close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Industri manufaktur atau pengolahan masih memberikan kontribusi paling besar terhadap nilai ekspor nasional. Foto Antara/dokumentasi
icon caption
Industri manufaktur atau pengolahan masih memberikan kontribusi paling besar terhadap nilai ekspor nasional. Foto Antara/dokumentasi
Bisnis
Jumat, 06 Mei 2022 08:21

Menperin: Sektor manufaktur mengalami perbaikan 8 bulan berturut-turut

Para pelaku usaha di sektor manufaktur Indonesia secara umum tetap optimistis dengan laju ekspansi di masa mendatang.
swipe

Produktivitas di sektor manufaktur terus tumbuh seiring dengan meningkatnya permintaan baru dari pasar. 

Fase ekspansi ini berdasarkan hasil S&P Global Survey yang bersumber dari data Manufacturing Purchasing Managers' Index (PMI) Indonesia April 2022 sebesar 51,9, naik dari 51,3 pada Maret.

Menperin gus Gumiwang menjelaskan, mengacu pada laporan S&P Global, sektor manufaktur Indonesia masih tumbuh relatif cepat di April. Hal ini telah mempercepat perbaikan kondisi ekonomi sambil meningkatkan lapangan kerja dan aktivitas pembelian.

“Jadi, hasil PMI ini mewakili perbaikan kondisi bisnis seluruh sektor manufaktur di Indonesia selama delapan bulan berturut-turut, dengan tingkat perbaikannya yang tercepat sejak bulan Januari lalu,” ungkapnya.

Para pelaku usaha di sektor manufaktur Indonesia secara umum tetap optimistis dengan laju ekspansi di masa mendatang. Hal ini juga didukung oleh konsumsi masyarakat dan permintaan ekspor yang lebih kuat, yang diperkirakan tetap positif ke depan.

“Karena permintaan yang lebih kuat selama Ramadhan dan Idul Fitri, sejalan dengan cuti bersama dan kebijakan pulang ke Lebanon, diharapkan keberlanjutan peningkatan kapasitas di sektor manufaktur tetap ada,” kata Agus, seperti dilansir dari laman resmi Kemenperin, Jumat (6/5).

Menperin menambahkan, belanja modal dan jasa harus diarahkan pada produk dalam negeri, seperti yang diarahkan oleh Presiden Joko Widodo. Potensi belanja pemerintah pusat untuk barang dan modal dan jasa sebesar Rp 526 triliun, dibandingkan dengan pemerintah daerah sebesar Rp535 triliun.

“Artinya, total lebih dari Rp1.000 triliun. Sedangkan, anggaran di BUMN Rp420 triliun. Semua angka itu sangat besar sekali, yang perlu dipacu untuk pembelian produk-produk dalam negeri sehingga industri kita dapat tumbuh dan berkembang. Jadi, jangan lagi, hilangkan atau kurangi sebanyak-banyaknya untuk pembelian produk impor,” paparnya.

Kedua, mempercepat proses industrialisasi hilir di China. Mendorong daerah yang memiliki sumber daya mineral untuk segera membangun smelter.

Menanggapi hasil survei PMI manufaktur Indonesia di April, Wakil Direktur Ekonomi di IHS Markit Pan Jingyi mengatakan, perbaikan kondisi ekonomi Indonesia telah meningkat secara nyata dari pertumbuhan permintaan dan produksi manufaktur, dan menjadi lebih kuat.

“Selain itu, telah terjadi peningkatan aktivitas pembelian dan terutama peningkatan jumlah pekerja yang stabil, yang juga terus menunjukkan kepercayaan beberapa perusahaan dalam waktu dekat,” jelasnya.

PMI manufaktur Indonesia April mampu mengungguli China (46,0), Rusia (48,2), Malaysia (51,6), Taiwan (51,7) dan Vietnam (51,7).

 

img
Bessam
Reporter
img
Hermansah
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan