logo alinea.id logo alinea.id

Sri Mulyani: Kelas menengah jadi penggerak ekonomi Indonesia

Pemerintah meyakini masyarakat kelas menengah yang ada saat ini merupakan salah satu faktor utama dalam menggerakan perekonomian Indonesia.

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Selasa, 22 Jan 2019 17:40 WIB
Sri Mulyani: Kelas menengah jadi penggerak ekonomi Indonesia

Pemerintah meyakini masyarakat kelas menengah yang ada saat ini merupakan salah satu faktor utama dalam menggerakan perekonomian Indonesia.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, berdasarkan studi yang dilakukan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (disingkat Kementerian PPN/Bappenas), terhadap kelas menengah, Indonesia bisa menjadi negara tertinggi pertumbuhan ekonominya. 

"Kalau suatu ekonomi punya kelas menengah yang jumlahnya di atas 50 juta (penduduk), Indonesia bisa menjadi The biggest agent of growth, karena kelas menengahnya," kata Sri Mulyani di Forum A1 di Tjikini Lima, Selasa (22/1). 

Ekonom dan Akademisi Universitas Indonesia Muhammad Chatib Basri juga mendukung pernyataan Sri Mulyani. Chatib mengatakan pertumbuhan ekonomi nasional digenjot oleh daya beli masyarkat kelas menengah, yang akhirnya mendorong produksi. 

"Kelas menengah menjadi penting, ini yang saya sebut profesional complainer," ujar Chatib.

Berdasarkan data Bank Indoneisa, saat ini lebih dari 50 juta penduduk Indonesia atau 20% dari populasi, telah masuk dalam kelompok kelas menengah, yaitu mereka yang tidak lagi miskin atau rentan jatuh miskin. 

Sementara itu, 120 juta lainnya atau 45% masuk kelompok aspiring class atau tidak lagi miskin, meski belum memiliki keamanan ekonomi seperti kelas menengah.  

Kedua kelompok ini berupaya untuk meningkatkan kualitas hidup mereka dan mampu mengalokasikan pengeluaran untuk berinvestasi pada pendidikan, kesehatan, hingga modal dan alat produksi. Data terbaru menunjukkan 2/3 penduduk Indonesia bukan lagi tergolong keompok miskin. 

Sponsored

Penguatan populasi kelas menengah ini juga betepatan dengan kehadiran Window of Oppurtunity pada periode 2020-2030, yang diramalkan dapat menyebabkan booming ekonomi dan mendorong Indonesia menjadi negara maju. 

Sementara itu, berdasarkan survei penduduk antar sensus (Supas) 2015, jumlah penduduk Indonesia pada 2019 diproyeksikan mencapai 266,91 juta jiwa. 

Indonesia saat ini sedang menikmati masa bonus demografi di mana jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dari usia tidak produktif, yakni lebih dari 68% dari total populasi.

Adapun penduduk dengan kelompok umur 0-14 tahun (usia anak-anak) mencapai 66,17 juta jiwa atau sekitar 24,8% dari total populasi. 

Kemudian penduduk kelompok umur 15-64 tahun (usia produktif) sebanyak 183,36 juta jiwa atau sebesar 68,7% dan kelompok umur lebih dari 65 tahun (usia sudah tidak produktif) berjumlah 17,37 juta jiwa atau sebesar 6,51% dari total populasi.

Dengan demkian, rasio ketergantungan (dependency ratio) penduduk Indonesia pada tahun ini mencapai 45,56%. Artinya setiap 100 orang yang berusia produktif (angkatan kerja) mempunyai tanggungan 46 penduduk tidak produktir (usia 0-14 tahun ditambah usia 65 tahun ke atas).

Semakin tinggi rasio ketergantungan mengindikasikan semakin berat beban yang harus ditanggung oleh penduduk usia produktif untuk membiayai hidup penduduk tidak produktif.