sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Merger Axiata dan Telenor batal, saham EXCL diburu asing

Batalnya rencana merger itu setelah negosiasi yang berlangsung selama lebih dari empat bulan.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Senin, 09 Sep 2019 13:57 WIB
Merger Axiata dan Telenor batal, saham EXCL diburu asing

Induk PT XL Axiata Tbk. (EXCL), Axiata Group sepakat mengakhiri pembicaraan terkait proses merger mereka dengan Telenor ASA Norwegia.

Dalam keterangan tertulisnya di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (9/9), keputusan batalnya rencana merger itu setelah negosiasi yang berlangsung selama lebih dari empat bulan. Kedua pihak telah bekerja hingga proses due diligence dan perjanjian finalisasi transaksi yang akan diselesaikan pada kuartal III-2019.

"Karena beberapa kompleksitas dalam proses transaksi ini, kedua pihak sepakat mengakhiri diskusi merger ini," kata Corporate Secretary EXCL Murni Nurdini, dalam keterangannya, Jumat (6/9).

Sebelumnya, pada Mei lalu Axiata dan Telenor berencana menggabungkan aset telekomunikasi mereka di Asia. Keduanya berencana membuat holding company,  di mana Telenor akan memegang saham mayoritas 56,5%, sedangkan Axiata akan memegang 43,5%. 

Kamudian, proses merger dua raksasa telekomunikasi Axiata dan Telenor Norwegia ini pun sempat diterpa sentimen isu sawit. Sebab, seperti diketahui Uni Eropa membatasi impor minyak sawit Indonesia dan Malaysia karena tidak ramah lingkungan. 

Batalnya merger dua raksasa telekomunikasi ini membuat investor asing masuk memborong saham XL Axiata. Tercatat, asing membeli saham XL hingga Rp25,61 miliar di semua pasar hingga sesi perdana perdagangan saham, hari ini, Senin (9/9).

Sementara, saham emiten berkode EXCL tersebut pada penutupan perdagangan sesi pertama, Senin (9/9), bergerak volatil sebelum akhirnya ditutup pada level Rp3.220 atau stagnan dari harga pembukaan.

Head of Research Narada Asset Management Kiswoyo Adi memperkirakan, saham sektor telekomunikasi masih stabil tahun ini. 

Sponsored

"Saham sektor telekomunikasi sudah mature, saat ini tidak ada faktor pendorong yang dapat mengerek saham sektor ini," ujar Kiswoyo kepada Alinea.id.