logo alinea.id logo alinea.id

Setelah IPO, Mega Perintis gandeng sistem digital

Sistem digital ini menjadi salah satu strategi dan keunikan perusahaan untuk tetap mendatangkan konsumen ke tokonya

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Senin, 19 Nov 2018 15:30 WIB
Setelah IPO, Mega Perintis gandeng sistem digital

PT Mega Perintis akan menambah 20 gerai baru usai melakukan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO). Rencananya, pengembangan toko-toko baru ini akan menggandeng sistem digital untuk meningkatkan customer experience di toko.

Direktur Utama Mega Perintis FX Afat Adinata Nursalim mengatakan sistem digital ini menjadi salah satu strategi dan keunikan perusahaan untuk tetap mendatangkan konsumen ke tokonya, di tengah maraknya penjualan online belakangan ini.

"Jadi konsumen bisa datang ke offline (toko) dan mereka bisa menemukan toko online kami. Jadi suatu hari nanti kalo sudah cocok, mereka di rumah pun bisa belanja online. Tujuannya sih seperti itu. Adapun digital experiencenya. Jadi sebelum mencoba ke fitting room, bisa mix n match dulu, baru nanti ambil koleksinya dan baru masuk ke fitting room. Itu salah satu uniqueness kami," kata Afat di Thamrin Nine Ballroom, Jakarta, Senin (19/11).

Perusahaan sudah memiliki tiga toko dengan konsep ini dari total 573 toko yang dimilikinya. Sebanyak 102 toko on store dan sisanya 466 out store atau berada di departement store seperti Matahari store.

Sementara, untuk pengembangan toko 20 baru ini perusahaan akan berinvestasi senilai Rp30 miliar, dananya berasal dari hasil IPO dan kas internal perusahaan. Kemudian, untuk mengembangkan konsep toko digital, dana yang dikeluarkan kisaran Rp30 juta- 40 juta per toko.

Tingkat pertumbuhan toko yang sama (same store slaes growth/SSSG) di tokonya di angka 8%-9%. Pertumbuhan ini dinilai cukup baik meski belum bisa mencapai pertumbuhan double digit.

Langkah lain yang dilakukan perusahaan untuk tetap eksis ditengah maraknya penjualan melalui e-commerce adalah dengan bekerja sama dengan sejumlah market place online dan memiliki website penjualan online sendiri.

"Kalau belanja di online, bisa di website kami manzoestore.com dan kami hadir hampir di seluruh market place spt Zalora, Tokopedia, Shopee,  Blibli. Jadi,  kalau search Manzone akan muncul official store kami," jelasnya.

Sponsored

Penjualan melalui sistem online dinilai masih berkontribusi kecil dibawah 5% dari total penjualan perusahaan. Namun targetnya dalam lima tahun ke depan perusahaan menargetkan penjualan online ini akan berkontribusi hingga 20%

Selain itu, Afat menilai saat ini perusahaan yang menjualan pakaian dengan merk Manzone dan MOC ini masih akan berfokus pada pakaian dan aksesoris pria. Namun, tak menutup kemungkinan dalam beberapa tahun ke depan juga akan mengembangkan pakaian wanita.

"Karena pertama kali bisnis ini dibangun dari fesyen pria. Sehingga kompetensi dan kemampyan kami lebih mengenal konsumen pria untuk saat ini. Dan kami melihat dengan fokus ke fesyen pria perusahaan masih bisa bertumbuh. Namun, tidak menutup kemungkinan kami melihat peluang juga dimana nanti ada saatnya kami masuk ke fesyen wanita. Namun melihat roadmap kami setahun kedepan masih fokus ke fesyen pria," paparnya.

Sekadar informasi, penjualan netto Mega Perintis hingga Juni 2018 mencapai Rp 254,91 miliar, dengan laba bersih Rp 29,03 miliar. Penjualan semester I-2018 naik sebesar 14% secara year on year (yoy) dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 223,39 miliar.

Tahun ini perusahaan memproyeksikan pendapatan bisa mencapai Rp 444 miliar dengan proyeksi laba bersih senilai Rp 35 miliar. Pada tahun depan perusahaan menargetkan bisa tumbuh 14% daritahun ini menjadi Rp 507 miliar dengan target laba bersih sebesar Rp 42,5 miliar.