad Nowmenta Putra dan Agus Lisna dalam bukunya.

Buku karya Ahmad Nowmenta Putra dan Agus Lisna. /instagram.com/realzul

Selain preferensi dan aspirasi politik, proses hibridisasi secara sosio-kultural antara kebudayaan Eropa dan Jawa membuat keluarga Indo-European, seperti keluarga Pierre Tendean, menjadi penganut kebudayaan Indis. Hal ini bisa dilihat dari apa yang disajikan di atas meja makan dalam keluarga Tendean.

“Suatu hari saat merayakan Natal, seperti biasa seluruh anggota keluarga berkumpul di meja makan. Sejumlah hidangan spesial telah tersaji di hari besar tersebut. Selain masakan Indonesia, biasanya sang ibu juga sudah menyediakan speculas (kue mirip rempah yang banyak dikonsumsi di Belanda, Belgia, dan Jerman), biskuit verkade, dan sirup stroop lemonade kesukaan Pierre,” tulis Ahmad Nowmenta Putra dan Agus Lisna.

Faktor lingkungan, aspek geografis, dan situasi ekonomi menentukan permintaan dan kebutuhan bahan makanan setiap daerah, sehingga keluarga Indo-European, seperti keluarga Pierre Tendean sehari-hari memasak resep makanan pribumi.

Namun, pada hari spesial, semestinya masakan yang dihidangkan juga istimewa, dan sisi istimewa sebagai “keturunan” Eropa turut pula terwujud dalam menu makanannya.

Selain makanan, gaya hidup keluarga Indo-European juga mengadopsi kebudayaan Indis dari segi bahasa keseharian. Menurut Djoko Soekiman, anak-anak Indo-European dari keluarga terpandang seperti keluarga Pierre Tendean juga menggunakan bahasa campuran—atau dalam istilahnya Djoko disebut petjoek—tetapi tidak boleh digunakan di rumah.

Sebab, bahasa petjoek dinilai kurang sopan. Bahasa yang tepat digunakan untuk berbincang dengan orang tua adalah bahasa Belanda.

“Dalam percakapan sehari-hari, kami memang mempergunakan Bahasa Jawa, kecuali pada orang tua, terkadang kami semua berbahasa Belanda,” ujar Mitzi Tendean, dikutip dari buku Ahmad Nowmenta Putra dan Agus Lisna.

Membelot jadi tentara

Garis keturunan Pierre merupakan keluarga dokter. Ayah Pierre, AL Tendean merupakan lulusan Indisch Arts Lodewijk Huliselan.

Surat kabar De Indische Courant edisi 22 November 1935 melaporkan, ia sudah membuka praktik medis. Ia bersama Tardjo, Soeprapto Sosrodimedjo, Djauharsjah Jenie, dan Liem Khe Tyong direkomendasikan bagi pasien yang hendak berkonsultasi terkait praktik bedah, kandungan, serta obat-obatan penyokong kegiatan olahraga.

Pierre lahir pada 21 Februari 1939 di Batavia. Saat Pierre masih anak-anak, gara-gara profesi dokternya, AL Tendean berulang kali mengajak keluarganya hijrah dari satu kota ke kota lainnya. AL Tendean pindah dari Batavia ke Tasikmalaya untuk melaksanakan tugas memberantas penyakit malaria.

Ketika ia jatuh sakit, AL Tendean ikut memboyong keluarganya ke Sanatorium Cisarua, Buitenzorg (kini Bogor). Kemudian, dari Kota Hujan itu, AL Tendean membawa keluarganya ke Magelang, karena ia diangkat menjadi wakil direktur di Rumah Sakit Jiwa Kramat. Setelah AL Tendean diangkat menjadi kepala Rumah Sakit Jiwa Pusat (Tawang) Semarang, keluarganya pun ikut pindah.

“Pierre tak bisa berlama-lama menetap di kota kelahirannya, ia melewati masa kecil yang nomaden dan bertemu dengan karakter manusia serta budaya baru, menjadikan Pierre dan saudara-saudaranya tumbuh dengan pribadi yang mudah beradaptasi,” tulis Ahmad Nowmenta Putra dan Agus Lisna dalam bukunya.

Selain ayahnya, kakak ipar Pierre, AS Tendean juga lulusan Sekolah Pendidikan Dokter Hindia (School tot Opleiding van Indische Artsen/STOVIA). Bataviasch Nieuwsblad edisi 14 Mei 1926 melaporkan AS Tendean yang lulus ujian transisi dan berhak naik ke tingkat dua, bersama calon dokter pribumi, keturunan Indo-European, dan keturunan Tionghoa.

Ayah Pierre pun ingin anaknya menjadi seorang dokter. AL Tendean menyarankan Pierre ikut jejak kakak iparnya untuk belajar di STOVIA. Namun, Pierre justru melenceng dari keinginan ayahnya. Ia memilih terjun ke dunia militer.

Ahmad Nowmenta dan Agus Lisna menulis, dari silsilah keluarga tak ada satu pun yang menggeluti profesi sebagai seorang militer. Keinginan Pierre itu awalnya tak diamini kedua orang tua Pierre.

“Dr. AL Tendean misalnya, besar harapannya untuk sang anak melanjutkan profesi dokter yang digelutinya,” tulis Ahmad Nowmenta Putra dan Agus Lisna.

Mencari keadilan tragedi kerusuhan 22 Mei

Mencari keadilan tragedi kerusuhan 22 Mei

Minggu, 26 Mei 2019 02:15 WIB
Ambu: Konflik 3 generasi dan adat Suku Baduy

Ambu: Konflik 3 generasi dan adat Suku Baduy

Sabtu, 25 Mei 2019 11:56 WIB